November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

PIAM : Pertemuan Adnan dengan Pak Harman (Bab 7)

PIAM : Pertemuan Adnan dengan Pak Harman (Bab 7)

Pengadilan memvonis Adnan dengan hukuman 10 tahun penjara dan denda 500 juta rupiah. Pihak keluarganya berkali-kali mengajukan banding untuk mengurangi masa hukumannya, namun majelis hakim menolak pengajuan banding tersebut.

Kejahatan yang dilakukan oleh Adnan adalah kejahatan tipe kelas berat, jadi pengajuan banding tidak diterima oleh majelis hakim berdasarkan bukti-bukti yang ditunjukkan oleh Intan di muka persidangan menggunakan rekaman kamera CCTV.

Di situ Adnan terlihat sangat jelas bahwa Adnan menganiaya Pak Lukman.

Selama sidang berlangsung, Adnan tidak fokus menyimak hakim yang membacakan hukumannya, matanya hanya tertuju kepada Intan yang duduk di deretan bangku sebelah kanan bersama pengacaranya. Intan tahu kalau Adnan memperhatikannya sejak sidang dimulai, tapi Intan pura-pura tidak mengetahuinya. Ia tak ingin lagi melihat wajah seorang penjahat yang menyakiti ayahnya.

Begitu hakim selesai membacakan dakwaan, sontak saja semua orang yang berada di tengah sidang terkejut mendengar Adnan berteriak memanggil nama Intan.

“Intaaaaaan!!!” teriak Adnan kencang hingga suaranya menggelegar ke mana-mana.

Meski Adnan berkali-kali memanggilnya, Intan tetap tak mau melihat ke arahnya. Ia hanya diam dan memalingkan wajah dari Adnan.

Rasa cinta yang menggebu-gebu dalam diri Adnan tak bisa dibendungnya lagi, ia kemudian lari menghampiri Intan sambil teriak memanggil nama Intan sekali lagi.

“Intan, intan, intan, intan!”

Adnan mencoba memegang tangan Intan, tapi petugas polisi yang berjaga di sana menghentikan dirinya dan membawanya pergi dari ruang sidang.

Setelah Adnan pergi, Intan tak bisa lagi menahan kesedihannya. Tangisannya pecah seketika di tengah persidangan.

Pengacaranya Intan, bernama Bu Nana meminta izin kepada hakim untuk membawa Intan keluar.

“Pak hakim, izinkan saya membawa klien saya keluar dari persidangan,” ungkap Bu Nana.
“Baiklah, kita sudahi saja sidang hari ini,” Pak hakim mengetuk palunya menandakan bahwasanya sidang telah usai.
Selesai sidang, Bu Nana memeluk Intan sangat erat layaknya anak perempuannya sendiri.

BACA JUGA :   Pernikahan Bulan Suro (Part I)

Bu Nana sudah menggagap Intan sebagai putrinya sendiri. Ia telah bekerja sebagai pengacara di keluarganya Pak Lukman lama sekali. Dia juga yang membantu masalah perceraian antara Pak Lukman dengan ibunya Intan. Semenjak Intan ditinggal sang ibu ke Belanda, Bu Nana lah yang selalu merawat Intan ketika Pak Lukman dinas di luar kota.

Intan juga selalu berbagi masalah kehidupannya kepada Bu Nana. Makanya kalau setiap Intan ada masalah, pasti larinya ya ke Bu Nana. Ikatan batin diantara keduanya sepertinya sangat kuat meskipun tak ada pertalian sedarah. Intan merasa nyaman berada di dekatnya Bu Nana. Entahlah, setiap Intan curhat kepada Bu Nana, perasaannya itu jadi plong dan enggak ada beban sama sekali di pikirannya.

Contohnya saja seperti sekarang ini, Intan tak sungkan mengungkapkan kepada Bu Nana bahwa sebenarnya ia menaruh hati kepada Adnan.

“Intan, jangan menangis. Seharusnya kamu senang kan si penjahat itu mendapatkan hukumannya. Lalu, kenapa kamu menangisinya? Coba ceritakan kepada Ibu!” tanya Bu Nanan sambil memeluk Intan dan membelai rambutnya.

“Bu Nana, sebenarnya aku tidak tega menjebloskan Adnan ke penjara.” Jawab Intan sambil menangis dalam pelukannya Bu Nana.

“Apa, ada apa denganmu, Intan? Apakah jangan-jangan kamu juga suka sama Adnan?” Bu Nana terkejut setelah Intan mengungkapkan kebenaran yang ada di dalam hatinya.

Intan tak menjawabnya dengan kata-kata, melainkan ia hanya menganggukkan kepalanya sebanyak tiga kali.

“Lalu, apakah ayahmu mengetahui tentang hal ini?”

“Tidak, jangan sampai ayah mengetahui bahwa aku menyukai Adnan. Kumohon pada ibu agar menjaga rahasia ini rapat-rapat dari ayah. Tapi, sekarang aku ingin membuang semua perasaan cintaku itu, Bu. Setelah aku mengetahui siapa Adnan sebenarnya, aku tak mau lagi menyimpan perasaan untuknya. Aku akan berusaha menghilangkan kenangan Adnan di hati dan pikiranku.”

BACA JUGA :   Cerita Cintaku : Hukuman Bagi Sang Pelaku Cinta Monyet 2

“Kamu tenang saja, Intan. Rahasiamu aman bersama ibu. Ibu mendukung setiap keputusan yang kamu ambil.”

“Terima kasih Bu Nana. Selama ini ibu telah mendukung diriku, kau bukan hanya seorang pengacara bagiku, tapi ibu sudah kuanggap seperti ibuku sendiri.”

“Kamu juga sudah ibu anggap seperti anak sendiri, Intan.

Di tengah perbincangan keduanya, tiba-tiba ada seorang pria tua botak, bertubuh gemuk dan berkulit hitam yang tidak sengaja tangannya menyenggol pundaknya Intan. Senggolan tangannya itu sangat keras, sampai-sampai Intan merasakan sakit di pundaknya.

“Aduh sakit!” ucap Intan yang merintih kesakitan

“Kamu tidak apa-apa, Intan? Hei Pak, kalau jalan itu hati-hati dong!” tegur Bu Nana kepada pria botak itu.

Pria itu sama sekali tak menghiraukan tegurannya Bu Nana dan main pergi begitu saja seperti tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah diperbuatnya kepada Intan.

“Bu Nana, sudah biarkan saja dia. Aku tidak apa-apa, kok. Kita sebaiknya pergi saja sekarang, keburu jalanan macet.”

“Iya, ayo kita pergi!”

Sementara itu, pria botak yang tadinya menyenggol intan di depan ruang sidang masuk ke dalam ruangannya Adnan. Pria itu sangat senang saat berjumpa dengan Adnan, begitu juga Adnan.

“Paman!” Sapa Adnan kepada pria botak itu yang tidak lain adalah pamannya sendiri dari pihak ayahnya. Ia datang ke pengadilan untuk melihat kondisi keponakan kesayangannya.

“Apa yang hakim putuskan terhadapmu, Adnan?”

“Hakim memberikan hukuman 10 tahun penjara kepadaku, Paman.”

Ketika mengetahui bahwa Adnan dihukum 10 tahun penjara, Pak Harman langsung memeluk Adnan sangat erat.

“Adnan, bagaimana bisa ini terjadi kepadamu? Siapa yang sudah berani memasukkanmu ke dalam penjara? Biar Paman kasih pelajaran dia!”

BACA JUGA :   Kasih Abadi Bab 13 Matcha Latte Girl

“Orang yang kucintailah yang memasukkanku ke dalam penjara.”

“Siapa orangnya, Adnan? Cepat beritahu, Paman!”

“Dia adalah Intan, anaknya Pak Lukman.”

Pak Harman melepaskan Adnan dari pelukannya Karena kaget begitu mengetahui bahwa teman masa kecilnya Adnan yang sudah memasukkan keponakannya itu ke dalam penjara. Pak Harman tidak tahu bahwa Intan kecil yang dikenalnya dulu adalah Intan yang sama yang ditabraknya tadi. Semenjak Pak Harman menetap di Belanda, ia jarang berhubungan dengan keluarga ibunya Adnan. Dia saja baru tahu kalau Adnan di penjara dari sebaran berita di media sosial.

“Paman akan membalaskan dendamu, Adnan!”

“Tidak, jangan Paman. Jangan sakiti Intan. Dia tidak bersalah, tapi ayahnya yang bersalah. Hukum saja ayahnya, tapi jangan hukum Intan. Aku sangat mencintai Intan, Paman.”

“Dia sudah tega memasukkanmu ke dalam penjara dan kau masih mencintainya. Kau benar-benar kehilangan akal sehatmu, Adnan.”

“Paman benar. Aku telah kehilangan akal sehatku karena cinta.”

“Adnan, sadarlah. Masih banyak perempuan lain di luar sana yang jauh lebih baik darinya.”

“Aku tidak bisa mencintai perempuan lain selain Intan, Paman. Kami berdua saling mencintai, tapi ayahnya menghalangi cinta kami berdua.”

“Kalau dia benar-benar mencintaimu, tidak mungkin dia tega melakukan ini kepadamu.”

“Aku tahu Intan tidak tega melihatku menderita, aku bisa merasakannya dengan hatiku. Aku tahu dia sekarang sedang menangisiku, Paman.”

“Lalu, apa yang paman bisa bantu untukmu, Adnan?”

“Paman, bantu aku untuk mendapatkan Intan kembali.”

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/illustrations/perdebatan-bertemu-janji-temu-1993399/

Baca juga :

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!