November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

PIAM : Kemarahan Seorang Ayah (Bab 5)

PIAM : Kemarahan Seorang Ayah
(Bab 5)

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Intan dan Adnan pun tiba di rumah dengan selamat. Sempat terjadi insiden kecelakaan di jalan, namun untungnya mereka berdua tidak ada yang luka.

Adnan tidak fokus saat berkendara karena memikirkan Intan yang tak mau berbicara kepadanya. Mobil yang dikemudikannya keluar jalur dan hampir menabrak pohon. Syukurlah, Adnan berhasil menginjak remnya tepat waktu sehingga mobilnya selamat dari kecelakaan.

Meskipun selamat dari kecelakaan, tapi ia tak selamat dari kemarahannya Intan. Beberapa kali Adnan berusaha meminta maaf atas kecerobohannya itu, tapi Intan tetap diam dan tak mau menatap wajah Adnan. Waktu turun dari mobil pun, Intan tak mengucapkan salam perpisahan dan langsung masuk ke dalam rumah.

Adnan terus mengejar Intan sampai masuk ke dalam rumah, tapi langkahnya harus terhenti di ruang tamu karena Pak Lukman tidak mengizinkannya naik ke lantai dua.

“Intan, dengarkan aku dulu. Aku mohon, Tan!” teriak Adnan dengan kerasnya.

Pak Lukman yang baru saja keluar dari dapur, terkejut melihat putrinya yang masuk ke dalam rumah sambil menangis. Ia pun kemudian menghadang Adnan di depan tangga untuk meminta penjelasan kepadanya soal Intan yang menangis.

“Apa yang sudah kamu lakukan kepada putriku, Adnan?” Mata Pak Lukman melotot tajam kepada Adnan sambil memegang pisau tajam bekas mengupas buah.

“Paman, tenang ya, sabar. Aku bisa jelaskan. Tapi turunkan dulu pisaunya, oke!” Adnan ketakutan melihat pisau yang disodorkan Pak Lukman di lehernya.

“Sekarang, jelaskan kepada paman, kenapa Intan menangis?” walaupun pisau sudah diturunkan, tetap saja kemarahan Pak Lukman belum mereda.

“Eh, Paman jadi begini, Intan menangis karena,-“ Adnan harus menghentikan kalimatnya karena tiba-tiba Intan teriak dari dalam kamarnya.

BACA JUGA :   Pernikahan bulan suro (part II)

Pak Lukman dan Adnan pun panik dan langsung naik ke lantai dua untuk mengecek keadaannya Intan. Mereka berdua lari secepat mungkin menuju kamarnya Intan. Sampai-sampai Pak Lukman tak mengetahui bahwa Sandal sebelah kirinya terlepas. Begitu juga Adnan, tali sepatunya sampai lepas dan membuatnya terjatuh di depan pintu kamarnya Intan.

“Aduh!” ujar Adnan merintih kesakitan.

Intan yang berdiri di atas kasur sampai tertawa melihat Adnan yang jatuh. Pak Lukman juga tak bisa menahannya, ketawanya bahkan jauh lebih keras daripada Intan. Adnan sampai kesal kepada keduanya, bukannya ditolong malah ditertawai habis-habisan.

“Lucu ya? Terus aja ketawa, enggak tahu orang lagi kesusahan apa. Sakit tau, Tan!” ungkap Adnan sambil berusaha berdiri dengan memegang pintu.

“Intan anakku, kenapa kamu teriak, apa yang terjadi kepadamu?” Sela Pak Lukman yang mengalihkan topik pembicaraan.

“Tadi ada kecoak, makanya Intan teriak. Ayah tahu sendiri kan kalau Intan takut sama kecoak,” jelas Intan.

“Ya ampun, Cuma karena kecoak kamu teriak. Aku kira ada apa?” Sahut Adnan yang meremehkan rasa takut Intan.

Tak terima putrinya diejek, Pak Lukman langsung meneriaki Adnan dengan sangat keras.

“Adnaaaaaan!!!!” teriak Pak Lukman.

“Paman, aku hanya bercanda, jangan terlalu dibawa serius. Maafkan aku jika itu membuat paman terluka, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tenang ya, Paman!” Adnan mencoba meredam amarah Pak Lukman yang tengah naik pitam.

“Marahi saja dia, Ayah. Dia memang pantas untuk dimarahi. Ayah tahu, keponakan kesayangan ayah ini tadi sudah berani berkata bohong kepada temanku bahwa dia adalah suamiku. Ditambah lagi dia juga bawa mobilnya ngebut, aku hampir saja mati karena dia. Marahi saja, dia memang pantas mendapatkan kemarahan ayah,” unek-unek yang tersimpan dalam hati Intan akhirnya keluar begitu hebatnya. Hingga Adnan pun ketakutan mendengarnya.

BACA JUGA :   Kasih Abadi Bab 5 Luluh

Kemarahan Pak Lukman tak bisa dibendung lagi, bertubi-tubi ia layangkan tangan kanannya untuk menampar wajahnya Adnan. Saat masuk tamparan ketiga, Adnan berhasil mencegahnya dengan menggenggam tangan kanan Pak Lukman begitu erat. Pak Lukman sampai merintih kesakitan karena Adnan bukan hanya memegangnya saja, tapi juga meremas tangannya sampai rasa sakit yang ditimbulkan masuk ke dalam tulang belulangnya.

“Cukup, Paman. Kesabaranku sudah cukup, aku tidak tahan lagi. Sebelum aku berbuat lebih jauh yang bisa membahayakan nyawamu, lebih baik hentikan ini sekarang. Kau tidak mau kan putrimu menjadi anak yatim,” Adnan marah besar hingga berani melontarkan ancaman kepada pamannya sendiri.

Tak tega melihat ayahnya disiksa oleh Adnan, Intan pun turun dari tempat tidur dan mencoba melepaskan tangan Adnan dari tangan ayahnya.

“Adnan, lepaskan tangan ayahku! Kau menyakitinya. Lepaskan Adnan!” bentak Intan kepada Adnan .

“Aku akan melepaskan tangan paman, tapi paman harus memberikan sesuatu kepadaku,”

“Apa yang kau mau dariku, anak ingusan?”

“Aku mau putrimu, Paman. Izinkan aku menikah dengannya. Aku sangat mencintai putrimu ini.”

“Jangan harap aku akan memberikan izin kepadamu, aku tidak mau punya menantu kurang ajar sepertimu ini. Intan tidak akan bahagia hidup bersamamu.”

“Jadi paman tidak mengizinkanku menikahi Intan. Baiklah, terpaksa aku melakukan ini. Maafkan aku, Paman!”

Adnan berani memukuli Pak Lukman hingga babak belur. Setelah berhasil membuat pamannya terbaring tak berdaya di lantai, ia pun menarik tangan Intan untuk membawanya pergi dengan paksa. Intan terus berteriak minta tolong kepada ayahnya.

“Ayah, tolong aku, tolong!” teriak Intan.

“Intaaaan! Adnan, mau kau bawa ke mana putriku. Lepaskan dia!” meskipun tubuhnya terluka parah, Pak Lukman berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan Adnan agar tidak membawa putrinya pergi.

BACA JUGA :   Kasih Abadi Bab 4 Sinyal Baik

Perlahan-lahan Pak Lukman berjalan menuju tangga meskipun harus tertatih-tatih. Pak Lukman melihat ada vas bunga di samping tangga, ia pun akhirnya melempar vas itu tepat ke arah kepalanya Adnan. Vas itu pun tepat sasaran mengenai Kepalanya Adnan dan membuatnya pingsan seketika. Intan pun dengan cepatnya segera melepaskan tangannya dan berlari menghampiri ayahnya.

“Ayah, kau tidak apa-apa?” deraian air matanya jatuh membasahi pipinya saat melihat wajah ayahnya penuh lebam.

“Ayah, tidak apa-apa, Intan. Cepat telepon polisi, sebelum pria jahat itu sadar kembali.”
Intan pun berlari ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya.

“Halo, pak polisi. Tolong segera datang ke rumah saya. Ada penjahat yang sudah melukai ayah saya, Pak. Tolong cepat, ya!” ujar Intan panik.

“Baik, kami akan segera ke sana,” jawab polisi dari telepon.

Intan menutup teleponnya dan segera membantu ayahnya berbaring di ranjang. Ia tak henti-hentinya menangis melihat kondisi ayahnya yang sangat mengenaskan.

“Ayah, minta maaf ya, Intan. Sudah memaksamu keluar dengan si monster itu. Ayah kira Adnan adalah pemuda yang baik, ternyata ayah salah. Dia tidak seperti yang ayah duga. Sekarang sifat aslinya muncul.”

“Ayah tidak perlu minta maaf. Ayah hanya ingin menjagaku saja. Sini, biar kuobati tangan ayah.”

Intan merasa terkejut mengetahui sifat asli Adnan yang sebenarnya. Begitu tega dia memukul pamannya sendiri.

Padahal Pak Lukman sudah menganggapnya seperti putranya sendiri. Melihat insiden ini, membuat Intan sadar bahwa Adnan bukanlah pria baik yang pantas mendapatkan cintanya.

Topeng kebaikan yang menghiasi wajah tampannya itu hanyalah sebuah kepalsuan untuk menyembunyikan sifat aslinya.

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/photos/kemarahan-pertarungan-tinju-1564031/

Baca juga :

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!