November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Enggak Usah Dengar Apa Kata Netizen

Enggak Usah Dengar Apa Kata Netizen- Zaman sekarang itu zaman yang menakutkan buatku. Kalau dulu orang mencaci seseorang hanya diketahui oleh beberapa orang, tapi sekarang banyak orang yang mengetahuinya.

Mereka mencaci sepuas hati tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang yang dicacinya itu. Ingatlah, hukum karma berlaku di dunia ini. Siapa yang berbuat, dia yang akan menerima konsekuensinya. Nah, Bagi para netizen yang suka menghina di media sosial, suatu saat nanti hinaan itu akan kembali pada diri kalian sendiri.

Seluruh anggota tubuh yang kita miliki sekarang ini semuanya hanya titipan dari Allah subhanallah taala. Yang sewaktu-waktu dapat diambil lagi olehnya.

Kalau kita diamanahi sebuah barang, pastinya kita akan menjaganya dengan hati-hati, bukan?. Hal ini sama dengan tubuh kita, Allah meminjamkan tubuh ini agar manusia bisa mempergunakan dan menjaganya sebaik mungkin.

Di akhirat kelak, Allah pasti akan meminta pertanggungjawaban kita tentang tubuh yang kau miliki sekarang ini.

Manfaatkanlah waktu dunia yang sedikit ini untuk hal-hal yang berfaedah. Jangan mempergunakannya untuk berbuat kejahatan.

Hampir setiap hari telinga kita sampai panas mendengar nyinyiran para netizen di dunia Maya. Mereka mengatakan sesuatu tanpa ada dasar yang jelas. Hanya sekedar berargumen dari data yang belum tentu kebenarannya itu valid.

Mereka bahkan berani menghujat sana-sini, seperti tidak punya hati nurani sama sekali. Manusia di dunia pasti membuat kesalahan, mereka bukan makhluk suci layaknya malaikat yang berhati bersih. Jika kau tidak suka kepada seseorang, lebih baik diam. Kalau aku sih biasanya seperti itu.

Apabila aku tidak suka pada satu orang, aku akan langsung pergi dan tidak mau berbicara kepadanya. Menurutku diam jauh lebih baik daripada aku berbicara yang nantinya akan semakin menambah runyam suatu masalah. Seperti kata pepatah, diam adalah emas.

BACA JUGA :   Intersubyektivitas

Sebetulnya, orang yang menghina atau mencaci itu yang harusnya merasakan penderitaan, bukan kita. Alasan para netizen berkomentar buruk itu karena keberadaan kita yang mengganggu mata dan batin mereka.

Kehadiran kita membuat mereka terganggu sehingga terlontar lah ujaran-ujaran yang menyakitkan hati. Sepanjang apa yang kita lakukan atau perbuat itu tidak menentang nilai agama, moral, dan tradisi di masyarakat, kita abaikan saja komentar pedas mereka yang tidak membangun sama sekali.

Misalnya, ada seorang netizen yang berkomentar buruk tentang postingan kita di media sosial, alih-alih merasa kesal dan jengkel, kita abaikan saja dan anggap tak pernah ada.

Kalau perlu, nggak usah dibaca saja komentar-komentar itu. Daripada dibaca, nantinya semakin menambah rasa sakit di hati kita. Lebih baik tak usah dihiraukan hal-hal yang tidak penting seperti itu.

Jalani hidupmu apa adanya dan tak usah dengarkan komentar mereka. Biarlah mereka bicara sepuas hatinya, nanti juga capek sendiri. Mungkin mereka punya banyak tekanan ya dalam hidupnya sehingga melampiaskan amarahnya di media sosial.

Entahlah, aku juga tidak tahu.
Hidup di dunia ini cuma sekali, sayang kalau dihabiskan hanya untuk mengomentari hidup orang. Manfaatkan sisa-sisa usiamu pada suatu hal yang bermanfaat, misalnya membuat karya, berbagi pada sesama, bersilaturahmi, jalan-jalan, atau apa pun itu yang kau suka.

Daripada ngurusi ribuan komentar dari orang asing, mendingan kita jalan-jalan menikmati keindahan alam sang pencipta. Bener nggak?.

Sekali lagi aku ingatkan, karma itu ada teman-teman. Kalau kau hari ini menyakiti hati seseorang, entah dua atau tiga tahun ke depan, kau pasti akan menerima konsekuensi dari perbuatanmu itu.

Tak ada yang tahu kapan datangnya karma, hanya Tuhan pencipta alam yang mengetahuinya. Oleh karena itu, yuk bermedia sosial dengan bijak.

BACA JUGA :   Renungkanlah Nasihat Dari Orang-Orang Bijak Ini

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/photos/menutup-mata-buta-rambut-gadis-1732522/

Baca juga :

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

indriani (123)

Bagikan Yok!