November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Patung Soekarno

Sejarah senantiasa berulang, Dahulu kala ketika Manusia membuat Patung untuk mengingat kesalehan orang orang baik. Akan tetapi sekian lama dan waktu berselang patung patung tersebut berubah menjadi berhala-berhala yang diagungkan. Wadd menjadi berhala untuk kamu Kalb di Daumatul Jandal. Suwa’ untuk Bani Hudzail. Yaquts untuk Murad dan Bani Ghuthaif di Jauf tepatnya di Saba`. Adapun Ya’uq adalah untuk Bani Hamdan. Sedangkan Nashr untuk Himyar keluarga Dzul Kala’. Itulah nama-nama orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kaum itu untuk mendirikan berhala pada majelis mereka dan menamakannya dengan nama orang-orang saleh itu.

Pada saat ini abad Milenial Megawati menginstruksikan kadernya agar di setiap daerah dibuat patung Soekarno. Sebuah instruksi yang berlebihan dan keluar dari proporsi sebuah penghormatan, bahkan cenderung kepada pemujaan. Kultus individu yang berlebihan jelas merupakan esensi dari keberhalaan. Berhala baru itu bernama Soekarno.

Sesuatu yang berlebihan itu dilarang karena berakhir pada kehinaan. Demikian juga dengan penghormatan yang berlebihan bisa berakhir pada penghinaan. Kurang di puja bagaimana Latta Uzza dan Manaf, akhirnya juga dihancurkan dengan penuh penghinaan seusai Fatchul mekah.Jika Sepertinya Megawati tidak memahami aspek sejarah ini.

Selain itu kekeliruan instruksi untuk membuat patung Soekarno di mana-mana di antaranya adalah :

Pertama, Soekarno tidak sendirian sebagai proklamator tetapi bersama Moh Hatta. Jika alasan sebagaimana dikemukakan Mega untuk menghormati Proklamator, semestinya adalah Soekarno bersama Moh Hatta. Akan tetapi dipastikan Mega dan kadernya berkeberatan karena yang dikehendaki adalah tampilan Soekarno seorang.

Kedua, sebagaimana singgungan Megawati soal umat Islam, meski yang disebut umat Islam garis keras, akan tetapi banyak di kalangan umat yang memahami bahwa pembudayaan patung adalah di luar ajaran Islam.

BACA JUGA :   HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN

Ketiga, Penghormatan berlebihan terhadap Soekarno akan memicu perdebatan atas cacat-cacat Soekarno, baik soal perempuan, kedekatan dengan PKI, permusuhan dengan ulama, atau lainnya, yang berujung menjadi boomerang baik bagi citra Soekarno maupun Megawati dan kader kadernya

Semestinya instruksi Megawati dievaluasi realisasinya karena dapat menjadi kontra-produktif, baik secara religi maupun sosial kemasyarakatan.

Penghormatan lebih efektif dilakukan melalui pemberian pelajaran sejarah pada generasi muda dengan baik, konstruktif, jujur dan tidak manipulatif.

Patung patung hanya awal dari setan menyesatkan manusia. Berawal dari penghormatan berlebihan berlanut ke kultus individu dan berakhir kepada penghambatan berhala.
Naudzubillah…

Bagikan Yok!