November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Pemisahan Agama Dari Politik

Pemisahan agama dari politik.
Di masa dahulu, pimpinan islam berada di tangan tokoh-tokoh yang setiap orangnya patuh sepenuhnya dan setia kepada Nabi Muhammad. Baik secara keimanan, perbuatan, akhlak, pendidikan, kesucian jiwa serta keluhuran budi pekerti. Mengenai kecenderungan fikiran mereka, selera, keinginan dan kesenangan mereka, semuanya telah berubah dan tidak sama dengan keadaan mereka sebelum islam.

Bila orang hendak meneliti dengan cermat perilaku dan budi pekerti mereka. Tentu tidak akan dapat menemukan sisa-sisa sifat kejahiliyahan yang bertentangan dengan semangat islam dan jiwa keislaman. Mereka itu merupakan teladan sempurna bagi kehidupan keagamaan dan kehidupan keduniaan.

Mereka adalah orang-orang yang mengimami shalat-shalat jama’ah. Hakim-hakim yang memutuskan kasus-kasus perkara rakyat berdasarkan ilmu dan keadilan. Mereka adalah orang-orang yang jujur dan terpercaya dalam memelihara harta dan kekayaan kaum muslimin. Mereka adalah penguasa-penguasa pemerintahan yang mampu membenahi administrasi negara., menguasai urusan-urusan kenegaraan dan teguh dalam menegakkan hukum-hukum Allah.

Mereka itu adalah orang-orang yang sangat besar taqwanya, hidup zuhud, pahlawan perjuangan., arif dalam mengambil keputusan hukum dan juga pejabat-pejabat serta politikus-politikus berpengalaman.

Agama dan politik tercermin dalam pribadi seseorang, yaitu Khalifah atau Amirul Mukminin. Khalifah mengajak mereka bermusyawarah dan meminta bantuan mereka. Tidak ada suatu persoalan penting diputuskan tanpa sepengetahuan mereka. Dengan demikian, jiwa dan semangat mereka menjalar masuk kedalam peradaban., kedalam tata-pemerintahan dan tata-kehidupan kaum muslimin, di bidang sosial maupun di bidang moral.

Kecenderungan fikiran dan keinginan-keinginan mereka tercermin di dalam peradaban islam dan ciri-ciri khusus mereka pun tampak di dalamnya. Bagi mereka tidak ada pertentangan antara soal-soal kebendaan, tidak ada pertarungan antara agama dan politik., dan tidak ada pemisahan agama dari urusan keduniaan. Mereka tidak berebut kepentingan dan tidak saling menarik urat leher mempertengkarkan soal-soal prinsip. Mereka tidak kenal adanya saling desak antara keinginan dan budi pekerti., dan tidak kenal persaingan memperebutkan kesenangan.

BACA JUGA :   CURAHAN HATI

Akan tetapi sayang sekali, umat manusia memiliki nasib buruk dengan dipegangnya kepemimpinan., oleh orang-orang atau tokoh-tokoh yang tidak memiliki kesanggupan dan tidak pula mempunyai syarat-syarat yang diperlukan. Mereka tidak mempunyai perbekalan dan persiapan, tidak memperoleh pendidikan akhlak dan keagamaan seperti yang diperoleh para pemimpin terdahulu.

Mereka tidak memperoleh pendidikan islam dalam taraf yang layak untuk memimpin umat islam. Fikiran dan jiwa mereka belum sepenuhnya bersih. Mereka tidak mempunyai semangat berjuang demi kepentingan islam., dan tidak mempunyai kesanggupan berijtihad untuk menanggulangi masalah-masalah keduniaan dan keagamaan. Keadaan seperti itu membuat mereka sangat berat dalam menunaikan tugas kepemimpinan atas umat.

Telah banyak terjadi pemisahan agama dari kehidupan politik. Dimana mereka tidak memiliki ilmu pengetahuan yang dapat membuat mereka tidak sepenuhnya bergantung pada para ulama. Karena itu mereka bertindak semaunya dalam menjalankan hukum dan politik. Bila ada kepentingan mereka minta bantuan kepada para ahli fiqh dan ahli agama yang khusus diangkat sebagau para penasehat. Ahli-ahli fiqh dan agama seperti itu dipergunakan untuk melindungi kepentingan-kepentingan mereka. Bahkan bila perlu, para ahli agama tersebut diperas tenaga dan fikirannya.

Dengan sikap para pemimpin yang seperti itu, politik menjadi bebas sebebas-bebasnya dan lepas dari pengawasan agama. Kekuasaan yang ada di tangan mereka berubah menjadi semacam kekaisaran yang sewenang-wenang atau menjadi semacam kerajaan yang kejam. Politik menjadi semacam unta liar yang tak terkendalikan oleh pengendaranya.

Para ahli ilmu mengambil sikap berlain-lainan. Ada yang menentang pemimpin, ada yang bersikap netral lalu mengasingkan diri., sibuk dengan urusan pribadi dan menutup mata rapat-rapat terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Ada yang putus asa terhadap kemungkinan terjadinya perbaikan. Dan ada yang melancarkan kritik sekedar untuk melegakan perasaan mengenai sesuatu yang ia sendiri tidak mengetahui perkaranya. Adapula yang bekerja sama dengan pemerintah untuk kepentingan apa saja yang diinginkan. Sejak itu benar-benar telah terjadi pemisahan agama dari kehidupan politik.

Bagikan Yok!