November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

PERMEN 30

  • PERMEN 30/2021 JELAS LEGALISASI ZINA !*

Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.
Ketua Umum KPAU

1. Memperlihatkan alat kelaminnya dengan sengaja tanpa persetujuan korban; 2. Mengunggah foto tubuh dan/atau informasi pribadi korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban; 3. Menyebarkan informasi terkait tubuh dan/atau pribadi korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban; 4. Menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh korban tanpa persetujuan korban; 5. Membuka pakaian korban tanpa persetujuan korban;

[Kutipan pasal 5 Permendikbud Ristek No. 30/2021]

Saya berani mengatakan Nadiem Makarim adalah menteri jorok berotak mesum. Melalui Permen No. 30/2021 yang ditandatanganinya, siapapun bisa melihat dengan jelas nuansa jorok dan otak mesum yang ada di benak si Nadiem.

Sayangnya, manusia otak mesum ini menjadi menteri. Menteri bidang pendidikan pula. Akan menjadi apa nasib generasi anak bangsa ini, jika menteri pendidikannya berotak mesum ?

Coba kita perhatikan, betapa mesumnya otak sang Menteri :

Pertama, Menteri Nadiem melarang memperlihatkan alat kelamin dengan sengaja tanpa persetujuan. Artinya, jika ada persetujuan menteri Nadiem implisit membolehkan memperlihatkan alat kelamin. Memangnya, dunia pendidikan cuma disibukkan dengan urusan alat kelamin ?

Kedua, Menteri Nadiem melarang mengunggah foto tubuh dan/atau informasi pribadi korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan. Artinya, jika ada persetujuan menteri Nadiem implisit membolehkan mengunggah foto tubuh dan/atau informasi pribadi yang bernuansa seksual. Memangnya, dunia pendidikan cuma disibukkan dengan postingan bernuansa seksual ?

Ketiga, Menteri Nadiem melarang Menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya tanpa persetujuan Artinya, jika ada persetujuan menteri Nadiem implisit membolehkan menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya. Memangnya, sekolah dan kampus mau dijadikan tempat masturbasi ?

BACA JUGA :   Apakah Aku Yang Egois?

Keempat, Menteri Nadiem melarang membuka pakaian tanpa persetujuan. Artinya, jika ada persetujuan menteri Nadiem implisit membolehkan telanjang telanjangan di sekolah dan perguruan tinggi. Ini sebenarnya, dunia pendidikan apa dunia esek-esek ? sekolah tempat cari ilmu atau pemuas nafsu ? Sekolah itu tempat belajar, bukan mengumbar syahwat !

Dan seterusnya….,

Aneh-aneh aturan yang dibikin Menteri Nadhiem ini. Mestinya menteri menjaga dan melindungi akhlak serta moral anak didik dengan peraturan yang melindungi segenap anak didik dan generasi Indonesia. Bukan malah mengumbar aktivitas seksual di dunia pendidikan.

Lagipula, relasi pelaku dan korban menjadi tidak relevan jika aktivitas seksual dilakukan dengan persetujuan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa hubungan seksual dengan persetujuan bukanlah kekerasan seksual sehingga dibebaskan dilingkungan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Coba, betapa otak mesumnya menteri satu ini. Alih-alih menyibukkan anak didik kita dengan tugas belajar, visi pendidikan, raihan prestasi dan apresiasi atas pencapaian prestasi, Menteri ini malah menyibukkan dunia pendidikan dengan fikiran kotor (Fiktor), otak mesum dan menjadikan dunia pendidikan sebagai sarana menyalurkan nafsu bukan menuntut ilmu. [].

ASTAGHFIRULLAH, NADIEM MAKARIM HALALKAN ZINA !!?

Frasa “tanpa persetujuan korban” sebagai batasan utama ada atau tidak adanya kekerasan seksual sebagaimana diatur dalam Permen Dikbudristek No 30 Tahun 2021, justru menjadi sarana legalisasi seks bebas. Sebab, mafhum mukholafahnya (makna kebalikannya), bisa dipahami dengan ‘sepanjang atas persetujuan korban’ bukan terkategori kekerasan seksual dan diperbolehkan.

Aturan Nadiem Makarim ini sama saja melegalisasi zina. Sebab, meskipun tanpa akad nikah, seks bebas dihalalkan asal ada persetujuan dan bukan merupakan kekerasan seksual yang dilarang.

Tanpa aturan menteri ngawur ini saja, kita sudah kewalahan menjaga akidah dan akhlak umat dari serangan liberalisme barat. Apalagi ada aturan yang substansinya justru dapat dipahami melegalisasi perzinahan.

BACA JUGA :   Fiksi Mini-Nada untuk Luka

Semestinya……

Bagikan Yok!