November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Mengatasi Overthinking dengan Menulis

Sekarang ini, di masa pandemi covid-19, makin sering saja. Kita lihat orang-orang yang terlihat sering termenung.
Entah memikirkan apa. Bisa jadi mikirin masa depan yang semakin tidak menentu atau kesulitan hidup yang semakin menghimpit.
Bagi orang-orang tertentu, permasalahan seperti itu tidak menjadi masalah berarti. Akan tetapi bagi sebagian orang lainnya, bisa jadi justru jadi masalah besar baginya.
Perbedaan sudut pandang terhadap suatu masalah ini yang dapat menimbulkan permasalahan baru. Terutama kepada orang yang selalu bersikap pesimis, berpandangan negatif dan kecil hati.
Satu permasalahan kecil bagi orang lain, mereka justru memandangnya sebagai persoalan besar. Selalu terbayang-bayang dan menghantui dalam pikirannya.
Orang yang demikian dalam psikologi disebut sebagai overthinking.

Berpikir Secara Berlebihan
Secara sederhana overthinking dapat diartikan sebagai berpikir secara berlebihan. Bukan sebagai penyimpangan tapi hanya sekedar berkaitan dengan perilaku seseorang. Perilaku dalam menyikapi suatu peristiwa atau biasa disebut respon.
Seperti sudah disinggung di atas. Respon setiap orang terhadap suatu peristiwa akan berbeda-beda. Tergantung sikap kesehariannya.
Pada situasi pandemi di mana penularan virus covid-19 bisa terjadi setiap saat dan di mana saja. Jika dirinya batuk-batuk, orang yang berpikiran positif akan bilang barangkali kecapean atau karena masuk angin.
Berbeda dengan mereka yang selalu berpikiran negatif, apalagi sudah terjangkit overthinking. Dirinya sudah ketakutan secara berlebihan terpapar covid-19. Dia terus-memerus mensugesti dirinya terkena covid-19.
Contoh lain akibat pandemi banyak karyawan yang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Bagi yang biasa berpikir positif, inilah saatnya mereka memulai usaha secara mandiri. Berwirausaha dengan uang pesangon yang diterima dari perusahaan.
Sementara bagi yang pesimis dia akan berpikiran jauh. Besok makan dari mana, hidupnya hancur, tidak ada masa depan lagi dan sebagainya dan sebagainya.
Respon yang demikian tentu sangat merugikan diri sendiri. Akan tetapi sudah disampaikan di depan bahwasanya overthinking bukan suatu penyimpangan akan tetapi hanyalah sebuah perubahan perilaku.
Tentu saja perilaku yang selalu berpikir secara berlebihan ini dapat diobati.

BACA JUGA :   Mulai Rapuh

Menulis sebagai Obat
Cara mengobati overthinking yang sangat disarankan adalah: Pertama, lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Kepasrahan kepada Tuhan akan menghilangkan beban yang terasa sangat berat.
Tuhan adalah sebaik-baiknya tempat bersandar.
Kedua, berbicara dengan orang lain yang bisa dipercaya.
Dengan bicara kepada orang lain diharapkan ada solusi terbaik. Setidaknya mengurangi beban bathinnya. Perasaannya jadi lega.
Apabila saran pertama ini tidak bisa dilakukan. Cara mengatasi overthinking yang ketiga adalah dengan menulis.
Seperti halnya ngobrol dengan teman. Menulis juga menumpahkan uneg-uneg kepada orang lain. Hanya saja dalam hal ini dengan media kertas atau gadget.
Bahkan menulis bisa lebih personal sifatnya sehingga lebih bebas untuk mengeluarkan semua beban dalam pikirannya.
Menulis tidak terbatas pada buku harian atau diary. Apabila memungkinkan bisa disalurkan melalui media sosial atau platform kepenulisan yang saat ini banyak bertebaran. Bahkan bisa jadi menjadi ladang baru mengais rizki.
Siapkah?

MasSam (81)

Bagikan Yok!