November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Puncak Karir Itu Di Bawah

PUNCAK KARIR ITU TERNYATA DI BAWAH

Allah tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah dalam pengertian menghamba kepada AllahSwt. Tentang tugas dari penciptaan Jin dan Manusia tercantum dalam Quran Surah Adz Dzariyat : ayat 56.

Kalau kita mau membaca dan mendalami lebih dalam sesungguhnya kalimat didalam Al Quran adalah liya’budun, yaitu menghamba, biasa diterjemahkan dengan kata “beribadah”. Disini pentingnya perlu belajar secara mendalam Bahasa Arab, baik Nahwu, Shorof, Balaghoh, Mantiq dan sastra Arab, Kalo gak mendalam belajar bahasa maka akan menjadi hilang dan lepas maknanya hakikatnya.

‘Abd itu artinya budak. Huruf yang merangkainya ada tiga yaitu ‘ain ba dan dal. Jika terangkai artinya menjadi seorang hamba atau budak yaitu seseorang yang gak merdeka sama sekali, milik majikandan harus tunduk patuh pada segala perintah majikan.

Allahumma anta Robbiy, ya Allah engkaulah Rabb. Ya Allah engkaulah Tuhan

Khalaqtani wa ana ‘abduka, Engkau ciptakan aku dan aku adalah budakMu. Engkau telah menciptakanmu dan akulah hambamu

Inilah hakikat diutusnya Nabiullah Muhammad shallallahu’alaihiwassalam Yaitu pemahaman posisi manusia kepada Allah. Doa yang berupa setting penting pada ummatnyatentang hakikat posisi manusia. Di awal sayyidul istighfar sangat jelas dan menegaskan sekali Allah itu Rabb, dan kita adalah budak.dan hamba yang tidak merdeka. Yang harus senantiasa mengabdi kepadanya.

Bahwa Allah itu Rabb, Allah itu Raja, Allah itu majikan, Allah itu Rabb, Allah itu pemilik alam, Allah itu pencipta Alam, Allah itu yang berkuasa. Allah yang maha berkehendak. Tidak ada sesuatu bisa terjadi kecuali hanya dengan izinnya semata yang maha agung dan maha luhur.

Dan manusia itu hamba Allah, kita cuma budak, kita ini rendah, Kita ini hina, kita ini tidak merdeka, tidak bebas, terikat dengan aturan Allah, harus nurut dan patuh kepada Allah.

BACA JUGA :   Semua Bebas Berekspresi Merdeka, Asalkan Tidak Ganggu Orang Lain

Kita tidak boleh membantah, kita harus mengikuti aturan Allah, Syariat Allah. Kita harus mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Maka Allah janjikan yang baik-baik pada hambanya sesuai dengan ajaran yang ada di Al Quran.

Allah janjikan Rezeki untuk hambanya sesuai yang tercantum dalam Quran Surah As Saba ayat 39

Allah janjikan perjalanan yang indah bagi hambanya, hal tersebut termuat dalam Quran Surah Al Isra ayat 1.

Allah janjikan pengabulan permohonan pada hambanya dan hal tersebut tercantum dalam Quran Surah Al Baqarah ayat 186.

Itulah ternyata puncak karir kita. Menjadi hamba. Menjadi Budak, senantiasa mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya. Senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah. Senantiasa menyerah diri dan bertawakal kepada Allah Swt. Merendah di hadapan Allah dengan penuh pemahaman dan kesadaran. Sadar akan posisinya di muka bumi.

Ketika seseorang menjadi hamba Allah, maka Allah akan mengurusnya, melimpahinya ampunan, melimpahinya Maaf, memenuhi kebutuhannya.

Maka tugas menjadi sederhana, jadilah hamba Allah yang baik, taat, rendah hati, lurus.


Saat kita berkarir dalam bisnis atau dalam aktivitas apapun, tanpa disadari setan menghembuskan bisikan-bisikan agar kita lepas dari posisi Hamba.

Harusnya posisi rendah, tetapi hati kita tanpa sadar meninggi. Kalo sudah begini pasti Allah rendahkan secara paksa, cepat atau lambat.

Harusnya posisi kita hina, tetapi hati dan sikap kita ingin dimuliakan, ingin dispesialkan. Posisi hati dan sikap begini pasti akan dihinakan. Karena gak sesuai setting penciptaannya.

Harusnya posisi kita terus merasa lemah dimata Allah, tapi entah kenapa setan menghembuskan sikap sok hebat, sok jagoan, sok bisa. Sikap hati begini pasti akan dihempaskan Allah jadi lemah tak berdaya, cepat atau lambat.

BACA JUGA :   Suryopranoto Sang Pemberontak, Betulkah Demikian?

Fir’aun tenggelam.
Qorun terbenam.
Abu Jahal tewas terhinakan di Badar.
Qisra lari tunggang langgang.
Namrudz ambruk.

Semua yang melawan posisi menjadi Hamba, pasti jatuh. Cepat atau lambat.


Menjadi pebisnis, pengusaha, penggerak, aktivis, filantropis, apapun itu, mari sama-sama kita niatkan menjadi hamba Allah saja.

Hamba Allah harusnya merendah, ya merendahlah, gak usah meninggi, gak usah merasa lebih baik dari yang lain, banyak-banyak sadar aib dan kekurangan

Hamba Allah harusnya mengurusi bumi, memakmurkan kehidupan, jadi kalo kita bikin produk atau program, niatnya menyenangkan Allah saja. Semoga produk yang kita deliver, memudahkan kehidupan manusia.

Hamba Allah harusnya fokus pada senangnya Allah saja, ridhonya Allah, karena Allah Master kita, kita slave. Kita budak, Allah majikan. Bukan malah fokus bikin senang manusia, bukan sibuk cari pengakuan manusia, sibuk cari eksistensi atas prestasi.

Jadilah Hamba Allah. Hambatan terbesar mengapa Allah gak mau mengurusi kita, karena hati kita ini gak mau tunduk jadi Hamba Allah.

Masih ingin punya predikat lain, si anu, sang anu, yang anu, yang anu anu, akhirnya gak pernah sadar jadi Hamba Allah. Sibuk sama sebutan, sorotan.

Di titik inilah kita gagal berkarir. Karena kita gagal ke posisi seharusnya. Gagal jadi hamba Allah, malah petantang petenteng merasa jagoan di muka bumi Allah.

Itulah mengapa sujud adalah aktivitas mulia. Karena wajah yang mulia, diletakkan diatas tanah yang hina dan rendah.

Maka tempat paling mulia adalah mim sajada. Masjid. Tempat sujud. Bukan tempat qiyam, tempat ruku’, tapi Allah menamainya tempat sujud. Karena jiwa manusia itu harus rendah.

Rendah rendahkanlah jiwa kita wahai sahabat. Jangan meninggi, jangan merasa lebih baik dari yang lain. Merasa meninggi dan merasa lebih baik adalah karakter Iblis dalam Al Quran.

BACA JUGA :   Puisi : Mutiara yang Selamat

Hadirlah dengan penuh kerendahan..

“Ya Allah saya gak bisa, saya minta tolong, saya gak kuasa.”

“Ya Allah, nyerah, maaf selama ini merasa mampu, merasa otak mampu, ikhtiar mampu, padahal semua kuasamu.”

“Ya Allah maaf, banyak klaim prestasi, padahal tenaga darimu, otak karuniamu, nafas pun engkau beri, ide dan gagasan pun engkau yang kasih, maaf aku nge klaim-ngeklaim.”

“Ya Allah aku HambaMu, gerakkan aku pada bisnis yang engkau ridho, pada pekerjaan yang engkau sukai, di sisa usia ini, arahkan hamba pada apa-apa yang bikin engkau senang.”

“Ya Allah engkau Rabbku, aku hambaMu, maka senangmu adalah visiku, ridhomu adalah hasratku, kembali ke sisimu dalam rahmat adalah cita-cita tertinggiku.”

Kita ini hanya hamba Allah, akan kembali ke Allah. Cepat atau lambat. Dunia ini panggung sementara saja. Jangan salah pilih tuhan. Jangan salah pilih majikan.

Itulah ternyata, puncak karir manusia itu bukan puncak gunung tinggi, tetapi ternyata berupa lembah kerendahan seorang hamba.

Lembah menghinakan diri didepan Allah.
Lembah rendah lemah di hadapan Allah.
Lembah dalam penuh harap di mata Allah.

Dan pada lembah itulah semua sumber kehidupan biasanya terhimpun.

Karena siapa yang merasa rendah akan ditinggikan Allah.

Karena siapa yang merasa hina akan dimuliakan Allah.

Karena siapa yang merasa lemah akan dikuatkan Allah.

Karena siapa yang merasa bodoh akan diajarkan Allah.

Karena siapa yang merasa butuh, akan dicukupkan Allah.


Selengkapnya di Majelis Zoom Quranic Management Series, malam ini Rabu 3 Nopember 2021, pukul 20.00 WIB ya.

Terbuka untuk umum, bebas akses, selama zoom nya muat. Kata Kang Dewa Eka Prayoga 3000 akun bisa.

Link pendaftaran zoom malam ini, klik http://bit.ly/qmszoomhamba

Salam, URS
Berkarir jadi Hamba Allah

Bagikan Yok!