November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya

Novel : Paman, Izinkan Aku Menikahinya!

Bab 1 : Masa Lalu Hadir Kembali

Pak lukman (50 tahun) merupakan pemilik perusahaan property terbesar di Indonesia. Nama perusahaannya adalah PT. Intan Permana. Nama perusahaannya itu diambil dari nama putri kesayangannya yaitu Intan Angelica Permana (25 tahun). Seorang gadis berdarah Indonesia dan Belanda ini mempunyai paras yang cantik layaknya seorang Miss Universe.

Bentuk tubuhnya langsing, tinggi, kulitnya sawo matang, dan matanya biru. Mata kebiruannya itu menurun dari sang ibu yang orang asli Belanda.

Sayangnya ayah dan ibunya intan bercerai sejak umurnya masih 9 tahun. Sang ibu kembali ke Belanda dan menikah lagi. Sementara sang ayah, Pak Lukman, sampai sekarang masih hidup seorang diri tanpa adanya seorang istri di sisinya. Ia memilih tidak menikah karena belum bisa melupakan ibunya Intan. Hatinya masih terpaut oleh kenangan masa lalu bersama mantan istrinya itu.

Menurutnya, ibunya intan adalah wanita yang sempurna di dunia ini. Tak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi ibunya intan di dalam hatinya. Setiap Pak Lukman melihat Intan, pasti ia akan terbayang wajahnya. Sebab, fisik sang anak sangat mirip dengan mantan istrinya.
Karena kecantikan yang dimiliki oleh Intan, banyak pria seantero negeri berharap bisa menjadi suaminya.

Bahkan, pernah ada seorang pria yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi. Pria itu akan berhenti mengusik kehidupannya Intan, jikalau Pak Lukman mau memberikan restu kepadanya untuk menikahi putrinya. Tentu saja Pak Lukman tidak mengizinkannya. Ia tidak mau memberikan putrinya pada orang jahat seperti pria itu. Pak Lukman pun tak tinggal diam, ia langsung menjebloskan pria itu ke dalam penjara.

Karena kejadian itu, Intan sangat ketakutan hingga tak mau keluar kamar selama tujuh hari. Seiring berjalannya waktu, ketakutan dalam diri Intan perlahan hilang. Tapi, tidak dengan Pak Lukman. Ia menjadi sangat super protektif kepada putrinya. Ia tak pernah membiarkan putrinya pergi seorang diri. Pasti kalau Intan pergi keluar, ia akan memerintahkan bodyguardnya untuk menjaga anaknya itu.
Kali ini saja, ketika Intan mau mengunjungi rumah temannya, ayahnya menyuruh enam bodyguard untuk mengawalnya.

BACA JUGA :   Kasih Abadi Bab 6 Sekaleng Soda Dingin

Intan tak tahan lagi dengan sifat ayahnya yang super protektif ini dan akhirnya Intan marah besar kepada ayahnya.

“Ayah, hentikkan semua ini. Aku tidak apa-apa, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagian rumahnya juga dekat kok dari sini. Aku nggak perlu bodyguard. Ayah, pecat saja mereka. Aku tidak membutuhkan mereka,” bentak Intan kepada ayahnya.

“Intan, ayah melakukan ini semua untuk melindungimu. Bagaimana jika dalam perjalanan ada pria yang mengganggumu? Ayah hanya tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu. Kamu adalah harta ayah yang paling berharga di dunia ini. Ayah sudah kehilangan ibumu, dan ayah tak mau kehilangan dirimu. Ayah mohon, mengertilah Intan,” matanya Pak Lukman sampai berkaca-kaca memandangi putri semata wayangnya itu.

“Aku mengerti, ayah. Tapi ini sudah kelewatan. Aku tak tahan lagi dengan semua ini. Sampai kapan aku harus ditemani bodyguard. Aku ingin bebas. Kumohon, biarkan aku pergi sendiri ya. Aku janji kepada ayah, aku akan menjaga diriku sebaik mungkin.”

Pak Lukman menggeleng-gelengkan kepala yang artinya ia tidak percaya dengan ucapan intan.

“Tidak, kamu itu ceroboh, Intan. Sama seperti ibumu. Kalau kau pergi sendirian, pasti ada saja masalah. Tidak, ayah tidak mau ambil risiko. Pokoknya, jika kamu mau keluar, kamu harus ditemani oleh bodyguard. Titik.”

“Tapi, -“

“Enggak ada tapi tapi an, kamu harus patuh sama perintah ayah,” Pak Lukman pergi dan tak mau mendengarkan permintaan Intan.

Sejujurnya, Intan tak mau menuruti ayahnya, tapi karena ini acara selamatan rumah baru sahabatnya yang baru pulang dari Belanda, ia pun harus menghadirinya meskipun ditemani oleh enam orang bodyguard. Kalau ia sampai tidak datang, pasti sahabatnya itu akan sedih dan tak mau lagi bertemu dengannya.

BACA JUGA :   Pilih Aku atau Ibumu? : Pertemuan Pertama

Berjam-jam ia bersiap di dalam kamar memilih gaun mana yang cocok untuk dikenakan. Dan keputusan terakhirnya adalah ia mengenakan dress warna merah yang baru dibelikan oleh ayahnya sewaktu mengunjungi sang ibu di Belanda. Intan tersenyum melihat dirinya di depan kaca saat mengenakan gaun merah itu. Ia berputar-putar hingga roknya mengembang ke udara.

Ia sangat bahagia memakai gaun merah pemberian ayahnya. Dari semua gaun yang ia punya, gaun inilah yang paling ia suka.
Namun, perasaan bahagia tadi sekejap sirna setelah mendengar salah satu bodyguardnya memanggilnya dari luar kamar.

“Non intan, apakah sudah siap?” tanya sang bodyguard.

“Iya, aku sudah siap. Kamu siapkan mobilnya,” teriak Intan dari dalam kamar.

“Baik non, akan segera saya siapkan mobilnya. Kalau begitu saya turun duluan, ya Non?” sang bodyguard meminta izin kepada Intan untuk pergi ke bawah lebih dahulu.

“Iya, sana pergi!” teriak Intan jutek.

Di wajahnya yang cemberut terpampang jelas bahwa Intan tak suka pada bodyguard-bodyguard ayahnya itu.

Intan sangat membenci mereka semua karena tidak memberikan kebebasan sekalipun untuknya. Kalau mau melakukan apapun pasti mereka akan selalu bertanya ini itu, intan sampai risih berada di dekat mereka. Intan menuruni tangga rumahnya dengan kaki diseret yang menunjukkan rasa kekesalannya kepada sang ayah.

“Non Intan, mobil sudah siap. Kita berangkat sekarang?” kata sang bodyguard dengan sopannya.

“Iya, kita berangkat sekarang. Ayah, aku pamit ya,” ujar Intan sambil menyalami tangan ayahnya.

“Hati-hati di jalan ya, Intan. Ingat, pulangnya jangan kemaleman. Jam lima sore kamu sudah harus di rumah. Kamu mengerti?” peringatan Pak Lukman kepada Intan.

“Iya, aku mengerti. Assalamualaikum.”

BACA JUGA :   Cerita Cintaku : Berbuat Salah Demi Cinta

“Waalaikumsalam.”

“Ehm, Intan, tunggu sebentar!” Intan yang tadinya sudah bersiap masuk ke dalam mobil, tiba-tiba keluar lagi karena Pak Lukman memanggilnya.

“Ada apa ayah?” tanya Intan penasaran.

“Begini saja, bagaimana kalau kamu ditemani Adnan? Ayah tidak akan khawatir jika kamu bersamanya. Bagaimana intan, boleh kan Adnan ikut denganmu?”

Sejenak Intan diam dan memikirkan jawaban apa yang harus diberikan kepada ayahnya.

“Daripada pergi sama bodyguard, kayaknya lebih enak sama Adnan. Aku bisa lebih leluasa melakukan apa pun yang aku mau. Baiklah, aku pergi sama Adnan saja,” gumam Intan dalam hati.

Melihat putrinya yang melamun, Pak Lukman langsung menepuk pundaknya dengan keras.

“Aduh, sakit ayah. Kenapa ayah memukulku?”

“Habisnya, kamu melamun. Jadi, gimana, mau ditemani Adnan atau tidak?”

“Iya deh, mendingan aku keluar sama dia ketimbang sama bodyguard.”

“Oke, ayah telepon dia dulu.”

Pak Lukman mengambil handphonenya di dalam saku celana sebelah kiri. Ia mulai menelusuri setiap kontak yang ada di Handphonenya untuk mencari nomornya Adnan (27 tahun), keponakan kesayangannya.

Semenjak kecil, Adnan dan Intan sudah menjadi teman akrab. Ya sebenarnya, dia adalah saudara sepupunya Intan, tapi lagaknya kayak temen gitu. Dulunya dia itu anak yang cupu, hitam, gemuk, dan mudah cengeng kalau diganggu teman sebayanya.

Tapi, sekarang penampilannya berubah 180 derajat. Tubuhnya sekarang jauh lebih kurus, kulitnya putih, punya jenggot di dagunya, rambutnya klimis, dan wajahnya super tampan kayak orang arab gitu.

Dua minggu sebelumnya, Adnan pernah berkunjung ke rumahnya Intan. Pertama kali melihatnya dalam sosok dewasa, Intan dan Pak Lukman hampir tak mengenalinya sama sekali
.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/pria-wanita-menyusun-sengketa-2933984/

indriani (123)

Bagikan Yok!