November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Puisi : Gejolak Api Merah

Puisi : Gejolak Api Merah

Dalam suasana dingin mencekam
Di malam begitu gelap
Tak mampu mata ini tuk memandang
Semua yang terpandang hanyalah kegelapan
Dadaku begitu terasa sesak
Sampai aku tak mampu untuk bernapas
Udara serasa menjauhi diriku
Ruhku terbaring tak berdaya
Di dalam jiwa ku yang kaku

Secara perlahan…..perlahan……perlahan
Muncul rasa yang menggelora di dalam dada
Memaksa untuk mengendalikan semua perasaan
Ku coba untuk membuat sebuah benteng
Namun, tak mampu ku tahan rasa semburan panas itu
Walau sekuat tenaga aku melawan penuh
Rasa ini mulai bergejolak tak karuan
Seperti sebuah daun yang terbang kehilangan arah
Rasa panas mulai mengaliri air hujan tubuhku

Setetes demi setetes
Mulai merasuk dalam inti jiwaku
Kemudian membesar bak bola dunia
Dan mulai menghantam sekujur tubuhku
Sekuat tenaga kulawan rasa panas itu
Dengan sedikit bumbu rasa dingin es beku

Setetes demi setetes
Rasa panas mulai menghilang tertiup angin
Karena tak sanggup mengangkat beban rasa dingin ini
Secara perlahan…..perlahan……perlahan
Ruh dalam jiwa mulai menampakkan sinarnya
Yang terhalang oleh kegelapan jiwa

Jiwa yang kelabu kembali bersemi bunga mentari
Kehangatannya menenangkan kalbu sang bidadari
Pikiran dan jiwanya tenang bak sejernih air
Tiada lagi dendam maupun amarah bertengger dalam jiwa
Hilang terhempas tertiup angin di udara
Kedamaian mulai menyelimuti sanubari
Tak ayal kan kehidupan kembali damai dan lestari

Jangan lagi menyimpan dendam dalam hati
Itu tak bagi jiwamu yang penuh dengan kebaikan diri
Peliharalah kedamaian ini sampai kau tua nanti
Biar anak cucumu hidup dalam kebenaran yang sejati
Ajarkan mereka tuk mengenal sosok sang baik hati
Yang mengerti bagaimana memberi maaf pada seorang pembenci
Tanamkan keelokan Budi pekerti pada sang buah hati
Agar menjadi pribadi yang mudah dicintai

BACA JUGA :   Penampilan Yang Membunuh Karakter

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/photos/api-merah-panas-membakar-jeruk-2821775/

Baca juga :

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!