November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen: Kisah Tragis Sebatang Pohon

Aku tidak tahu. Siapa yang menanam pohon itu. Setahuku pohon mahoni itu sudah ada sejak aku kecil.
Letaknya di seberang rumahku. Di pinggir jalan besar. Jalan yang menghubungkan dua kota.
Di latar belakangnya terhampar persawahan penduduk. Pemandangannya indah sekali. Hawanya juga sejuk. Maka tidak aneh kalau siang hari banyak orang, terutama pengendara motor, yang berhenti di bawahnya. Ngadem.
Aku sendiri tiap pagi dapat menikmati udara segar. Sambil mendengarkan burung-burung yang bernyanyi merdu.
Mereka bukan hanya singgah dan mencari makan. Akan tetapi burung-burung itu membuat sarang dan berkembang biak di atas pohon.
Seperti halnya benerapa kawanan burung. Kerumunan orang di bawah pohon. Berawal dari mangkalnya seorang penjual es kelapa muda. Menjajakan hasil panen kebunnya.
Sambil menikmati segarnya es kelapa muda. Para pejalan itu menikmati semilirnya angin dan hijaunya persawahan penduduk. Suasana yang sudah pasti jarang mereka temukan di kota.
“Es kelapa mudanya, rasanya biasa saja. Tapi pemandangannya yang enak.” begitu kata seorang pejalan yang pernah aku ajak ngobrol.
Setelah jualan pedagang es kelapa muda laris. Pedagang-pedagang lain ikut jualan. Ada pedagang bakso, bakmi, gorengan bahkan mainan anak-anak. Tidak ketinggalan pedagang sayuran. Hasil dari sawah mereka.
“Benar kata orang bijak. Tumbuhan mengundang berkumpulnya makhluk hidup lain.” pikirku.
Satu pohon saja sudah bisa memberi kehidupan kepada banyak orang. Jika semakin banyak pepohonan tentu semakin banyak makhluk hidup yang bisa mendapatkan manfaat dari pohon.
Makanya aku suka sedih. Apabila ada orang yang dengan seenaknya menebang pohon. Atau sekedar menyakiti dengan memasang paku atau mengikat batangnya dengan kawat.
Mereka harusnya sadar bahwasanya adanya bencana banjir atau tanah longsor. Akibat ulah manusia yang semau-maunya menggunduli pepohonan.
*
Cuaca sekarang ini cepat berubah. Sulit ditebak. Sebentar panas. Tiba-tiba hujan deras turun.
Mendung datang ketika seperti biasa banyak orang berkumpul di bawah pohon mahoni. Awan hitan menggelayut.
“Hujan akan turun.” teriak seseorang.
Belum selesai bicara. Hujan deras turun seakan air ditumpahkan dari langit. Mengguyur tanpa ampun orang-orang yang bersantai di bawah pohon.
Angin kencang bertiup. Saking kencangnya menyebabkan tenda-tenda para pedagang roboh. Langit semakin gelap.
Orang-orang kehilangan pandangan.
Awan hitam datang bergulung-gulung. Memutar dengan kencangnya. Menyapu apa saja yang dilewatinya.
Tidak terkeculi pohon mahoni.
“Kraaak!” suara pohon patah. Disertai suara berdentum benda jatuh.
“Tolong. Tolooong.” jerit mereka.
Kondisi makin gelap.
Tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan.

BACA JUGA :   BOLA VOLI

Mas Sam
#selamatharipohonsedunia

MasSam (81)

Bagikan Yok!