November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Al Qur’an yang Iri Kepada Handphone

Al Qur’an yang Iri Kepada Handphone

Handphone : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Al Qur’an.

Qur’an : Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Handphone : Bagaimana kabarmu hari ini Al-Qur’an?

Qur’an : kabarku hari ini sangat buruk handphone.

Handphone : Kau adalah kitabullah, bagaimana bisa kamu tidak baik-baik saja. Apa yang sudah terjadi kepadamu, wahai kitab Allah Subhanallah wa taala?

Qur’an : Aku sangat sedih karena tuanku tak pernah menyentuh atau membacaku. Aku dibiarkan saja tersimpan dalam rak buku tua hingga aku berdebu seperti ini. Lihatlah kondisiku handphone, sudah tak cantik seperti waktu pertama kali aku masuk ke rumah ini.

Handphone : Aku turut bersedih atas apa yang menimpamu wahai kitabullah.

Qur’an : Sejujurnya aku sangat iri kepadamu, handphone.

Handphone : Bagaimana kau bisa iri kepadaku? Seharusnya akulah yang iri kepadamu. Kau adalah petunjuk kehidupan bagi umat manusia. Kau membantu manusia menuju jalan kebenaran. Kau begitu sempurna di mataku wahai kitabullah. Tak sepatutnya kau iri kepadaku.

Qur’an : Tetap saja, aku sangat iri kepadamu. Tuan selalu memberikan perhatian lebih kepadamu ketimbang kepadaku. Setiap waktu kau selalu berada dalam genggamannya. Saat kau tak ada di sisinya, dia pasti akan panik dan mencarimu ke mana-mana. Begitu ia berhasil menemukanmu, ekspresi wajahnya gembira seperti baru saja menemukan sebuah harta Karun. Tuan tak bisa jauh darimu walau hanya sedetik saja.

Handphone : Kau benar kitabullah, tuan memang tak bisa jauh-jauh dariku. Tapi, sejujurnya aku ingin dia lebih dekat kepadamu, bukan kepadaku.

Qur’an : Aku juga ingin hal itu terjadi. Tapi, ia tidak pernah sekalipun memandang ke arahku. Waktunya banyak tersita hanya untukmu seorang, handphone.

Handphone : Maafkan aku kitabullah, karena kehadiranku kau jadi terlupakan.

BACA JUGA :   Sekali Saja

Qur’an : Jangan meminta maaf. Ini bukan kesalahanmu. Melainkan, kesalahan tuan kita sendiri. Kau tidak salah apa-apa, handphone.

Handphone : Tapi, tetap saja aku merasa bersalah, kitabullah. Bagaimana kalau kita bertukar tempat, kau duduk di atas meja ini dan aku duduk di rak buku. Mungkin, dengan cara ini, tuan akan melihatmu.

Qur’an : Ide yang bagus, handphone. Ayo kita lakukan.

Semenit berselang, sang tuan berjanggut tebal datang ke ruang kerja untuk mengambil handphonenya. Tapi, ia tak menemukannya di mana-mana. Ia pun pergi dan tidak menghiraukan Al-Qur’an di atas meja.

Qur’an : Kau lihat kan, handphone. Meskipun aku terlihat jelas di sini, tetap saja ia tak mau mengambil atau pun menyentuhku. Dia hanya peduli kepadamu.

Handphone : Kitabullah, maafkan aku. Lebih baik aku pergi saja dari sini, supaya tuan mau memperhatikanmu.

Qur’an : jangan pergi, handphone. Sudah kubilang ini bukan kesalahanmu. Mata hati tuan kita lah yang sudah tertutupi dengan dosa.

Sumber gambar :

https://pixabay.com/id/photos/quran-muslim-islam-ramadhan-4178711/

Baca juga :

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!