November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Hermeneutika Tidak Perlu Digunakan Sebagai Metode Tafsir Al-Qur’an

Hermenutika Tidak Perlu Digunakan Sebagai Metode Tafsir Al-Qur’an

Oleh : Fitria Candra Ningrum

Al Qur’an merupakan kitab suci umat islam yang mengandung segudang makna, yanag mana atas dasar itulah peluang untuk mengaktualisasi ayat-ayatnya selalu terbuka lebar. Sebagai kitab suci dan pedoman hidup bagi umat islam, maka Al-Qur’an ini telah,sedang dan akan selalu ditafsirkan. Al Qur’an sebagai kitab suci memiliki posisi yang sangat urgen dalam kehidupa manusia, salih li kulli zaman wa makan, maka sepanjang waktu Al-Qur’an senantiasa ditafsirkan.

Penafsiran terhadap kitab suci Al-Qur’an telah dilakukan sejak ayat pertama Al-Qur’an turun pada Nabi Muhammad SAW., dan nabi sendiri lah yang menafsirkan beberapa ayat Al-Qur’an tersebut. Tafsir bil-manqul merupakan tafsir Al-Qur’an yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Menurut seorang pemikir dari Al-Jazair kotemporer Muhammad Arkoun,ia mengatakan bahwa Al-Qur’an itu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas. Maka dari itu ayat-ayat Al- Qur’an tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal serta selalu terbuka (untuk interpretasi) baru.

Hermenutika sebagai metode
penafsiran dalam Al-Qur’an mendapat berbagai tanggapan yang beragam dari para ulama dan cendikiawan muslim. Ada yang menolaknya dan ada pula yang menyetujuinya, sebab hermeneutika merupakan hal yang masih baru dalam khazanah tafsir al-qur’an. Namun, metode ini tetap mengalami signifikan di tangan para pengaplikasi hermeneutika Muslim kontemporer.

Definisi Hermeneutika
.
Secara umum Hermeneutika dapat didefinisakan sebagai suatu teori atau metode filsafat tentang interpretasi makna. Secara etimlogis, kata hermenutik berasaldari bahasa Yunani, hermenuein yang berarti menafsirkan.Maka kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan penafsiran atau interpretasi.

Menurut sejarah,Hermeneutika berasal dari mitologi Yunani, Hermes, dewa yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan kepada manusia, dimana Hermes harus mampu menerjemahkan pesan yang dibawa ke dalam bahasa yang digunakan manusia. Pada dasarnya medium pesan adalah bahasa, baik lisan maupun bahasa tulisan. Jadi, penafsiran lewat bahasa, bukan bahasa itu sendiri.Dengan demikian, hermeneutika yang diambil dari peran Hermes adalah sebuah ilmu atau seni menginterpretasikan sebuah teks melalui percobaan.

BACA JUGA :   Nostalgia - Kisah Stadion Siliwangi yang Jadi Bagian Sejarah Persib Bandung

Ada juga yang mengatakan, hermeneutika adalah satu disiplin yang berkepentingan dengan upaya memahami makna atau arti dan maksud dalam sebuah konsep pemikiran. Dalam hal tersebut, masalah apa makna sesungguhnya yang dikehendaki oleh teks belum bisa kita pahami secara jelas atau masih ada makna yang tersembunyi sehingga diperlukan penafsiran untuk menjadikan makna itu transparan, terang, jelas, dan gamblang.

Antara Hermeneutika dan Tasir
.
Allah swt telah memberikan wahyu melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw dan telah memberikan otoritas kepada Rasulullah saw, untuk menjelaskan arti dan kandungan Al-Qur’an kepada umatnya. Meskipun demikian Rasulullah saw pun tidak mengurai secara keseluruhan makna dalam Al-Qur’an, melainkan hanya apa yang sulit dipahami oleh para sahabat saja kala itu. Dan penjelasa beliau mengenai ayat-ayat al-qur’an ini terdokumentasikan dalam bentuk hadist atau sunnah yang diriwayatkan dari generasi ke generasi.

Mengenai Hermenutika dan Tafsir tentulah memiliki perbedaan diantara keduanya. Adapun beberapa perbedaan konsep hermeneutika dan tafsir sebagai berikut:
1. Dalam konsep hermeneutika keotentikan dan kebenaran teks suci itu diragukan, serdangkan dalam metode tafsir itu sumbernya yang jelas dan otentik, mempunyai fondasi yang kuat (Al-qur’an, Rasul, dan sahabat)
2. Salah satu tujuan dalam konsep hermeneutika adalah membuktikan keotentikan teks suci, tafsir bertujuan menafsirkan makna kata yang belum dipahami
3. Hermeneutika berangkat dari kerancuan teks suci sedangkan tafsir berangkat dari kosakata dalam ayat al-qur’an
4. Konsep hermeneutika dapat dilakukan oleh siapa saja yang berinterpretasi sedangkan dalam tafsir ada syarat mufassir yang sangat ketat
5. Hermenutika lebih tepat untuk teks-teks buatan manusia dan tafsir khusus hanya pada Al-Qur’an.

Hermeneutika Sebagai Metode Tafsir
.
Hermeneutika bukan sekedar tafsir, melainkan satu “metode tafsir” tersendiri atau satu filsafat tentang penafsiran, yang bisa sangat berbeda dengan metode tafsir Alquran. Di kalangan Kristen, saat ini, penggunaan hermeneutika dalam interpretasi Bible sudah sangat lazim, meskipun juga menimbulkan perdebatan. Dari definisi di atas jelas, bahwa penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Alquran memang tidak terlepas dari tradisi Kristen. Celakanya, tradisi ini digunakan oleh para hermeneut untuk melakukan dekonstruksi terhadap Al-qur’an dan metode penafsirannya.

BACA JUGA :   5 Skenario Kenapa Cowok Perhatiannya di Awal Hubungan Aja. Nggak Selalu Karena Tak Setia

Hermeneutika, sebagai sebuah metode penafsiran, tidak hanya memandang teks, tetapi hal yang tidak dapat ditinggalkannya adalah juga berusaha menyelami kandungan makna literalnya. Lebih dari itu, ia berusaha menggali makna dengan mempertimbangkan horizon-horizon yang melingkupi teks tersebut, baik horizon pengarang, horizon pembaca, maupun horizon teks itu sendiri. Dengan kata lain, sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutika memerhatikan tiga hal sebagai komponen pokok dalam kegiatan penafsiran, yakni teks, konteks, dan kontektualisasi.

Kerancuan Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur’an
.
Adanya penyelisihan terhadap kaidah-kaidah umat islam, merelatifkan batasan antara ayat-ayat muhkam dan mutasyābih, usūl dan furū’, qaṭ’īyah dan ẓanīyah, mencerca ulama Islam, dekonstruksi konsep wahyu yaitu menggugat otentisitas Alquran sebagai kitab yang terlindungi lafaẓ dan maknanya, dan juga akan mereduksi sisi kerasulan Sang Penyampai Wahyu Muhammad saw. hingga pada tingkatan sebatas manusia biasa yang sarat dengan kekeliruan dan hawa nafsu merupakan salah satu dampak dari diterapkannya hermenutika dalam penafsiran al-qur’an. Masih banyak pula dampak-dampak buruk yang terjadijika hermeneutika diterapkan dalam metode tafsir al-qur’an.

Penggunaan metode hermeneutika dalam menafsirkan Alquran termasuk kategori berpaling dari Alquran. Metode hermeneutika menjadi sebab utama Alquran tidak akan dipahami sebagaimana yang dipahami oleh Rasulullah saw. dan sahabatnya sebagai tauladan dalam memahami dan mengamalkan Islam. Bahkan, hasil penggunaan metode hermeneutika pun sering kali bertentangan dengan pirnsip-prinsip dasar Islam. Penggunaan hermeutika juga berarti mengikuti kaum orientalis yang kufur terhadap Alquran, sehingga tidak diragukan lagi akan tersesatnya penggunaan metode hermeneutika dalam menafsirkan Alquran kalāmullah yang mulia.

Hukum asal sikap seorang muslim terhadap Alquran adalah mengikutinya secara lahir batin sebagai bukti keimanan. Sikap tunduk dan patuh ini tidak dimiliki oleh para pengusung hermeneutika dari kaum Liberal, mereka bukan hanya menggunakan metode sesat dalam menafsirkan Alquran, mereka pun secara terang-terangan tidak menundukkan pemikiran mereka kepada petunjuk Islam. Walhasil, penggunaan metode hermeneutika dalam menafsirkan Alquran termasuk kategori berpaling dari Alquran. Bahkan, hasil penggunaan metode hermeneutika pun sering kali bertentangan dengan pirnsip-prinsip dasar Islam.

BACA JUGA :   Mengenal Istilah Ajaran Bung Karno: Marhaen, Marhaenis, Marhaeni dan Marhaenisme.

Hermenutika Tidak Perlu Digunakan dalam Metode Tafsir Al-Qur’an
.
Setelah mengetahui definisi hermeneutika, aplikasinya serta perbandingan dengan tafsir Alquran dalam Islam, maka dapat disimpulkan bahwa:
Alquran adalah kitab suci firman Allah swt. dan merupakan mukjizat, serta keotentikannya tidak terbantahkan karena Allah swt sendirilah yang menjaga. Jika hermeneutika dijadikan salahsatu instrumen untuk menafsirkan Alquran, maka keyakinan tersebut akan runtuh.Jika hermeneutika diaplikasikan dalam penafsiran Alquranmaka akan muncul sikap syak (ragu) pada setiap kebenaran Alquran.Ulama telah menentukan metode dan alat yang diperlukan untuk menafsirkan/menginterpretasikan suatu ayat dalam Alquran dengan standarisasi yang ketat, sehingga tidak memerlukan hermeneutika.

Hermeneutika mempunyai latar belakang dan metode yang berbeda bahkan cenderung bertentangan dengan karakter Alquran, tafsir, serta prinsip-prinsip Islam. Karena itu hermeneutika tidak relevan diterapkan sebagai metode tafsir Alquran.

Hermeneutika lebih mengutamakan rasio/akal, dan mencurigai segala sesuatu sehingga membutuhkan riset untuk membuktikan kebenaran. Sedangkan dalam Islam rasio bukanlah sumber utama, melainkan wahyu. Hermeneutika lebih cocok untuk teks-teks di luar Alquran, yaitu teks-teks yang diragukan keotentikannya dan teks-teks yang saling berbenturan satu sama lain, sedangkan Alquran tidak.

Daftar Pustaka

Henri Shalahudin, Al-Qur’an Dihujat, Cet. I, Jakarta: al-Qalam Kelompok Gema Insani, 2007

Husaini, Adian dan Abdurrahman al- Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Alquran, Jakarta: Gema Insani, 2007.

Jaiz, Hartono Ahmad, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Cet. I, Jakarta: Pustaka al -Kautsar, 2010.

Muchtar, M.ilham, Analisis Konsep Hermenutika Dalam Tafsir Al-Qur’an, Hunafa: Jurnal Studia Islamika,Vol.13,No.1, Universitas Muhamadiyah Makassar, 2016

Sumaryono, E., Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Bagikan Yok!