November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

PIAM : Dikiranya Dia adalah Suamiku (Bab 4)

PIAM : Dikiranya Dia adalah Suamiku
(Bab 4)

Begitu sampai di rumah temannya Intan, Adnan turun mobil lebih dahulu dan tak menghiraukan Intan yang sedang kesusahan membuka sabuk pengaman.

Intan berkali-kali meminta tolong kepada Adnan, tapi dia tak menggubrisnya sama sekali.

“Adnan, bisa tolong bantu aku? Sabuk pengamannya susah di lepas,” Seru intan sambil berusaha melepaskan sabuk pengamannya seorang diri.

Adnan hanya melihatnya dan tidak membantu Intan.

“Kamu kenapa sih, Adnan? Adnan, Adnan, bantuin!”teriak Intan.

Adnan sumpek mendengarkan ocehannya Intan, akhirnya ia pun mau membantu Intan melepaskan sabuk pengamannya.

“Gini aja, masa gak bisa, sih!” ujar Adnan yang kesal.

“Bukannya aku gak bisa, ini emang susah dibuka. Kamu tadi sendiri yang bilang kan, kalau ini susah dibuka,” jawab Intan yang super marah.

Walaupun dihatinya agak marah kepada Intan, Adnan tetap bersedia membantunya. Ketika kedua tangan Adnan melepas sabuk pengaman yang susah itu, tiba-tiba saja tak sengaja kepalanya ke jedot kepalanya Intan.

“Aduh, sakit Adnan. Hati-hati dong!”

“Iya maaf, aku enggak sengaja.”

“Aku juga minta maaf ya kalau sudah membuatmu marah.”

Sejenak Adnan terdiam dan memandang wajahnya Intan.

“Kenapa kau harus minta maaf, kau tidak salah apa-apa Intan. Jangan minta maaf untuk kesalahan yang tidak kau perbuat.”

“Habisnya, tadi aku lihat kamu kayak marah sama aku.”

“Siapa yang marah? Aku enggak marah. Cuma perasaanmu doang kali, Tan!”

“Beneran, kamu enggak marah kan sama aku?”

“Enggak Intanku, sayang!”

Intan terkejut bukan main ketika Adnan memanggil dirinya dengan sebutan ‘sayang’. Matanya sampai terbelalak menatap Adnan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi. Intan bahkan sampai menampar wajahnya untuk menunjukkan bahwa ia sedang tidak bermimpi.

“Hei, Intan, hentikan! Jangan menampar wajah cantikmu itu. Aku tidak mau melihatmu terluka,” Adnan menunjukkan kepeduliannya kepada Intan dengan membelai rambutnya.

BACA JUGA :   Kasih Abadi Bab 9 Siapa Dave Sebenarnya

“Dengar Adnan! Ayah sudah bilang kepadamu untuk menjaga jarakmu dariku. Jangan melewati batas, aku mohon!” Intan dari awal sudah bisa merasakan bahwa Adnan sepertinya memiliki perasaan lebih kepadanya.

“Kalau aku melanggarnya, bagaimana? Apa yang akan kau perbuat, Intan?” tanya Adnan sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajahnya Intan.

“Sudahlah, lepaskan sabuk pengamannya sekarang juga. Temanku pasti sudah menungguku di dalam,” Sengaja Intan mengalihkan pembicaraan agar Adnan tak bertanya hal-hal aneh lagi.

Adnan tak menuruti perkataannya Intan, ia justru memegang kedua tangan Intan dan semakin mendekatkan tubuhnya ke arahnya. Tarikan napas intan mulai cepat dan tak beraturan, ia takut kalau Adnan akan melakukan sesuatu kepadanya.

“Tidak usah takut, Intan. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku akan melakukannya kalau kita berdua sudah terikat dalam ikatan yang resmi.”

Sekejap saja ekspresi wajah Intan langsung bengong ketika mendengar ucapannya Adnan. Ia masih bingung dan tidak paham apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Adnan dengan ikatan resmi. Waktu Intan mau bertanya mengenai hal itu, mendadak temannya memanggilnya dari luar mobil.

“Intan, cepat keluar!” panggil temannya.

Perbincangan serius itu pun harus berakhir karena ada gangguan dari pihak luar.

Adnan sampai kesal hingga melampiaskan amarahnya dengan memukulkan tangannya ke sandaran kursi mobil. Intan pun memegang tangannya Adnan supaya ia berhenti melukai tangannya sendiri.

“Adnan, hentikan. Sebaiknya kita cepat turun. Aku takut nanti temanku bertanya aneh-aneh kepadaku. Cepat lepaskan sabuk pengamannya!” bujuk Intan.

Intan dan Adnan pun keluar dari mobil sambil bergandengan tangan. Sebenarnya Intan tidak mau melakukannya, tapi Adnan memaksanya.

Adnan menggandeng tangannya Intan supaya temannya menganggap bahwa ia dan Intan adalah sepasang suami istri.

“Intan, siapa dia? Suamimu, ya? Kok kamu enggak bilang ke aku kalau kamu udah nikah, jahat kamu, Tan!” rencana Adnan berhasil, temannya intan mengira bahwa dia adalah suaminya Intan.

BACA JUGA :   Puisi : Perjuangan Seorang Penulis

“Eh bukan, dia ini,-“ tiba-tiba Adnan mencubit tangannya Intan supaya ia tidak mengatakan yang sebenarnya.

“Iya, aku suaminya, Intan. Perkenalkan, namaku Adnan,” sahut Adnan sembari menjabat tangan temannya Intan.

Temannya Intan hanya bengong menatap Adnan.

“Bukannya Intan tak mau memberitahumu, sebab pernikahan kami berjalan begitu cepat,” jawab Adnan bohong.

“Oh gitu ya, aku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Ya udah, masuk yuk. Dari tadi aku menunggumu, Intan. Teman-teman yang lain udah nunggu kamu dari tadi,” ekspresi wajah temannya itu agak kesal karena Intan datangnya telat.

“Iya, kamu masuk saja dulu. Nanti aku menyusul. Aku mau membicarakan sesuatu kepadanya,” ucap Intan sambil memandangi wajah Adnan.

“Ya udah, aku masuk duluan ya!” balas temannya Intan singkat.

“Iya, silahkan, duluan aja,”

Intan mempersilahkan temannya untuk masuk duluan ke dalam.
Temannya pun masuk ke dalam dan pergi meninggalkan Intan dan Adnan berdua saja di teras rumah.

Wajah Intan seketika itu cemberut menatap Adnan. Ia kesal kepadanya karena mengaku-ngaku sebagai suaminya. Intan pun meminta Adnan untuk pulang saja dan tak usah ikut masuk ke dalam.

“Adnan, sebaiknya kamu pulang saja! Nanti aku pulangnya bisa naik taksi online.”

“Aku tidak mau pergi. Aku sudah berjanji kepada Paman untuk menjagamu. Dan aku tidak akan melanggar janjiku itu. Kalau aku pulang, maka kau juga harus ikut pulang bersama denganku.”

“Baiklah, kita pulang saja kalau begitu.”

“Oke, ayo pulang!”

Adnan pun menyeret Intan masuk ke dalam mobil.

“Lepaskan tanganku! Aku bisa masuk sendiri,” bentak Intan kasar.

Intan masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan sangat keras.

BACA JUGA :   Sendal Jepit Shintia

Ketika Adnan mau masuk, tiba-tiba temannya Intan keluar lagi untuk menanyakan kenapa keduanya tidak masuk ke rumah dan malah masuk kembali ke dalam mobil.

“Adnan, kenapa kau dan Intan mau pergi, padahal kalian baru saja sampai?” tanya temannya Intan penasaran.

“Hhhhhm, katanya Intan perutnya sakit. Jadi aku suruh dia untuk pulang saja. Maaf ya, dia tak bisa menghadiri acaramu,” lagi-lagi Adnan berbohong kepada temannya Intan.

“Iya, gak apa-apa. Hati-hati di jalan.”

“Ehm, wassalamu’alaikum!” pamit Adnan.

“Waalaikumsalam,” jawab temannya Intan.

Saat Adnan masuk ke dalam mobil, ia mendapati Intan tertidur lelap. Adnan pun melepas jaketnya dan menyelimuti Intan supaya ia tidak kedinginan. Dalam perjalanan pulang, Adnan terus saja memperhatikan Intan.

Kalau jaketnya tersingkir dari badannya intan, Ia pun dengan cepatnya langsung menyelimutinya kembali. Intan yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya, langsung melempar jaketnya Adnan ke bangku belakang.

“Intan, jangan dibuang, nanti kamu kedinginan.”

“Memangnya siapa kau berhak mengatur hidupku?”

“Aku suamimu!”

“Aku peringatkan kau, Adnan. Kau itu hanya saudara sepupu bagiku. Jangan meminta lebih. Aku tidak akan pernah mau menjadi istrimu.”

“Oh ya? Aku sudah mengenalmu lama sekali, Intan. Aku tahu kau juga punya perasaan yang sama. Terlihat jelas di matamu.’”

“Hentikan kata-kata manismu itu. Jalankan saja mobilnya dan bawa aku pulang.”

“Baiklah, istriku!”

Intan tak tahu harus berkata apa lagi kepada Adnan supaya mengerti bahwa ayahnya pasti tidak akan memberikan izin kepadanya. Benar apa yang Adnan ungkapan, Intan memang menyukai Adnan sedari kecil, tapi karena ayahnya tak suka pernikahan dalam satu ikatan keluarga, ia pun harus melupakan impian itu jauh-jauh dari pikirannya.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/pohon-ceri-kekasih-senang-alam-5005244/

Baca Juga :

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!