November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

PIAM: Si Paman yang Selalu Mengganggu (Bab 3)

PIAM: Si Paman yang Selalu Mengganggu (Bab 3)

Bujuk rayu Adnan akhirnya meluluhkan hati Intan yang keras bagaikan batu. Intan pun mau keluar dari kamarnya dan memaafkan semua kesalahan ayahnya.

Pak Lukman sampai menangis terharu ketika melihat putrinya itu turun dari tangga sambil membawa poster bertuliskan “Maafkan Aku Ayah”. Pak Lukman pun langsung berlari menghampiri putrinya dan kemudian memeluknya sangat erat.

Adnan yang berdiri di belakang Intan, tak kuasa menahan air matanya ketika melihat momen penuh haru itu. Air matanya seketika itu jatuh membasahi wajahnya yang tampan.

Intan yang melihat Adnan menangis, langsung melepaskan pelukan ayahnya dan menyeka air mata Adnan dengan tangan kecilnya.

“Kenapa jadi kamu yang sedih, Adnan? Seharusnya aku kan yang menangis,” ungkap Intan sambil membasuh air mata Adnan.

“Aku sedih karena teringat ayahku yang sudah meninggal, Intan. Kamu beruntung masih memiliki seorang ayah di dalam hidupmu. Sementara aku, sudah tak bisa lagi merasakan kasih sayang seorang ayah,” Adnan memberitahu Intan bahwa ayahnya telah pergi meninggalkannya.

Mendengar bahwa ayah Adnan sudah meninggal, sontak saja Pak Lukman terkejut.

“Apa, ayahmu sudah meninggal? Kenapa keluargamu tidak memberitahu, Paman?” mata Pak Lukman melotot tajam kepada Adnan karena baru memberitahu kabar duka itu sekarang.

“Bukannya ibu tidak mau memberitahu, Paman. Hanya saja keadaannya waktu itu tidak memungkinkan. Paman baru saja bercerai dengan bibi. Jadi, ibu tidak mau menambah kesedihan Paman,” jawab Adnan.

“Tapi seharusnya dia memberitahuku, bukan!” Kemarahan Pak Lukman mulai memuncak.

“Coba bayangkan jika Paman ada dalam kondisi ibuku. Apakah paman mau memberitahu ibuku jikalau seandainya paman kehilangan bibi, sementara paman mengetahui bahwa ibuku baru saja bercerai dari ayahku? Sekarang, aku balik kondisi antara paman dan ibuku. Pasti paman tidak mau menambah kesedihan ibuku kan?” Adnan mencoba membuat Pak Lukman mengerti.

BACA JUGA :   Puisi : Aku Sangat Merindukanmu

Pak Lukman tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepala.

“Sekarang, Paman mengerti kan apa yang aku maksud?” tanya Adnan.

“Kamu benar Adnan. Paman mengerti sekarang. Bagaimana keadaan ibumu sekarang, apakah dia baik-baik saja?” Pak Lukman khawatir dengan kondisi adik perempuannya, makanya dia bertanya kepada Adnan.

“Alhamdulillah, ibuku baik-baik saja, Paman. Lambat laun ibu sudah terbiasa menjalani kehidupannya tanpa kehadiran ayahku. Paman tak usah khawatir,” ungkap Adnan sambil menepuk pundak pamannya.

“Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Kau harus selalu bersama ibumu, Adnan!” Pak Lukman mewanti-wanti Adnan agar jangan pernah meninggalkan ibunya seorang diri.

“Tentu saja, Paman. Aku tidak akan meninggalkan ibuku. Aku akan selalu menjaganya sampai masa tuanya nanti. Oh ya, Paman, aku dan Intan pamit dulu ya,” Adnan baru ingat bahwa ia harus mengantar Intan ke rumah temannya.

“Paman sampai lupa, jaga Intan baik-baik ya, Adnan. Jangan sampai dia terluka. Dia adalah harta paling berharga Paman. Kalau sampai ada satu goresan saja, paman akan memberimu pelajaran, Adnan,” ujar Pak Lukman sambil mengepalkan tangan kanannya ke arah mukanya Adnan.

“Paman tenang saja. Intan aman bersamaku. Pandangan mataku akan selalu tertuju kepadanya,” seru Adnan sambil menatap Intan dengan senyuman manisnya.

Intan tidak berkata apa-apa dan hanya balik memandang Adnan. Mereka berdua saling bertukar pandang satu sama lain. Sepertinya virus-virus cinta mulai hinggap di hati keduanya. Sayangnya, tatapan mesra itu tak berlangsung lama, Pak Lukman dengan sengaja menjentikkan jarinya ke muka Adnan supaya ia tak melihat Intan terlalu lama.

“Woi, cepat berangkat sana. Malah saling memandang. Ingat Adnan, jaga batasanmu, mengerti?” Pak Lukman memperingatkan Adan agar menjaga jarak dari Intan.

“Mengerti, Paman.”

Sebelum Intan memegang pintu mobil, Adnan dengan cepatnya langsung memegang ganggang pintu mobilnya lebih dahulu. Tangan Intan dan Adnan hampir saja bersentuhan. Namun, Pak Lukman langsung menarik tangan Intan, sehingga tangan putrinya itu tidak jadi menyentuh tangannya Adnan.

BACA JUGA :   PIAM : Dikiranya Dia adalah Suamiku (Bab 4)

“Intan, biar aku yang membuka pintunya,” ucap Adnan yang kelihatan canggung.

Adnan bukan hanya membukakan pintu mobil untuk Intan, ia juga memakai kan sabuk pengamannya. Intan berusaha menolak, tapi Adnan tetap bersikeras ingin memakaikannya.

“Adnan, aku bisa memakai sabuk pengamannya sendiri. Kau tidak perlu membantuku,” seru Intan.

“Tidak apa-apa, Intan. Sabuk pengamannya agak susah dibuka, biar aku bantu,” kata Adnan sambil memakaikan sabuk pengamannya kepada Intan.

Saat Adnan berusaha menarik sabuk pengamannya dari kursi, tiba-tiba saja angin bertiup kencang hingga membuat pintu mobil menutup sendiri. Adnan pun sampai terjungkal masuk ke dalam mobil dan hampir saja bibirnya menyentuh bibirnya Intan.

Jaraknya antara keduanya hanya sekitar satu centimeter. Intan sampai kaget dibuatnya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan tubuhnya sampai mandi keringat ketika keduanya hampir mau berciuman. Dengan nada yang terbata-bata, Intan memberanikan diri untuk bertanya.

“Ad nan, ke na pa kau men de ka ti ku. Kau mau apa se be nar nya?”

“Menurutmu aku mau apa, Intan?”

“A a a ku ti dak ta ta ta hu.”

“Sebenarnya aku mau,-“

Adnan tak sempat melanjutkan kalimatnya karena Pak Lukman tiba-tiba saja menggebrak kaca mobil.

“Kalian berdua, apa yang kalian lakukan di dalam? Adnan, buka pintunya!” teriak Pak Lukman.

Kalau Pak Lukman sudah berteriak keras seperti itu, pasti Adnan langsung ketakutan setengah mati. Supaya Pak Lukman tidak semakin marah kepadanya, Adnan pun langsung membuka pintu mobil dan keluar secepatnya.

“Ada apa, Paman?” seru Adnan yang pura-pura lupa pesan pamannya tadi.

“Ada apa ada apa, kamu sudah lupa apa yang paman bilang tadi?”

“Memangnya, Paman bilang apa kepadaku?”

BACA JUGA :   Seketika Pikiranku Kotor

“Dasar kau ini, ya. Paman kan sudah berpesan kepadamu untuk menjaga jarak dari Intan. Baru tadi paman bilang, masa kamu sudah lupa,” ujar Pak Lukman sambil menjewer telinga Adnan.

“Aduh sakit paman, lepaskan!”

“Paman akan lepaskan jika kau mau berjanji tidak akan mengulangi kejadian ini lagi.”

“Iya iya, aku berjanji padamu, Paman. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tapi, kumohon lepaskan tangan paman dari telingaku. Rasanya sakit.”

Pak Lukman pun akhirnya berbesar hati mau melepaskan jewerannya dan memaafkan Adnan.

“Paman, maafkan kesalahanmu ini. Jika Paman sampai melihatnya lagi, Awas kau, Adnan!” Ancam Pak Lukman.

“Iya, aku pamit dulu mengantar Intan ya, Paman?” Adnan meminta tangan Pak Lukman untuk menyalami dan mencium tangannya sebagai tanda meminta restu untuk membawa Intan pergi.

“Jangan kemalaman pulangnya, jangan ngebut, dan jangan biarkan Intan sendirian.”

“Iya, pamanku tercinta. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Dalam perjalanan, Adnan sempat memberhentikan mobilnya di pinggir jalan karena ia mau mengatakan sesuatu yang penting kepada Intan. Perasaan intan mulai campur aduk tidak karuan melihat ekspresi wajahnya Adnan yang begitu serius memandangi dirinya.

“Intan, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ujar Adnan sambil membelai rambutnya Intan.

“Adnan, hentikkan. Jangan lakukan ini. Bicaralah, kau ingin mengatakan apa padaku?” tanya Intan sambil menyingkirkan tangannya Adnan dari rambutnya.

“Aku mau mengatakan….,” suara Adnan tidak bisa didengar jelas oleh Intan karena banyak bus yang membunyikan klakson.

“Adnan, nanti saja bicaranya di rumah temanku. Di sini terlalu bising.”

Adnan seketika itu marah dan melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Intan berkali-kali memperingatkannya supaya tidak mengebut membawa mobilnya. Namun, Adnan tidak menghiraukannya sama sekali.

Sumber gambar;
https://pixabay.com/id/photos/kakek-pensiun-tua-nenek-dewasa-4157450/

Baca bab sebelumnya:

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!