November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

PIAM : Kabar Buruk Untuk Adnan di Sel Penjara (Bab 8)

PIAM : Kabar Buruk Untuk Adnan di Sel Penjara (Bab 8)

Sudah satu Minggu lamanya Adnan mendekam dalam sel tahanan sebagai narapidana. Wajah tampan dan kulit putih yang menjadi kebanggaannya dulu, kini hilang tergantikan wajah penuh lebam dan kulit hitam seperti arang.

Selama menjalani kehidupan di dalam tahanan, Adnan banyak mendapat perlakuan tidak mengenakan dari napi lainnya. Ia sering dipukuli oleh teman satu selnya.

Setiap malam ia tidak bisa tidur nyenyak karena selalu diperintah-perintah oleh penghuni senior lapas yang bernama Pak Jonny. Banyak napi yang takut kepadanya dan tidak ada yang berani satu sel dengannya.

Adnan sungguh tidak beruntung, ia terpaksa ditempatkan satu sel bersamanya karena kamar sel lainnya sudah penuh. Malam ini saja, Adnan disuruh oleh Pak Jonny untuk memijat kakinya.

“Hei Adnan, cepat pijat kakiku!” gertak Pak Jonny.

“Ba ba ba baik, Pak!” ucap Adnan terbata-bata.

Adnan terpaksa mematuhi perintahnya, kalau tidak Pak Jonny akan menghajarnya habis-habisan. Lima hari yang lalu, Pak Jonny memukulinya sampai babak belur karena Adnan tak mau memberikan makan malamnya. Kali ini dan seterusnya ia tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Dari pada tubuhnya babak belur, lebih baik dia menjadi pesuruhnya Pak Jonny.

“Semoga saja orang ini bisa kau manfaatin. Sebaiknya aku turuti saja setiap keinginannya. Dengan begitu dia mudah untuk aku peralat,” gumam Adnan dalam hati.

Tiba-tiba Adnan kaget mendengar Pak Jonny memanggil namanya.

“Hei Adnan, jangan nglamun. Kesambet setan baru tahu rasa kamu. Pijat kaki sebelah kiri. Jangan pijat terlaku keras, pelan-pelan saja. Macem mana kau ini, kau berani sama aku?” itulah logat gaya bicaranya Pak Jonny yang asli orang Madura. Walau terlihat menakutkan di luar, tapi yang sebenarnya dia itu lucu orangnya. Adnan saja sampai harus menahan tawanya saat Pak Jonny bicara.

BACA JUGA :   Teks Dialog : Cinta Merak Jantan yang Hilang

“Mana mungkin saya berani sama Pak Jonny. Ngomong-ngomong, Pak Jonny terlihat bahagia hari ini, apa yang membuat bapak bahagia?”

“Aku bahagia karena hari ini istriku tercinta menjenguk diriku. Kau sendiri, udah punya istri?”

“Iya, saya punya istri,” Adnan mengaku-ngaku sudah menikah, padahal belum.

“Di mana istrimu, kenapa dia tak pernah datang menjenguk dirimu?”

“Ayahnya melarangnya untuk bertemu denganku.”
“Kau kelihatannya orang baik-baik, macem mana kau bisa masuk ke sini?”

“Ayah istri saya yang memasukkan saya ke sini. Dia tidak suka punya menantu seperti saya. Makanya dia membuat tuduhan palsu kepada saya agar menjauh dari kehidupan istri saya. Bapak tahu, justru istri saya lah yang menelepon polisi untuk menangkap saya. Sebenarnya dia tak mau melakukannya, tapi ayahnya memaksanya.”

“Cukup tragis juga ya hidup kau itu.”

“Ya, begitulah. Saya berharap bisa keluar dari penjara ini dan bertemu dengan istri saya kembali. Saya sangat merindukannya, Pak Jonny.”

Adnan berharap Pak Jonny mengerti apa yang tengah coba ia sampaikan kepadanya. Namun, Pak Jonny sepertinya tidak peka dan malah ketiduran sangking menikmati pijatannnya Adnan.

“Dasar kakek-kakek tua, aku udah capek-cepek pijat kakinya. Dia nggak paham juga maksudku dan malah ketiduran. Lebih baik aku tidur juga. Duhh, capeknya ngurusin aki-aki,” celoteh Adnan kepada dirinya sendiri.

Keesokan paginya, sipir memukul-mukul jeruji besi di selnya Adnan. Sipir sengaja membangunkan Adnan karena Pak Harman datang menjenguk dirinya. Pak Harman mau memberitahukan hal penting kepada Adnan mengenai Intan.

“Adnan, Pamanmu mau bicara sama kamu. Cepat, temui dia!” perintah si sipir.

Adnan bangun dari tidurnya sambil menguap lebar-lebar. Ia pun berdiri dan pergi menemui Pamannya bersama Sipir.

BACA JUGA :   PIAM : Kemarahan Seorang Ayah (Bab 5)

“Itu Pamanmu, waktumu hanya 20 menit. Mengerti?” kata si sipir judes.

“Iya, saya mengerti. Enggak usah ngegas bicaranya,” jawab Adnan yang sedikit kesal kepada sipir penjara itu.

Pak Harman sangat prihatin melihat wajah Adnan yang lebam-lebam seperti habis disengat tawon.

“Adnan, ada apa dengan wajah tampanmu. Oh keponakan paman yang malang, kasihan sekali kamu, Nak!” kata Pak Harman sambil mengelus-elus wajah Adnan.

“Paman hentikan, sakit!” elusan tangan Pak Harman tak sengaja menambah rasa sakit di pipinya Adnan, terpaksa Adnan menyingkirkan tangan Pamannya dari wajahnya.

“Maaf, paman melukaimu,ya?”

“Iya, rasa sakitnya bertambah kalau paman menyentuhnya. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan ibu?”

“Ibumu baik-baik saja, Adnan. Kau tahu, ibumu malah tidak kasihan kepadamu, dia justru lebih kasihan kepada kakaknya sendiri.”

“Apa, ibu tidak khawatir kepada anaknya sendiri dan malah khawatir sama si Lukman itu. Aku tidak habis pikir paman, kenapa ibuku sendiri begitu tega kepadaku?”

“Kamu tidak usah khawatir, paman selalu bersamamu.”

“Tapi tetap saja, ibuku sendiri malah mendukung orang yang sudah memasukkan anaknya ke penjara. Oh ya, Kenapa paman pagi-pagi sekali datang menjengukku?”

“Paman, mau memberitahukan info penting untukmu, Adnan.”

“Info apa paman?”

“Kemarin, pas paman lewat di depan rumahnya Lukman. Paman melihat ada seorang laki-laki datang ke rumahnya. Paman sedikit mendengar percakapan laki-laki itu dengan Lukman. Lukman memanggil laki-laki itu dengan sebutan calon menantuku. Paman menduga pasti dia datang mau melamar Intan.”

Hati Adnan seketika hancur lebur ketika Pak Harman memberitahunya tentang rencana pernikahan Intan. Adnan mulai emosi dan menggebrak meja begitu kerasnya. Sampai-sampai meja itu hampir patah, untungnya cuma retak sedikit saja.

BACA JUGA :   Kasih Abadi Bab 1 Sebuah Kisah dari Sang Hujan

“Ini tidak bisa dibiarkan, Paman. Aku tidak akan membiarkan Intan menikah dengan orang lain. Paman, bantu aku keluar dari penjara ini, aku harus menghentikan rencana pernikahan itu. Aku tidak rela Intanku menjadi milik orang lain, dia hanya milikku seorang, Paman.”

“Tenanglah Adnan, Paman ada di sini untuk membantumu. Kamu jangan khawatir, kamu fokus saja menyelesaikan masa tahananmu dan bersikaplah baik selama kau ada di sini. Dengan begitu mereka akan mengurangi masa tahananmu. Kamu jangan mencoba kabur, bukannya kamu cepat bebas, mereka malah akan menambah masa tahananmu. Ikuti saja peraturan yang ada, Adnan.”

“Paman suruh aku tenang saat orang yang aku cintai mau menikah sama orang lain. Paman ini gimana, sih!”

“Adnan, dengarkan paman. Paman akan mencari cara supaya pernikahan itu tidak jadi dilaksanakan. Serahkan semuanya pada paman, kamu tinggal terima beres saja. Paman janji sama kamu, paman akan bawa intan kembali dalam kehidupanmu. Tapi, kamu harus mendengarkan saran paman, oke?”

“Apa pun akan aku lakukan asalkan Intan menjadi milikku. Aku mau mengikuti saran paman. Aku berjanji akan bersikap baik selama di sini. Pokoknya aku enggak mau tahu, paman harus bereskan masalah ini secepat mungkin.”

“Paman janji kepadamu, Adnan!”
Tak terasa, pertemuan Adnan dan Pak Harman harus berakhir. Sipir membawa paksa Adnan karena waktu berkunjungnya sudah habis. Pak Harman tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa harus menyudahi pembicaraannya.

“Adnan, ayo masuk. Waktumu sudah habis!” ujar si sipir.
Sebelum pergi, Adnan memeluk Pak Harman sebagai tanda perpisahan.

“Jaga diri paman baik-baik, aku pergi dulu ya, Paman!”

“Iya, sampai jumpa lagi, keponakanku tersayang.”

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/mma-jaringan-kurungan-tato-jenggot-2282013/

Baca juga :

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!