November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Puisi: Bercengkrama di Naungan Gubuk Tua

Bercengkrama di Naungan Gubuk Tua yang penuh cerita.

Angin malam merasuki tulang-tulangku yang penuh makna dan suka cita. Menghembuskan getaran jiwa dengan gelombang bagai badai yang terus berarus. Keheningan malam nan gelap pun nampak memberikan sinyal kebahagiaan.

Kegelapan yang dingin punya makna amatlah besar setiap saat. Aku tak mampu berkutif dalam sekejap, menerawang pada dunia yang tak pasti dan penuh sandiwara dari orang-orang munafik. Malam memberikan sinyal akan kegembiraan dan kebahagiaan, ia terus mengalir dan tak henti-hentinya diwariskan bagi mereka yang pandai bersyukur.

Bintang gemilang berderetan rapi di atas langit jua nampak menyahut. Rembulan malam pun memberikan redupan cahaya kepada gubuk tua. Suara kebisikan dari produk-produk kapitalisasi, kini menjauh dan tak mengganggu lagi. Apakah ini bertanda bahwa ia tak akan bersahabat lagi dan akan pergi menjauh dari pangkuan gubuk tua yang aku naungi?

Di gubuk tua, aku duduk nan menikmati bercengkrama bersama kawan. Tertawa terbahak-bahak dengan lepas bagai badai yang tak mampu dibendung. Arus cerita kini menjadi bahan tertawaan untuk menghibur diri. Fenomena sosial yang merajalela di negeri ini nampak seperti lelucon saja.

Bersama kawan seperjuangan aku duduk melingkar. Memikirkan kejayaan masa lalu dan traumatis menyaksikan kondisi masa kini. Cerita itu hanya dalam fiksi yang selalu dicekal para penguasa negeri. Suara rakyat selalu dimodernisasi pengambil kebijakan di negeri ini.

Kini cerita itu hanya hampa belaka, kawan seperjuangan pun tak mau ambil pusing. Cerita yang penuh drama akan berubah sebagai bahan cengkrama yang humoris. Di dalam naungan gubuk tua, kini cerita masyarakat menjadi bahan cengkrama dari kawan sekawan. Tak ada maksud untuk membinasakan, hanya saja penguasa yang selalu beronani di atas singgasananya.

BACA JUGA :   Puisi: Kehilangan Seseorang yang Dicintai

Suara rakyat dan suara kami hanyalah kacangan bagi mereka. Itulah mengapa cerita dan keresahan dari kami, kini menjadi bahan lelucon untuk menghibur diri kami. Mencoba menghibur diri dengan bercengkrama walau dalam bayangan tangisan arus masalah yang tak ada henti-hentinya.

Melalui cara bercengkrama kami, masalah itu pun terkontrol dan tidak selalu membayangi atau meredam untuk menghantui. Bagi kami, hanya cerita humorlah yang dapat meredam masalah dari kami dapatkan. Malam makin larut, cengkrama pun menjadi teman sejati di bawah naungan gubuk tua.

Sumber Gambar: Pixabay

Bagikan Yok!