November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Sampai Jumpa Masa SMP (End)

Bab 20 : Sampai Jumpa Masa SMP (End)

Kenapa Indri tidak mau mengerti, padahal aku melakukan semua ini kan untuknya. Aku sengaja minta kepada ayah agar ia dijadikan satu kelas denganku supaya kami bisa menghabiskan waktu bersama. Belum tentu setelah lulus nanti aku dan Indri akan satu sekolah yang sama.

Jadi, aku mau memanfaatkan waktu yang sempit ini sebaik-baiknya. Tapi, bukannya senang, Indri malah marah kepadaku. Aku memang tidak bisa mengerti isi hati seorang perempuan. Perasaan mereka tidak mudah untuk ditebak. Saat aku mencoba menyapanya, ia malah cuek dan tak balik menyapaku.

“Indri, duduk di sebelahku,” Panggilku.

Indri hanya diam dan memilih duduk di bangku paling depan. Aku pun langsung pindah ke tempat duduk yang ada di sebelahnya.

“Indri, kamu masih marah sama aku?”

“Sudah tahu aku sedang marah, masih nanya aja,” jawab Indri jutek.

“Iya aku salah, aku minta maaf. Maafkan aku ya!”

“Males ah, pergi sana. Aku males bicara sama kamu. Gara-gara ulahmu ini aku sampai dibenci oleh teman-teman sekelasku.”

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Indri. Kalau mau dirombak lagi akan membutuhkan waktu yang lama. Sementara ujian akhir semakin dekat. Aku menyesal, maafkan aku ya. Aku mohon Indri, Maafkan aku.”

“Ah, aku males denger kamu bicara. Pergi Sana.”
Meskipun Indri menyuruhku pergi, aku tidak akan pergi sebelum ia memberiku maaf.

“Oh, kamu nggak mau pergi. Ya sudah, biar aku yang pergi,”

Indri ngambek dan pindah ke tempat duduk paling belakang.
Susah sekali mendapatkan maaf dari Indri. Marahnya Indri sama persis dengan marahnya ibuku. Mereka berdua itu tipe orang yang susah memberi maaf.

Biasanya marahnya akan berhenti dalam kurun waktu satu bulan. Aku tidak mau menunggu waktu selama itu, bisa-bisa Indri keburu pergi jauh dariku.

“Duh, perempuan ini susah sekali memaafkannya. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku akan terus mengusik Indri sampai ia mau memaafkanku. Aku hampiri dia sekali lagi, deh,” gumamku.

Saat kakiku melangkah pergi, tiba-tiba ayahku masuk ke dalam kelas. Aku berharapnya bisa duduk bersebelahan dengan Indri, tapi ketika aku mau pindah ke belakang lagi, kelas keburu dimulai. Dan aku pun terpaksa duduk di bangku tengah paling depan.

BACA JUGA :   PIAM : Kaburnya Adnan Dari Penjara (Bab 9)

Selama pelajaran berlangsung, pikiranku tidak fokus menyimak materi yang disampaikan. Pikiranku hanya terbayang kepada Indri yang lagi marah kepadaku. Aku selalu curi-curi kesempatan untuk menengok ke belakang hanya sekedar memperhatikannya dari jauh.

“Rori, lihat apa kamu di belakang?” Mendengar bentakan ayahku yang keras itu, aku langsung menghadap ke depan.

“Tidak lihat apa-apa, yah. Eh, maksudku Pak,” Selama di sekolah aku dilarang memanggilnya ayah dan diwajibkan memanggilnya Pak Guru.

Dulunya aku sedikit canggung harus memanggil ayah sendiri dengan sebutan Pak Guru, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa.

“Fokus, Rori. Kalau nilai ujian akhirmu nanti sampai jelek jangan harap ayah akan memberimu uang jajan,” sahut ayahku sambil menjewer telingaku

“Aduh sakit, iya aku akan fokus menyimak pelajaran. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku, tapi tolong lepaskan, sakit.”

“Kalau aku sekali lagi melihatmu tidak fokus menyimak pelajaran, kau akan ayah hukum,” ancam ayahku.

Aku kesal kepada ayahku yang sudah menjewerku di hadapan murid-murid lainnya, apalagi di depannya Indri. Gara-gara ini aku jadi ditertawai murid-murid lainnya. Aku berharap Indri juga menertawaiku, tapi ia malah bersikap cuek dan sibuk mencatat materi di papan tulis. Aku sampai menghela napas melihatnya.

Indri memang benar-benar sangat marah kepadaku. Begitu jam pelajaran selesai, aku langsung bergegas menghampiri Indri.

“Indri, jangan pulang dulu. Aku mau bicara sama kamu,” ucapku sembari memegang tangannya Indri.

“Lepasin tanganku, Rori. Aku nggak mau bicara sama kamu. Lepasin, aku mau pulang.”

“Enggak, nggak akan aku lepaskan sampai kamu mau memaafkanku.”

“Rori, lepasin. Malu dilihat banyak orang.”

“Biarin aja, aku enggak peduli. Yang terpenting aku mendapatkan maaf darimu. Hanya itu yang penting bagiku. Aku nggak peduli sama anggapan teman-teman yang lain.”

“Uhhhh, kamu ini benar-benar keras kepala, ya. Baiklah, bicaralah, aku akan mendengarkanmu.”

“Kita tidak akan bicara di sini. Ayo, ikut aku!”

Aku langsung menyeret Indri menuju taman sekolah. Indri selalu saja mencoba melepaskan genggaman tanganku, tapi untung saja aku memegang tangannya kuat-kuat. Jadi, ia tidak bisa lari dariku. Ketika sampai di sana, aku langsung mendorong Indri untuk masuk ke dalam pondok kecil dekat air mancur.
Supaya tidak ada yang mengganggu kami, aku pun menutup pintunya.

BACA JUGA :   PIAM:Aku Sangat Membenci Ayahku

“Rori, kenapa kamu menutup pintunya?” tanya Indri yang mulai ketakutan.

“Aku tidak mau sampai ada orang yang mengganggu kita. Akhirnya, kini aku bisa berduaan juga denganmu, Indri.”

“Rori, apa maksudmu? Awas ya jika kau macam-macam. Jangan coba-coba mendekatiku, kalau kau mendekat selangkah saja, akan ku pukul kau hingga babak belur.”

“Pukul saja, aku tidak peduli. Ayo pukul aku dengan tangan kecilmu itu. Bisakah kau melukaiku, Indri?”

“Ya, aku bisa melukai siapa saja, termasuk dirimu.”

“Ayo, mulai pukul aku. Ini wajahku, siap untuk dipukul olehmu. Ayo, kenapa kau diam saja? Sudah kuduga kamu tidak akan berani memukulku.”

Aku tak menduga hal itu dari Indri. Ternyata, ia berani melayangkan tinjunya yang keras ke wajahku. Dia memukulku hingga aku terjungkal membentur meja.

“Aku sudah bilang kepadamu. Aku bisa memukul siapa saja, termasuk kau, Rori. Jadi, jangan coba-coba kau melukaiku. Jika kau berani menyentuhku walau hanya sehelai rambut saja, aku akan memukulmu lebih keras daripada pukulan yang kau terima saat ini,” kata Indri yang marah.

“Tega sekali kau, Indri. Aku sudah melakukan apa pun untukmu, tapi ini balasan yang kau berikan kepadaku,” karena kesal, aku sampai lupa batasanku. Aku balik memukul Indri, hingga kepalanya membentur lantai dan dahinya berdarah.

“Auuu, sakit sekali,” ujar Indri yang merintih kesakitan.

“Indri, maafkan aku. Aku lepas kendali. Di mana yang luka? Coba aku lihat,” aku mendekap erat Indri dan mengusap darah yang keluar di dahinya.

“Rori, lepaskan aku. Berani sekali kau memelukku,” Indri berusaha melepaskan diri dari pelukanku. Tapi, aku tidak akan membiarkan ia lepas. Kapan lagi aku punya kesempatan memeluknya sepuas hatiku.

“Tolong, ada orang di luar. Tolong aku!” teriak Indri kencang.

Agar tak ada orang yang mendengar teriakkannya, aku pun membungkam mulutnya dengan tanganku.

“Diam. Jangan teriak. Kalau kau teriak sekali lagi. Aku akan memukulmu. Kau tahu Indri, aku melakukan semuanya hanya agar kita bisa selalu bersama. Ku mohon maafkan aku, ya?”

BACA JUGA :   Mereka tak Sedekat itu.

Secara refleks, entah mengapa aku merasakan suatu hal yang aneh ketika aku memeluk Indri. Tanganku seperti tidak mau berhenti meraba tubuhnya. Akhirnya aku tak bisa menahannya lebih lama lagi, aku ingin melakukan hubungan terlarang itu dengan Indri. Namun, sebelum itu terjadi, Indri menendangku dengan sangat kuatnya.

Dan sekali lagi tubuhku terbentur tembok. Indri bangun dari tidurnya dan kemudian lari menuju pintu. Ia berhasil kabur dengan mendobrak pintu. Aku mencoba mengejarnya, tapi batang hidungnya sudah tak terlihat lagi olehku. Aku menyesal melakukan itu kepadanya, pasti ia tidak akan pernah memaafkanku.

Berkali-kali aku mengirimi dia pesan permohonan maaf, tapi ia tak pernah menjawabnya sama sekali. Telepon dan video call pun juga tak digubris olehnya. Bahkan saat di sekolah pun, ia mengabaikanku.

“Indri, maafkan aku.”

“Pergi kau, aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Jangan harap aku akan memberimu maaf atas apa yang sudah kau lakukan kepadaku kemarin. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Rori. Tidak akan pernah,” bentak Indri keras.

“Tidak, jangan bilang seperti itu. Maafkan aku, Indri. Maafkan aku,” kataku sambil bersujud di bawah kakinya Indri.

Benar dugaanku, kemarahan Indri sudah semakin menjadi-jadi. Jika ia bilang tidak akan pernah memaafkanku, maka itu artinya tidak untuk selama-lamanya.

Acara wisuda yang seharusnya membahagiakan bagiku, malah menjadi kesedihan untukku. Orang yang aku cintai tidak hadir dalam acara penting ini, entah di mana ia sekarang, aku tidak tahu.

Sudah seminggu sejak pengumuman kelulusan, Indri tak terlihat lagi di sekolah. Dia hilang seperti ditelan bumi. Kedua sahabatnya pun juga tak tahu ia di mana. Indri telah pergi tanpa memberitahu siapa pun. Karena kesalahanku sendiri, aku kehilangan Indri untuk selama-lamanya.

Semenjak kepergiannya, aku tak pernah sekalipun berpasangan dengan wanita mana pun. Karena sampai kapan pun hatiku hanya untuk Indri dan tak ada yang bisa menggantikan posisinya dalam kehidupanku.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/kelulusan-remaja-sekolah-tinggi-995042/

Baca juga :

Cerita Cintaku : Kenapa Pak Guru Marah

indriani (123)

Bagikan Yok!