November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Puisi Tentang Wanita-Wanita Tangguh

Puisi Tentang Wanita-Wanita Tangguh

Puisi pertama :
Kehebatan Wanita Gunung

Di jalan setapak yang menjulang tinggi yang membentuk segitiga
Terlihat segerombolan wanita berkerumun menanam akar-akar bumi
Tubuh mereka kecil tapi kuat mengangkat cangkul yang begitu beratnya
Aku sangat takjub dengan kemampuan para wanita gunung Rinjani
Berani mempertaruhkan nyawa demi kehidupan layak bagi keluarganya
Bukan keinginan mereka untuk menjadi seorang tulang punggung keluarga
Namun, karena keadaan ekonomi yang sulit mengharuskan mereka melakukannya
Ada banyak kisah-kisah mengharukan di balik sosok wonder woman ini
Ada yang ditinggal suaminya entah ke mana
Ada yang terpaksa bercerai karena kekerasan rumah tangga
Ada yang suaminya yang sakit-sakitan
Dan ada banyak yang suaminya meninggal dunia karena bencana longsor
Maklum, daerah gunung rawan akan bencana dahsyat itu
Usia para wanita gunung ini terbilang masih sangat muda
Kebanyakan dari mereka menikah dalam usia muda
Sebenarnya mereka tak ingin menikah di usia semuda itu
Mereka ingin belajar seperti para wanita perkotaan
Menjadi wanita mandiri dan tak bergantung pada seorang laki-laki
Sekali lagi….
Ekonomi sulit menjadi alasan utama mereka putus sekolah
Tingkat pendidikan mereka hanya setamat sekolah dasar
Namun kebanyakan tidak mengenyam bangku pendidikan sama sekali
Saat melihat rombongan mahasiswi studi wisata ke tempat lahir mereka
Pandangan matanya tak henti-hentinya meneteskan air mata
Mereka berharap bisa sama seperti mereka
Punya kebebasan dan tidak terbebani tanggung jawab keluarga
Mereka mengatakan kepadaku….
Hidupmu itu sangat beruntung sekali
Aku sangat iri kepadamu sahabatku
Aku ingin sekali punya gelar sama sepertimu
Duduk bersama orang-orang sukses dan menjadi bagian dari mereka
Seandainya saja aku lahir di tanah perkotaan bukan di pegunungan
Mungkin saja aku akan menjalani kehidupan yang layak seperti dirimu
Aku langsung terkejut mendengarkan keluh kesahnya itu
Justru aku sebaliknya….
Aku sangat iri dengan kalian wanita gunung
Hidup di tanah hijau nan asri tanpa ada polusi sama sekali
Tidak ada suara bising kendaraan dan hidup menyatu dengan alam
Aku ingin sekali menjadi bagian dari kalian
Kalian hidup sederhana apa adanya
Kalian berteman tak memandang kaya atau miskin
Sikap keramahtamahan kalian membuatku nyaman dekat bersamamu
Tapi, mengapa kalian mengatakan bahwa hidup di kota sangat mengasyikkan
Jikalau kalian mengetahui yang sebenarnya….
Kalian pasti akan berpikiran sama sepertiku
Dari perbincangan ini aku menyadari satu hal
Kita tak bisa memilih ingin lahir dan hidup di mana
Kehidupan yang menurutku pandanganku baik
Belum tentu baik di mata manusia-manusia lainnya
Syukurilah di mana pun Engkau berada sekarang
Jalani hidupmu apa adanya dan jangan isi dengan kepura-puraan
Satu kebohongan akan membuat kebohongan-kebohongan berikutnya
Berkat para wanita gunung aku mempelajari semua itu
Mereka bukan hanya teman bagiku
Melainkan sudah aku anggap selayaknya keluarga bagiku
Meskipun baru pertama kali berjumpa
Kami merasa seperti sudah terikat lama sekali
Mungkinkah aku berasal dari gunung sama seperti mereka?
Entahlah, aku tidak tahu apa pun?
Wahai wanita-wanita perkotaan
Jangan mengeluh dengan kehidupan yang kau jalani saat ini
Tengoklah saudara-saudaramu di tanah menjulang ini
Ujian kehidupan mereka jauh lebih berat dibandingkan ujianmu
Hijau kau tak bisa makan, kau bisa membeli di supermarket
Tapi tidak dengan merak para wanita gunung
Mereka harus melawan maut hanya untuk memetik sebiji apel
Belajarlah dari kehidupan wanita gunung

BACA JUGA :   Renungkanlah Nasihat Dari Orang-Orang Bijak Ini

Puisi Kedua :
Pejuang Wanita yang Terlupakan

Dalam setiap peperangan di planet bumi ini
Pasti wanitalah yang banyak kena imbasnya
Padahal mereka tak mengetahui apa pun
Mereka tak mengerti tentang masalah yang terjadi
Fenomena apa yang menjadi penyebab perang?
Mereka tak mengerti apa pun sama sekali
Kehidupan yang awalnya damai nan sejahtera
Tiba-tiba terusik dengan ledakan bom di atas langit
Gedung-gedung yang tadinya utuh, kini hancur serata tanah
Bunga-bunga taman yang tadinya mekar, kini hancur terbaring mati
Suara gelak tawa anak-anak nan lucu, kini tergantikan suara kesedihan
Kebahagiaan telah sirna meninggalkan kehidupan
Di setiap sudut hanya terdengar suara tangisan perempuan
Yang ditinggal mati suaminya ke alam baka
Kesucian diri yang dulunya menghias sanubari
Kini telah terenggut oleh para tentara yang tak punya hati
Setiap malam para wanita dijadikan pemuas nafsu birahi
Para wanita itu sudah berusaha tuk menolak
Tapi kekuatan mereka tak sanggup menandingi kekuatan pria
Mereka hanya bisa pasrah menerima takdir menyedihkan ini
Tak sanggup diriku menjelaskan lebih dalam lagi
Hatiku hancur begitu aku membayangkan kejadian ini
Cukup, cukup, cukup, aku tidak mau berkata apa-apa lagi
Kelakuan para tentara itu seperti layaknya binatang liar
Peri kemanusiaan dalam dirinya telah terbakar bersama api yang membara
Tapi, para perempuan tak akan tinggal diam
Mereka akan membalas setiap tetesan air mata yang jatuh ke tanah ini
Api dendam telah menyala dalam dada mereka
Kemarahan itu telah berkobar begitu hebatnya
Sekarang, mereka telah berubah menjadi seorang pejuang
Pejuang yang ingin merebut kehormatan yang telah direnggut darinya
Mereka rela meninggalkan anak-anaknya di rumah seorang diri
Mereka tak peduli lagi dengan kecantikan atau pun urusan rumah tangga
Mereka hanya punya satu tujuan dalam hidup
Membalas dendam kepada para tentara jahanam si perenggut kebahagiaan
Sosok mereka berubah 180 derajat
Tangan mereka tak menggenggam panci atau penggorengan lagi
Yang ada di tangan mereka sekarang adalah senjata
Senjata yang jauh lebih mematikan dibandingkan senjata para tentara jahanam
Para wanita ini tak takut mati
Mereka tak peduli bahwa yang menjadi lawannya adalah pria bertubuh kekar
Yang mereka pedulikan hanyalah kebahagiaan tanah mereka kembali
Hanya itu tujuan yang hendak dicapai oleh mereka
Menyingkirkan para pria asing dari tanah kelahiran mereka
Karena merekalah keluarga mereka pergi meninggalkan dunia ini
Karena merekalah anak-anak mereka menangis
Karena merekalah tubuh para wanita ternoda
Dan karena merekalah tanah kelahirannya dilanda kesedihan
Cukup, cukup, cukup, sudah cukup kalian membuat hidup kami menderita
Teriakan itu sebagai pertanda bahwa balas dendam siap dimulai
Tangan mereka mulai menarik senapan sekuat mungkin
Mata mereka menatap begitu tajam mencari sang mangsa
Dan begitu peluru diluncurkan….
Matilah semua para tentara jahanam
Hanya satu tembakan peluru mematikan semuanya
Akhirnya tanah dipenuhi dengan lautan mayat para tentara
Para wanita mengucap rasa syukur kepada sang pencipta
Karena telah mengabulkan setiap doa yang ter panjatkan
Kini, para perempuan bisa bernafas dengan lega
Kebahagiaan yang selama ini di dambakan
Akhirnya akan menjadi sebuah kenyataan
Namun, semenjak bergantinya zaman kehidupan
Tak ada satu pun orang yang mengingat jasa mereka
Sejarah pejuang perempuan seperti ditelan bumi
Generasi muda tak mengetahui sejarah itu sama sekali
Mereka hanya mengenal pejuang pria yang hebat
Hanya pejuang pria yang dikenal seantero negeri
Lalu, di mana kabar sejarah pejuang perempuan?
Apakah kalian semua melupakannya?

BACA JUGA :   Puisi : Ada Apa dengan Zaman Ini?

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/photos/kakek-nenek-pahlawan-wanita-tua-2456200/

Baca juga:

Cerita Cintaku : Kenapa Pak Guru Marah

indriani (123)

Bagikan Yok!