November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

PIAM:Aku Sangat Membenci Ayahku

PIAM: Aku Sangat Membenci Ayahku (Bab 2)

Lelah menunggu Adnan yang belum datang juga, akhirnya Intan meminta izin kepada Ayahnya untuk pergi seorang diri saja.

“Yah, mana Adnan? Dia lama sekali. Acara di rumah temen aku mau dimulai, Nih.”

“Sabar, katanya dia dalam perjalanan. Biar ayah telepon lagi dia.”

Berkali-kali Pak Lukman mencoba menghubungi Adnan, tapi ponselnya malah tidak aktif.

“Kok, nggak ada jawaban ya? Ponselnya nggak aktif, Intan.”

“Sudahlah, aku berangkat sendiri aja. Nunggu Adnan lama sekali.”

“Enggak, Ayah bilang enggak ya enggak,” Pak Lukman marah kepada Intan yang bersikeras mau berangkat ke rumah temannya sendirian.

Intan kesal kepada ayahnya karena sudah memarahinya di depan bodyguard-bodyguardnya. Intan pun tak kuasa menahan air matanya dan kemudian berlari masuk ke dalam kamarnya.

“Intan, Intan, Intan!” Berapa kali pun Pak Lukman memanggilnya, Intan tak menghiraukannya sama sekali.
Melihat sikap anaknya yang ngambek kepadanya, Pak Lukman merasa sedih telah menyakiti hati putri kesayangannya. Ia pun lalu membanting tubuhnya ke atas sofa untuk menenangkan diri sejenak. Ia berbaring sembari meletakkan tangan kanannya di atas dahinya. Sambil memandangi langit-langit rumah, Pak Lukman membayangkan masa lalunya bersama ibunya Intan.

Ia mengingat bagaimana ibunya Intan dulu juga pernah ngambek kepadanya. Ngambeknya Persis seperti intan tadi, tak mau bicara dan langsung mengurung diri di dalam kamar. Di tengah lamunannya, tiba-tiba Pak Lukman kaget mendengar suara orang mengucap salam dari arah pintu.

“Assalamualaikum,” ucap seseorang.

“Waalaikumsalam,” Pak Lukman beranjak dari sofa dan berjalan menuju depan pintu.

Saat tangannya membuka pintu, matanya langsung terbelalak melihat seorang pria tampan berdiri di depannya. Pria itu tidak lain adalah keponakan kesayangannya, Adnan.

Dia datang dengan memakai jaket kulit warna hitam, jeans, hitam, dan kaos warna hitam. Semuanya serba hitam. Sebab, warna favorit Adnan adalah hitam. Jadi dia memakai atribut sesuai warna favoritnya. Begitu tahu itu adalah Adnan, Pak Lukman menyambutnya dengan penuh kehangatan.

BACA JUGA :   Kasih Abadi Bab 2 Abadi Si Batu

“Adnan, akhirnya kamu datang,” ujar Pak Lukman sambil memeluk Adnan.

“Maaf, kalau aku agak terlambat datangnya, Paman. Soalnya tadi jalanan macet. Ya, Paman tahu sendiri lah jalanan Jakarta kayak gimana, macet di mana-mana,” ungkap Adnan.

“Iya, tidak apa-apa. Ayo masuk, biar Paman panggilkan Intan. Anggap saja rumah sendiri,” Pak Lukman mempersilahkan Adnan masuk ke dalam rumah.

Sementara Adnan menunggu di ruang tamu, Pak Lukman naik ke lantai dua rumahnya untuk memanggil Intan di kamarnya. Ia berharap semoga anaknya itu sudah merasa baikan dan tak marah lagi kepadanya.

“Intan, buka pintunya, sayang. Adnan, sudah datang.”

Walau Pak Lukman mengetuk pintunya berkali-kali, Intan tidak mau membukakan pintunya. Sepertinya ia masih marah kepada ayahnya. Berbagai upaya telah dilakukan Pak Lukman agar Intan mau keluar dari kamarnya. Namun, semua itu sia-sia saja,

Intan tetap tidak mau membuka pintu kamar untuk ayahnya. Pak Lukman pun menyerah dan meminta bantuan kepada Adnan untuk membujuk Intan supaya mau memaafkannya.

“Adnan, kamu bisa tolong saya?”

“Minta tolong apa, Paman?

“Paman minta kamu bujuk Intan supaya mau membuka pintu kamarnya dan memaafkan paman. Dari tadi paman sudah mengetuk pintunya, tapi ia tidak mau keluar kamar. Intan benar-benar marah sama paman karena tadi paman tidak sengaja membentaknya.”

“Baiklah, akan aku coba. Paman, tunggu saja di sini.”

“Terima kasih Adnan, kamu memang keponakan paman yang terbaik.”

“Tidak perlu berterima kasih paman, kita kan keluarga. Aku sudah menganggap paman seperti ayah kandungku sendiri. Kalau begitu, aku ke atas dulu ya, Paman.”

“Iya, mohon bantuannya ya, Adnan.”

Sengaja Pak Lukman meminta bantuan Adnan karena Intan selalu mendengarkan apa yang dikatakan saudara sepupunya itu.

BACA JUGA :   PIAM : Pertemuan Adnan dengan Pak Harman (Bab 7)

Sedari kecil, ketika Intan punya masalah, pasti orang pertama yang akan ditemuinya itu Adnan. Apa-apa pasti cari Adnan, Adnan dan Adnan. Pak Lukman sampai heran kenapa Intan begitu lengket dengan keponakannya itu. Hal ini sampai membuat cemburu dirinya. Sebab, tak pernah sekalipun putrinya mau membagi setiap masalahnya kepadanya.

Sejujurnya, Pak Lukman tak mau meminta bantuan Adnan, tapi karena Intan tak mau mendengarkan setiap ucapannya, terpaksa ia menyuruh Adnan menjadi penengah di antara mereka.

Begitu Adnan berdiri di depan pintu kamarnya Intan, ia langsung mengetuk pintunya perlahan.

“Tok tok tok tok tok!” suara ketukan pintu.

“Aku kan udah bilang sama ayah, aku tidak mau buka pintunya,” sahut Intan marah.

“Kamu yakin tidak mau membukakan pintu untuk sahabatmu ini,” balas Adnan.

“Adnan, itu kamu, ya?” teriak Intan dari dalam kamar.

“Iya, ini aku, Intan. Bisakah kau membukakan pintu kamarmu untukku. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu. Aku mohon padamu, buka pintunya sekarang,” begitu tahu yang mengetuk pintunya adalah Adnan, Intan pun akhirnya mau membuka pintu kamarnya.

“Ada apa? Apa yang ingin kamu bicarakan sama aku, Adnan?” tanya Intan.

“Kamu jadi ke rumah temanmu, tidak? Dari tadi aku menunggumu di bawah, tapi kamu tidak mau turun. Sebenarnya, kamu marahan ya sama paman?” Adnan melempar pertanyaan kepada Intan.

“Iya jadi, sebentar, aku ambil tasku dulu,” saat intan mau menutup pintunya kembali, Adnan langsung menarik tangan Intan dan memeluknya sangat erat.

“Adnan, lepaskan aku! Kamu mau apa, sih? Awas ya, kalau kamu macem-macem,” ujar Intan Kesal.

“Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau menjawab pertanyaanku. Kamu marahan ya sama paman?”

“Iya, aku marah sama ayah.”

“Lepaskan aku, kau sudah mendapatkan jawabannya, bukan.”
Sekeras apa pun Intan mencoba, Adnan tetap tidak akan mau melepaskan pelukannya.

BACA JUGA :   Janda Kembang Kurang Kasih Sayang

“Aku akan melepaskannya asal kau mau berjanji kepadaku?” Adnan mau melepaskan pelukannya itu asalkan Intan mau membuat janji dengannya.

“Kau ingin aku berjanji apa, Adnan?”

“Aku mau, kau memaafkan ayahmu. Jangan marah lagi sama dia. Kasihan dia, tadi aku melihat matanya bengkak seperti habis menangis. Paman merasa menyesal karena sudah memarahimu. Apakah kau tak mau memaafkan kesalahannya?”

“Tidak, aku tidak mau. Sekarang, lepaskan aku, Adnan.”

“Aku kan sudah bilang kalau aku tidak akan melepaskannya sebelum kau berjanji kepadaku. Berjanjilah untuk memaafkan kesalahannya Paman.”

Intan sampai merasa risih berada dalam pelukannya Adnan. Semakin lama, Adnan memeluknya semakin erat. Bahkan, perlahan-lahan Adnan mengarahkan wajahnya ke hadapannya. Intan mulai berpikir yang tidak-tidak. Apa jangan-jangan Adnan mau menciumnya. Kemudian Intan menutup matanya dan memalingkan wajah dari Adnan.

“Baiklah, aku berjanji. Aku akan memaafkan ayah,” ucap Intan.

“Apa, bisa kau ulangi sekali lagi? Aku tidak mendengarmu dengan jelas. Ulangi sekali lagi, Intan!” Adnan terus saja mendekatkan wajahnya kepada Intan.

Hampir tidak ada jarak sama sekali diantara mereka. Wajah intan dan Adnan saling berhadapan satu sama lain. Adnan terus menatap wajah Intan sambil membelai rambut indahnya. Sementara Intan, merasa ketakutan setengah mati.

“Aku bilang, aku akan memaafkan ayahku,” ulang Intan.

“Nah, begitu, baru anak baik. Sekarang ambil tasmu dan kita berangkat,” setelah mendengar janji yang diucapkan Intan, Adnan pun akhirnya mau melepaskan pelukannya.

Intan merasakan sesuatu yang aneh saat Adnan memeluknya tadi. Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya seketika menjadi lemas. Sebenarnya, apa yang tengah dirasakan oleh Intan. Apakah dalam hatinya Intan mulai tumbuh benih-benih cinta. Entahlah, dia sendiri belum tahu secara pasti. Tapi, Intan sangat berharap semoga saja itu terjadi.

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/photos/cinta-penghancuran-kota-perang-3599074/

Baca juga;

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!