November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Tersembunyi Dibalik Buku

Tersembunyi Dibalik Buku

Aku berjalan-jalan menyusuri lorong perpustakaan di rumah tua lama temanku yang sudah pergi menuju sang khalik. Di sana aku banyak menjumpai buku-buku tua, usang, dan berdebu. Banyak sekali buku yang dikoleksi oleh temanku itu.

Dia lebih senang berteman dengan buku dibandingkan berteman dengan anak sebayanya. Dia hampir tak memiliki teman satu pun dalam hidupnya. Bisa dibilang aku adalah teman dia satu-satunya.

Aku menjumpai satu buku tergeletak di atas meja belajarnya. Buku itu memiliki sampul berwarna biru dengan hiasan origami bunga diatas-Nya.

Aku jadi teringat, bukankah ini origami tugas sekolahku. Ternyata selama ini dia mengambilnya secara diam-diam dan menjadikannya hiasan di bukunya.

Benar-benar pria yang aneh. Aku pernah bertanya padanya mengenai origami ku yang hilang dan ia menjawab tidak tahu.
Waktu sepulang sekolah Pukul 11.00, kami bersiap keluar dari kelas.

“Arif, apa kau tadi melihat origami bungaku Aku tidak tahu ke mana? Padahal tadi ada di atas mejaku?” Tanyaku padanya.

“Mana aku tahu Ana. Sudahlah, lupakan saja. Ayo kita pulang, ayahku sudah menjemput kita di bawah,” begitulah jawabnya.

Akhirnya aku pun pulang bersama dengannya dan melupakan origamiku yang hilang itu. Karena rumah kami saling berdekatan, aku selalu diminta untuk berangkat dan pulang sekolah bersama dengannya.

Hampir setiap jam aku selalu bersamanya dan rasanya aku bosan sekali melihat wajahnya.

Teringat akan hal itu, aku jadi merindukan setiap detik waktu yang kuhabiskan bersamanya. Tapi apalah daya, sekarang ia sudah tak ada. Yang tersisa darinya hanya buku harian yang terkunci ini.

Aku mencoba mencari kuncinya di setiap sudut kamarnya, dan tak bisa kutemukan di mana pun. Ku coba mengingat sesuatu tentang buku hariannya. Sekarang aku ingat, aku pernah bertanya tentang buku ini padanya.

“Sedang apa kau sendirian di tepi sungai?” Kataku.

“Kau tidak lihat aku sedang menulis. Kemarilah dan temani aku,” Kata Arif.

“Tidak mau, aku mau pulang saja,” Jawabku dengan nada agak kesal.

BACA JUGA :   Imbalan dari Sang Bidadari

“Ayolah, kumohon Ana, sebentar saja,” Katanya sambil memelas.

Aku pun terpaksa memenuhi permintaannya. Dia itu tipe pria yang suka memaksakan kehendaknya padaku. Pernah suatu hari ia ingin pergi ke kebun binatang bersama orang tuanya.

Seperti biasa, dia tidak akan pergi kalau aku juga tidak pergi. Padahal aku sudah memberitahu orang tuanya bahwa aku tidak bisa ikut karena aku harus pergi bersama keluarga ku ke rumah nenek.

Tapi ia terus membujuk ayahku agar tak membawaku pergi bersamanya.

Ayahku pun juga tak berdaya dengan anak itu dan akhirnya memberikan izin padanya untuk membawaku pergi ke kebun binatang bersamanya.

Dalam hatiku aku bergumam, kenapa pria ini terus menempel padaku?. Rasanya aku ingin pergi jauh darinya. Namun, saat aku melihat wajahnya, rasanya seperti tak sanggup untuk melakukannya. Entahlah apa yang terjadi padaku?.

Lanjut ke kisah buku harian tadi. Aku penasaran apa yang sedang ia tulis di dalam buku itu. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya padanya.

“Buku apa itu?” Tanyaku.

“Ini buku harianku. Tidak akan kubiarkan kau membacanya. Buku ini akan aku kunci dan kuncinya aku sembunyikan di hatiku,” Kata Arif.

“Memang siapa juga yang mau membacanya. Sudahlah, ayo kita pulang!” Jawabku.

“Baiklah, ayo kita pulang. Dasar pemarah!” Jawabnya dengan kesal.

Dia pernah mengatakan kuncinya disimpan dalam hatinya. Apa maksud dari kata hati itu. Dia benar-benar pria penuh teka-teki. Tak sengaja kakiku menendang sesuatu di bawah meja. Aku pun mencoba melihatnya ke bawah.

Ternyata ada sebuah kotak berbentuk hati. Dia memang pria yang aneh, kenapa menyimpan kotak seperti ini. Kucoba untuk melihat isinya. Benar, kunci buku harian itu ada di dalam kotak ini.

Bentuk kuncinya juga aneh. Kenapa ujungnya berbentuk huruf A. Aku tak menghiraukan itu dan aku langsung membuka buku hariannya.

Saat kubuka buku itu, halaman pertama sampai dua puluh kosong. Baru pada halaman ke 21 ada tulisannya. Pada halaman itu tertera tanggal 21 Januari dengan tulisan kalimat yang pendek.

BACA JUGA :   PIAM : Ancaman Adnan Kepada Intan dan Pak Lukman(Bab 6)

Begini tulisannya:

Minggu, 21 Januari 2015
Akhirnya mimpiku jadi nyata, apa yang kunantikan telah datang.

Aku mencoba mengingat ada apa di tanggal 21?. Seingatku itu adalah tanggal aku baru pindah ke kota ini bersama keluargaku. Tapi mungkin tidak ada hubungannya dengan tulisan ini. Aku mulai membaca halaman berikutnya.

Setiap tulisan pada halaman berikutnya sama semua. Berikut tulisannya:

“Setiap hari aku bisa melihatnya, tidak akan pernah kulepaskan dia. Tuhan, jangan ambil harta berhargaku. Akanku korbankan apa pun untuk mendapatkannya. Aku hanya punya itu dalam hidupku. Jangan renggut dariku.”

Tulisannya penuh dengan teka-teki yang tak bisa aku pecahkan. Apa yang paling berharga dari nya. Selama aku menjadi teman dekatnya, ia tak pernah menceritakan apa pun tentang harta berharganya padaku.

Tulisan ini benar-benar membuatku bingung. Daripada memikirkannya, lebih baik kututup saja bukunya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, ada sesosok bayangan hitam menuju ke arahku. Ternyata itu ibunya Arif yang sudah menginjak usia renta. Ia memintaku untuk makan bersamanya.

“Apa yang kau pegang itu putriku?” Tanya ibunya padaku.

Ia selalu menggagapku seperti anaknya sendiri, makanya ia memanggilku dengan sebutan ‘Putri’.

“Oh ini, buku hariannya Arif, Bu,” Jawabku.

“Sudah lama ibu ingin memberikan buku ini padamu. Tapi kau baru bisa datang kemari setelah enam tahun kepergian Arif,” Kata Ibunya Arif dengan berlinang air mata.

“Kenapa ibu ingin memberikan ini padaku?” Tanyaku dengan heran.

“Cobalah buka di halaman terakhir buku itu. Di dalamnya ada surat untukmu,” Jawab ibunya Arif.

Aku pun membuka halaman terakhir buku harian itu. Ternyata ada secarik kertas terlipat lusuh sekali. Aku mulai membaca surat tersebut perlahan lahan agar bisa mengerti apa makna yang tertera di dalamnya.

Isi suratnya bertuliskan seperti ini:

Akhirnya mimpiku jadi nyata. Mimpi untuk punya sahabat dekat telah terwujud di depan mataku. Selama ini, aku terus menunggu kapan dia akan datang?. Aku terus berdoa setiap malam kepada Tuhan agar mendatangkan seorang sahabat untukku. Tapi, kenapa ia tak kunjung datang?. Aku tak akan pernah mau berteman dengan siapa pun kecuali dengannya saja.

BACA JUGA :   Puisi Secarik Kertas Karya Andreas Rio Pamungkas

Aku harap dia juga mau bersahabat denganku. Kalau tidak mau akan kupaksa dengan cara apa pun. Aku tahu ini salah. Tapi, hanya dia saja yang bisa kupercayai di dunia ini.

Pada tanggal 21 Januari adalah hari dari mimpiku menjadi kenyataan. Sahabat itu telah muncul di hadapanku. Sahabat yang selalu kumimpikan setiap hari.

Ana telah datang dalam hidupku. Harta berharga ku adalah Ana. Kau tahu, aku sangat senang saat kau kesal dan marah padaku. Aku menikmati itu Ana.

Maafkan aku jika aku sering membuatmu kesal atas sikapku ini. Maafkan aku jika pernah memaksamu untuk pergi ke kebun binatang bersamaku. Maafkan aku Ana.

Ana, saat mendengar engkau akan pindah rumah, aku sangat sedih akan kehilangan harta berharga ku. Setelah kepergianmu, aku tak pernah keluar kamar. Aku hanya menghabiskan hidupku di dalam kamar kecil ini.

Aku hanya berharap kau akan kembali padaku. Aku selalu menatap ke arah rumahmu dan berharap kepulanganmu. Selama 6 tahun aku tak pernah berhenti menatap ke arah rumahmu. Kembalilah Ana, Kembalilah padaku.

Aku sangat mencintaimu.
Aku tak mampu berkata-kata apa pun. Aku hanya bisa menangis dan menyesal telah meninggalkannya secara diam-diam tanpa berpamitan padanya. Aku waktu itu terpaksa pindah rumah karena rumahku sudah diambil oleh bank untuk melunasi hutang ayahku yang ditipu oleh pamanku.

Sengaja aku tak memberitahunya agar tak menjadi beban bagi kehidupannya. Aku merasa bersalah karena telah membuatnya sakit hingga saat terakhir aku tak bisa melihatnya. Sekarang aku menyesal, telah berlaku buruk padanya.

Aku selalu mencoba menghindarinya dan memarahinya sewaktu kecil dulu. Sekarang setelah ia tiada, aku sangat merindukannya.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/buku-buku-lama-buku-tua-436498/

Baca juga :

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!