November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kelalaian Orangtua, Mata Mali Rusak

Sebut saja namanya Mali seorang anak lelaki yang memiliki bapak sehari-hari bekerja sebagai buruh lepas di Perkebunan kelapa Sawit milik PT. Sinar Mas, dan ibunya sehari-hari sebagai ibu rumah tanggah beralamat di daerah Lereh, Kabupaten Jayapura, Papua.

Sebut saja namanya Mali seorang anak lelaki yang memiliki bapak sehari-hari bekerja sebagai buruh lepas di Perkebunan kelapa Sawit milik PT. Sinar Mas, dan ibunya sehari-hari sebagai ibu rumah tanggah beralamat di daerah Lereh, Kabupaten Jayapura, Papua.

Keluarga ini di karuniahi dua orang anak, dengan anak pertama bernama Asahili dan anak kedua bernama Mali berumur 5 tahun, yang kini mengalami kesakitan karena jatuhnya talang air.

Anak Mali tercatat sebagai siswa sekolah pendidikan usia dini (PAUD) di taman kanak-kanak, Lereh.

Pasangan suami dan istri ini hanya lulusan SMA, karena itu Orangtua bertekad untuk menyekolahkan setiap anak agar menyelesaikan pendidikan tinggi. Kata-kata mereka yang sering disampaikan, sebagai orang tua harus berusaha supaya setiap anak jangan mengikuti jejak orangtu yang sama-sama tidak berpendidikan ini.

Bapak Mares asal NTT yang sudah menetap di kampung Lereh sejak masih muda dan bekerja di perkebunan kelapa sawit. Dia mengadu nasib ke tanah Papua dan mulai bekerja di perusahan sejak tahun 1999 dan menjalin cinta kasih hingga hidup berumah tangga.

Menurut bapak Mares, perusahan awalnya bagus beroperasi. Namun, sekarang meninggalkan banyak masalah bagi buruh dan masyarakat lokal setempat. Terkadang hak buruh tidak di bayar, dan masalah air bersih dan rumah layak huni.

Bapak Mares merasa tertekan dan bersalah karena melihat anaknya yang sempat sehari tidak di bawah ke rumah sakit karena kurang biaya.

Sempat dia mengeluarkan kekesalannya dan memohon ke perusahan agar tempat dia bekerja itu bisa membantu uang transportasi untuk mengantarkan anaknya itu ke rumah Sakit.

Dan bapak ini, menyalahkan perusahan karena tidak dapat menyediakan air bersih bagi karyawan dan bagi buruh disana. Ini bermula masalah air yang hingga kini tidak di sedikan oleh perusahan. Kami hanya mengandalkan air hujan saja, lihat talang yang saya taruh itu dengan harapan dapat menampung sejumlah air yang mengalir dari seng rumah sehingga dapat kami tadah di drum.

BACA JUGA :   Jika Tidak Awasi, Buah Hati Anda Bisa Saja Menjadi Korban Kejahatan Siber

Tapi masalah air menyebabkan, talang yang pasang itu jatuh dan menimpah anak saya yang kedua ini. kondisi awal melihat anak saya tentu saya tidak terima, tapi setelah di rawat di rumah sakit dan kini membaik. Puji Tuhan, karena anak saya sekarang tidak menangis kesakitan lagi seperti awal kenal tusuk dari alat talang ini.

Bapaknya berharap ada bantuan dari pemerintah dan para donatur yang berhati mulia. Melihat perobatannya membutuhkan penanganan medis profesional sehingga butuh dana yang besar. Apa lagi Kartu Papua Sehat (KPS) 9 hanya proteksi bagi anak saja yang sedang sakit.

Sedangkan orangtua tidak ada bantuan akomodasi sama sekali. Padahal dia sangat tidak bisa bila tidak ada kedua orangtuanya disamping. Sedangkan, kakanya yang pertama sudah sekolah, sehingga hanya mamanya saja yang akan mendampingi ke RSCM Jakarta. Kami sekarang masih membutuhkan uluran tangan donasi, supaya kebutuhan istri saat dampingi anak ini di jakarta bisa tertanggulangi dengan baik.

Kedua anak ini di rawat penuh dengan kasih sayang dan di sekolahkan di dengan harapan setiap anak kelal berpendidikan dan mempunyai pekerjaan yang layak dan tidak seperti kami orangtua yang tidak sekolah tinggi.

Saat di rumah sakit, anak ini nampak kesakitan, sering menangis karena merakan pedis bagian mata kirinya yang terkena benda tumpul. Tapi setelah di rawat selama satu minggu lebih, wajahnya tampak ceriah, dia bisa jalan-jalan dalam ruangan rumah sakit. Namun hanya sering merasa perih di luka. Anak sangat berbaur dengan lingkuan dan teman-teman di lingkungan sosial, sehingga kepada siapa saja dia bisa datang dan menjebat tangan.

Awal kejadian pada malam hari itu turun hujan, dan memang musim hujan beberapa hari di bulan Agustus ini, dan bapak Mares mencoba memperbaiki talang air yang di pasang di ujung seng rumah, dia mencoba menempatkan pada posisi yang benar sehingga talang air itu bisa mengarahkan air hujan (dari seng rumah) yang jatuh masuk ke dalam talang air dengan benar dan mengalirkan ke wadah drum yang tersedia di samping rumah. Air hujan yang terkumpul di drum itu nantinya di gunakan untuk keperluan cuci, masak dan mandi di dalam keluarga.

BACA JUGA :   Pasangan Yang Seperti Ini, Yang Seharusnya Dicari!

Keesokkan harinya, Anak Mali dan bapaknya ingin melihat talang air itu, tanpa tidak sengaja, bapak membenarkan letak talang air yang telah di pasang itu agar lebih aman lagi. Tapi, pada saat yang bersamaan anak Mali berada di belakang bapaknya. Rupahnya, talang yang di pasang itu kondisinya tidak rekat dengan seng sehingga jatuh dan mengenahi anak Mali tepat di mata sebelah kiri.

Pada, Saptu, Pihak Humas PT. Sinar Mas memberikan bantuan uang tunai sebesar, Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) kepada keluarga korban, untuk membawah anak mereka ke Rusah Sakit Dian Harapan, Waena, Jayapura, guna mendapatkan perawatan intensif.

Setelah satu seminggu dua hari mendapatkan penanganan intensif dari RS.Dian Harapan, Waena. Menurut dokter di RS. DH, yang merawat anak Mali bahwa pasien perlu mendapatkan pelayanan lanjutan di rumah sakit yang lengkap.

Melihat kondisi mata anak ini pecah dan kurangnya alat operasi yang bagus pada rumah sakit di Papua. Dokter menyarankan agar pasien bisa berobat di luar Papua, sehingga dokter ini menyebutkan salah satu rumah sakit yang bagus seperti Rumah Sakit RSCM Jakarta.

Anak Mali mempunyai Kartu Jaminan Kesehatan (KPS) Orang Asli Papua, namun untuk meregister pasien rujuk jalan ke luar Papua, perlu juga di data di rumah sakit milik pemerintah daerah, sehingga rumah sakit swasta RS. Dian Harapan, Waena, merujuk Anak Mali ke rumah sakit pemerintah di RSUD, Dok II, Jayapura.

Dan melalui RSUD Dok II Jayapura, setiap Pasien Orang Asli Papua, seperti anak Mali ini dapat melengkapi keperluan surat rujukan ke rumah sakit di luar Papua.

Pemerintah Provinsi Papua, dalam hal ini Dinas Kesehatan Papua, melalui dana Otonomi khusus Papua sudah di cover dalam kartu Papua Sehat (KPS) untuk orang asli Papua sehingga pasien akan di biayai pergi dan pulang untuk berobat di RSCM Jakarta.

BACA JUGA :   Media Sosial; Tanpa Adrianus dan Vijai tidak Ramai

Dia mendapatkan jaminan kesehatan Kartu Papua Sehat (KPS), tapi hanya biaya transportasi pergi dan pulang. Sedangkan Soal biaya akomodasi makan dan tempat tinggal untuk orangtua di Jakarta tidak diakomodir oleh Pemerintah Provinsi Papua.

Menurut dokter di RS. Dian Harapan, Waena dan Dokter di RSUD Dok II Jayapura bahwa Rumah sakit RSCM Jakarta menjadi rujukan yang tepat bagi pasien.

Anak ini membutuhkan biaya yang besar, terutama soal pembelian obat yang tidak tercover oleh BPJS/KPS Papua, apalagi bila akan menjalani operasi mata.

Selain itu, dia membutuhkan Nutrisi (Susu bubuk), Pakaian dan mainan anak-anak, Kelengkapan mandi anak-anak serta Kebutuhan tak terduga lainnya.

Dari hasil kunjungan pekerja sosial di RS. Dian Harapan Waena, dan setelah anak ini di rujuk ke RSUD Dok II Jayapura, dimana anak ini membutuhkan penanganan serius dari dokter spesialis dan segera di rujuk ke rumah sakit RSCM Jakarta.

Paskalis (58)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!