November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Pengaruh Islam ke Bangsa Arab

FIKRUL ISLAM – Pemikiran Islam telah mengubah bangsa Arab dari suatu kondisi kepada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Pemikiran Islam juga telah melahirkan revolusi radikal di dalam kehidupan mereka secara keseluruhan. Sebelumnya, mereka menyembah patung–dengan anggapan bahwa hal itu dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah–kemudian beralih pada penyembahan kepada Allah semata. Demikian pula, sebelumnya ikatan kesukuan (ar-rabithah al-qabiliyyah) menjadi pengikat satu dengan yang lain. Kemudian ikatan itu berubah, yakni dengan menjadikan akidah Islam sebagai pengikat yang kukuh di antara mereka. Demikian juga sebelumnya, kepentingan pribadi dan suku menjadi tolok ukur di dalam kehidupan mereka. Kemudian tolok ukur itu berubah, yakni dengan menjadikan halal dan haram sebagai satu-satunya tolok ukur bagi mereka. Pemikiran Islam telah memberikan sifat kepada mereka dengan sifat-sifat akhlak yang terpuji, seperti jujur dalam bertutur, menyambung silaturahmi, dan berbuat baik pada tetangga. Perubahan ini tampak jelas dalam sebuah diskusi yang terjadi antara umat Islam yang hijrah ke Habasyah dengan Najasy sewaktu orang-orang Quraisy mengutus Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amru bin al ‘Ash untuk memulangkan kembali umat Islam (yang hijrah). Saat itu Najasy berkata kepada umat Islam yang berhijrah, “Apa sebenarnya agama ini, yang telah memecah belah kaum kalian, sementara kalian juga tidak masuk ke dalam agamaku atau salah satu agama di antara ajaran (millah) yang ada?” Maka Ja’far bin Abi Thalib berkata, “Wahai Paduka, dahulu kami adalah suatu kaum yang diliputi kebodohan (jahiliah) dengan menyembah patung, memakan bangkai, melakukan perzinaan, memutuskan silaturahmi, berlaku buruk pada tetangga, yang kuat memakan yang lemah. Begitulah keadaan kami dahulu. Hingga Allah menghadirkan ke hadapan kami seorang rasul dari kalangan kami sendiri yang kami kenal garis keturunan, kejujurannya, amanahnya, dan kesuciannya (‘iffah).” “Ia datang menyeru kami untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya. Lantas kami mencampakkan apa yang dahulu kami dan leluhur kami sembah selain Allah berupa bebatuan dan berhala. Ia memerintahkan kepada kami untuk jujur dalam bertutur, menunaikan amanah, menyambung silaturahmi, berbuat baik pada tetangga, menahan diri dari perkara yang diharamkan, dan tidak saling menumpahkan darah.” “Ia pun melarang kami untuk melakukan kemesuman (al fawaahisy) dan perkataan keji (qawl uz zuur), memakan harta anak yatim, serta menuduh berzina perempuan yang baik-baik. Dia pun memerintahkan kami untuk semata-mata menyembah Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melaksanakan salat, saum, zakat (sebuah riwayat menyebutkan hingga mencapai bilangan perkara yang diperintahkan Islam).” “Lalu kemudian kami membenarkan dan mengimani beliau, serta mengikuti apa yang beliau bawa dari Allah. Sehingga kami hanya menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kami mengharamkan apa yang diharamkan bagi kami dan menghalalkan apa yang dihalalkan bagi kami.” “Tetapi kaum kami malah memusuhi dan menyiksa kami, menimpakan cobaan (fitnah) kepada kami agar kami menjauhi agama kami guna mengalihkan kami kepada penyembahan terhadap berhala setelah kami menyembah Allah. Dan agar kami kembali menghalalkan apa yang dahulu pernah kami halalkan berupa barang-barang najis (al khabaa-its).” “Tatkala mereka memaksa kami dan menzalimi kami serta mempersempit ruang gerak kami, menaruh tapal batas antara kami dan agama kami, maka keluarlah kami menuju ke negeri Paduka. Padukalah yang kami pilih di antara sekian banyak yang ada. Kami begitu berharap agar dapat berada di sekitar Paduka dengan harapan kami tidak akan dizalimi bila berada di sisi tuan wahai Paduka Raja.” Serta merta Najasy menyela, “Apakah anda membawa sesuatu yang datang dari Allah?” Ja’far menjawab, “Benar.” Najasy melanjutkan, “Perdengarkan kepadaku!” Maka mulailah Ja’far membacakan surat Kaaf Haa Yaa ‘Ayn Shaad. Demi Allah, saat mereka mendengar, Najasy pun menangis hingga (air mata) membasahi janggutnya disertai cucuran air mata para pendeta yang membasahi mushaf yang ada di pangkuan mereka. Kemudian Najasy berkata kepada mereka, “Sesungguhnya perkara ini (Islam–peny.) dan apa yang dibawa oleh Isa as. benar-benar keluar dari satu misykat (cahaya/sumber–peny.) yang sama. Maka pergilah kalian berdua. Sekali-kali tidak, demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka (umat Islam) kepada kalian berdua, dan tidak akan membuat mereka teperdaya,” demikian ucap Najasy kepada dua BB utusan Quraisy.

BACA JUGA :   Apa yang Kau Sukai ?

Sumber MMC

Bagikan Yok!