November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kisah : Anugerah Becak Gratis

Kisah : Anugerah Becak Gratis

Kisah ini berawal dari sebuah kota kecil bernama Malang. Kota ini terletak di Pulau Jawa, lebih tepatnya di Provinsi Jawa Timur, Negara Indonesia. Di Hari Jumat yang cerah ada seorang kakek tua duduk di bawah pohon nan rindang di samping becak berkarat.

Kakek tua itu adalah seorang tukang becak yang sedang menunggu penumpang. Tiba- tiba datang seorang pemuda menghampiri kakek tua itu.

“Kek, becak!” Panggil pemuda itu.

Kemudian kakek tua mulai mengantar sang pemuda dengan becak karatnya. Di terik matahari yang sangat panas, kakek itu mengayuh sekuat tenaga walau fisiknya sudah tidak seperti anak muda. Ketika sudah sampai pada tempat tujuan sang laki-laki itu mulai mengeluarkan uang dari kantong sakunya.

“Berapa, Kek?” tanya pemuda itu.

“Ndak usah, Pak?” ujar sang kakek tua.

“Kenapa kakek tidak mau dibayar?” tanya pemuda itu lagi.

“Khusus di Hari Jumat ini saya menggratiskan becak saya, Pak!” jawab kakek tua itu.

“Lho kenapa, Kek? kalau tidak mau dibayar, keluarga kakek makan apa? ” kata sang pemuda.

“Saya tidak perlu khawatir dengan itu, Pak. Karena Allah sudah mengatur rezeki setiap orang. Saya memang bukan orang kaya, tetapi saya mencoba berbagi kepada sesama. Ya dengan cara menggratiskan becak di hari Jumat inilah, yang bisa saya lakukan, ya hitung-hitung sebagai sedekah saya kepada Allah karena telah membantu saya dan keluarga hidup tanpa kekurangan selama ini. Sudah ya Pak, saya mau mencari penumpang yang lain, assalamualaikum”, kata kakek tua.

“Waalaikumsalam,”jawab pemuda itu.

Keesokan harinya sang pemuda itu mencari tempat tinggal sang kakek tua pengayuh becak. Tibalah pemuda itu di sebuah rumah sederhana dekat bantaran sungai.

BACA JUGA :   Teks Dialog : Air dan Minyak yang Ingin Bersatu

Rumah itu milik sang kakek pengayuh becak yang ia tumpangi kemarin. Pemuda itu mulai mengetuk pintu rumah sang kakek, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, ia pun membalikkan badan dan berjumpa dengan seorang wanita tua berkacamata.

“Maaf, sedang cari siapa ya Pak?” tanya wanita tua itu.

“Apa benar ini rumah kakek tukang becak yang biasanya mangkal di Pasar Dinoyo?” tanya pemuda itu.

“Ohh benar, silakan masuk. Sebentar saya panggilkan suami saya,” jawab wanita tua.
Kemudian datanglah kakek tua untuk menghampiri pemuda itu.

“Maaf, Anda siapa ya?” tanya kakek.

“Saya yang kemarin hari Jumat menumpang becak kakek,” jawab sang pemuda.

“Ohh, Bapak yang kemarin. Iya..iya..saya ingat. Ada perlu apa Bapak kesini?” tanya kakek.
“Begini, maksud kedatangan saya kemari mau meminjam KTP kakek sama nenek, Apa boleh?” kata sang pemuda.

“Untuk apa meminjam KTP saya dan istri saya, Pak?” jawab kakek dengan heran.

”Begini, saya ingin memberangkatkan kakek dan nenek umrah bareng saya ke tanah suci. Kata-kata kakek kemarin menyentuh hati saya. Selama ini saya hanya menghambur-hamburkan rezeki yang saya dapat untuk kepentingan saya sendiri. Saya tak pernah peduli akan kesusahan orang lain, tetapi berkat kata-kata kakek, saya menjadi sadar bahwa tak semua rezeki yang kita dapat untuk diri kita sendiri, melainkan Allah melimpahkan rezeki itu kepada kita agar bisa membantu orang lain yang kesusahan. Intinya saya ingin melakukan perbuatan yang kakek lakukan terhadap saya,” kata pemuda itu.

Mendengar niat baik pemuda itu, tiba-tiba sang kakek menangis dan melakukan sujud syukur. Karena tak menyangka perbuatan sedekah di hari Jumat yang dilakukannya, ternyata diberi balasan yang tak ternilai oleh Allah swt.

BACA JUGA :   Jangan Sampai Anakmu Menjadi Seperti Ini!

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/indian-pria-tua-penarik-becak-2579143/

Baca juga :

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!