November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kasih Abadi Bab 10 Sesuatu Yang Belum Pernah Terjadi

Apa yang terjadi sama diri gue? Kenapa gue tiba-tiba muncul saat Dave menguasai tubuh gue? Biasanya gue selalu sadar pas bangun tidur. Gimana bisa tadi gue tiba-tiba muncul? Dan gue muncul tepat disaat Kasih bareng Kala.
Kemudian Abadi teringat saat Kasih dan Kala menunggu busway tadi, Abadi sangat bingung bagaimana bisa ia berada di sana. Yang terakhir ia ingat ia sedang menginap di rumah Magenta karena pertengkaran dengan mamanya. Dan betapa terkejutnya Abadi dengan apa yang terjadi pada dirinya. Kondisinya saat itu ia sedang bersembunyi di balik pohon lebih tepatnya ia sedang mengintip kebersamaan Kasih dan Kala. Abadi menyadari betapa menyedihkannya kondisinya.
“Goblok ngapain juga gue di sini? Apa lagi yang dilakuin Dave? Kasih ngapain sama Kala? kok bisa deket gitu? Apaan sih kan bukan urusan gue. Ini kenapa tangan gue lengket banget ya. Abadi pun melihat tangannya sudah penuh dengan tumpahan Americano coffee. Abadi yang melihat Kasih dan Kala pergi menaiki busway, Abadi pun segera mengikuti mereka.” Batin Abadi.
Apa semua ini karena Kasih? Seingat gue semenjak gue kenal Kasih, Dave sudah jarang muncul. Makanya mama suka uring-uringan nggak jelas. Tapi kenapa Kasih? Apa spesialnya Kasih?
Setelah Abadi banyak berpikir, ia pun merebahkan tubuhnya. Ia menutup matanya dan meletakkan lengannya diatas matanya yang tertutup. 30 menit sudah Abadi menghabiskan waktunya hanya untuk berdiam diri. Abadi pun teringat, sudah berapa lama Dave mulai menguasai tubuhnya. Ia pun mengecek kalender di ponselnya. Betapa terkejutnya Abadi ketika menyadari bahwa Dave menguasai tubuhnya selama dua hari. Bagaimana bisa? Sesingkat itu? Ia melanjutkan dengan membuka tas sekolahnya dan ia menemukan buku yang tampak asing baginya. Awalnya ia ragu mungkin saja buku itu milik Magenta yang terbawa olehnya. Karena rasa penasarannya, ia pun membuka buku itu. Dan betapa terkejutnya Abadi, melihat beberapa lembar foto yang berisi ia, Magenta, Kala, Sedia, Senja dan Kasih. Namun yang membuat Abadi tak habis pikir, ia menemukan begitu banyak foto-foto momen kebersamaannya bersama Kasih. Ada foto latte coffee dan Americano coffee yang berdampingan, foto candid Kasih saat tersenyum, dan foto kebersamaannya bersama yang lain namun tetap Abadi yang berada didekat Kasih. yang membuat Abadi marah adalah yang berada didekat Kasih bukan dirinya melainkan Dave. Waktu mengesankan yang ia habiskan dengan Kasih hanya saat ia dan Kasih saling mengobati luka. Saat itu Abadi merasakan kedamaian dalam hidupnya untuk pertama kalinya. Mungkin itu juga alasan Kasih bisa mencegah Dave mengendalikan tubuhnya. Ya walaupun cuma sebentar, mungkin dengan ia dekat dengan Kash ia bisa membuat Dave lenyap dalam hidupnya. Saat Abadi membalikkan lembar buku, ia menemukan catatan yang ditinggalkan Dave untuknya.
Hai Abadi, senang juga akhirnya gue bisa melihat dunia. Gue nggak tahu kenapa akhir-akhir ini gue nggak bisa muncul lagi. Lu lagi ada masalah ya? Oh iya cewek di foto itu siapa? Kasih? cantik juga, baik pula. Awalnya gue nggak tahu kenapa lu jarang banget panggil gue buat gantiin posisi lu. Dan karena Tuhan yang baik gue menemukan alasannya. Gara-gara Kasih kan? Awalnya gue ragu tapi setelah melihat tatapan Kasih ke elu, gue bisa menyimpulkan kalau Kasih suka sama elu. Dan gue juga tahu kalau keberadaan Kasih berpengaruh dalam hidup lu. Ya walapun gue yakin lu bakal menyangkal perasaan lu sendiri. Kalau Kasih bisa jadi penyebab gue jarang menggantikan posisi lu, gimana kalau gue buat Kasih suka sama gue dan secara perlahan lupa sama elu? Why not? Hal yang mudah bikin Kasih suka sama gue. Gue cowok baik, ramah, cakep, dan pintar. Nah Abadi yang ada dipikiran Kasih adalah cowok yang pendiam, keras kepala, pemarah dan kasar. Kalau lu jadi cewek lu juga bakal milih gue. See you, Abadi.
Setelah membaca catatan milik Dave untuknya, ia reflek berteriak dan melemparkan buku dan ponselnya hingga mengenai cermin di kamarnya hingga pecah. Entah kenapa ia marah ketika Dave bilang ia ingin mendekati Kasih dan membuat Kasih melupakannya.
“Berani banget Dave deketin Kasih? dia pikir dia siapa? Dia cuma bayangan yang singgah di kehidupan gue. Dia nggak punya hak mengatur dan mengubah kehidupan gue. Dan Kasih? gimana bisa dia melibatkan orang lain dalam masalah ini? Oke mulai sekarang Kasih adalah orang terdekat gue yang harus gue lindungin. Gue juga harus bikin Kasih suka sama gue dengan begitu gue bisa perlahan melenyapkan Dave dari kehidupan gue.”
Aaa Abadi merasakan sakit kepala yang luar biasa, ia bahkan sampai terjungkal hingga telapak tangannya mengenai pecahan cermin yang ia hancurkan tadi.
“Gue harus kuat, gue nggak mau Dave mengendalikan diri gue lagi.”
Abadi masih saja berperang dengan dirinya sendiri. Ia tidak mau Dave mengubah segala hal yang ada di hidupkan. Ia tidak mau Dave mengambil Kaish darinya. Namun tiba-tiba saja sekelebat bayangan ketika Kasih mengatainya sebagai seseorang yang kasar dan mamanya yang selalu mengharapkan kehadiran Dave memenuhi kepalanya. Hingga akhirnya Abadi pingsan. Baru sebentar Abadi pingsan ia tersadar dan bangun. Kemudian ia turun ke dapur untuk makan malam. Disana ia sudah melihat Rena yang sedang duduk menunggunya. Tanpa sepatang kata pun Abadi duduk di depan Rena dan menyantap makan malamnya. Rena sedang memperhatikan Abadi dengan seksama ia melihat tatapan asing itu lagi.
“Dave? Iya, dia bukan Adi. Kata Rena dalam hati.” Batin Rena.
“Mama nggak makan?” Tanya Dave yang sudah berhasil mengendalikan Abadi.
“Iya ini mama mau makan.”
“Mama seneng kan Dave muncul lagi?” kata Dave sambil tersenyum sinis.
“Seneng dong, apalagi sebentar lagi ada ujian.”
“Mama tenang aja, Dave bakal kasih hasil terbaik seperti biasanya.”
Setelah percakapan Dave dan Rena terdiam yang terdengar hanya suara sendok dan piring yang berirama.
“Oh iya, Mama jangan mengharapkan Abadi kembali dengan cepat ya! Kan ada Dave, anak kebanggaan Mama.” Kata Dave setelah selesai makan.
Rena hanya bisa menelan ludah dengan perasaan yang sulit diartikana. Ia merasa memang Dave adalah anak kebanggannya. Namun ia juga tidak ingin kehilangan Abadi, anaknya satu-satunya.
“Sejak kapan saya se-egois ini?” Batin Rena.

BACA JUGA :   Delusi Masa Lalu

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Kasih sudah menunggu mamanya pulang selama satu jam. Ia mulai khawatir apakah mamanya masih terjebak macet atau apa terjadi sesuatu yang buruk terjadi pada mamanya. Namun Kasih segera menepis semua pemikiran buruknya. Tiba-tiba saja ada seseorang yang memasuki rumahnya. Kasih segera berlari menuju pintu depan. Dan ternyata orang tersebut adalah mamanya.
“Macet banget Ma?” tanya Kasih sambil memeluk mamanya.
“Iya. Ada kecelakaan kecil tadi.”
“Makan yuk. Kasih udah masak buat mama lho.”
“Oh iya? Kamu masak apa?” tanya Maya sambil berjalan menuju ruang makan.
“Taraa. Capcay kesukaan Mama.”
“Aaa thank you anak mama.”
Kasih dan mamanya pun melaksanakan makan malam dalam diam.
“Kasih, gimana hubungan kamu sama Abadi? Lancar kan?”
“Mama apaan sih, kepo banget.”
“Wajar dong mama kepo sama gebetan anak mama satu-satunya.”
“Iya deh iya.”
“Jadi gimana?”
“Ya nggak gimana-gimana sih Ma. Oh iya tapi Abadi udah mulai melunak sama Kasih. dan Mama tahu nggak sih Kasih pernah lihat Abadi salting pas sama Kasih.”
“Serius kamu? Jangan-jangan cuma anggapan kamu aja.”
“Ih serius Ma, masak Kasih bohong.”
“Ya bagus dong kalau gitu. Jadi anak mama nggak kena friend zone.”
Kasih pun tertawa mendengar ucapan mamanya.
“Tapi Ma, Kasih merasa ada yang aneh sama Abadi.”
“Aneh gimana? Dari awal mama lihat Abadi itu udah kelihatan kok kalau dia anak baik.”
“Omongan Abadi itu sering berubah Ma. Masak dulu bilangnya suka Latte habis itu pas aku kasih latte bilangnya suka americano. Eh pas kemarin di café aku pesenin americano malah pilih yang latte. Ngeselin kan Ma.”
“Ya mungkin sesuai sama suasana hatinya Abadi. Kalau lagi seneng dia pengennya minum latte tapi kalau lagi bad mood pengennya minum americano. Mama kadang juga gitu kok.”
“Iya juga sih tiap Abadi minum latte pasti pas lagi ceria tapi pas minum americano ekspresi muka pasti dingin banget.”
“Tu kan udah deh nggak usah dipikirin. Abadi udah mulai menerima kehadiran kamu aja udah suatu kemajuan kan. Dijalanin saja Kasih, jangan terlalu dipikirkan. Dan ingat tugas utamanya pelajar adalah belajar.”
“Iya Mama aku yang paling cantik.”
“Ya sudah gih kamu ke kamar, istirahat! Biar mama yang beresin.”
“Serius Ma? Kasaih aja deh. Takut Mama capek.”
“Sudah nggak apa-apa lagian kamu kan sudah masak. Jadi giliran mama buat beresin.”
“Oke deh. Good night Mama.”
“Good night little girl.”
Kasih melangkah menuju kamarnya dan berbarin di kasur kamarnya.

BACA JUGA :   Ketika Tidak Ada Kerjaan, 3 Hal Ini Yang Dapat Dilakukan di Kantor Selain Main HP

“Bang makan gih? Tuh udah dibikinin mie instan.” Kata Senja kepada Magenta.
“Siapa yang bikin?”
“Gue siapa lagi. Emang ada orang lain di rumah ini selain gue sama lu.”
“Ambilin dong. Males nih gue.”
“Bang kaki lu buat apaan? Pajangan doang?”
“Dek ayo dong sekali aja.”
“Tapi besok beliin ice cream ya.”
“Tapi jangan yang mahal-mahal.”
“Okee.” Kata Sedia sambil berlari menuju dapur untuk mengambil mie instan.
Dari dapur Sedia memperhatikan kakaknya sedari tadi ia pulang kakaknya memang terlihat berbeda lebih tepatnya terlihat sedikit linglung. Sebenarnya apa yang terjadi dngan Magenta? Tidak mungkin ia memikiran Senja kan. Sejak kapan Magenta peduli dengan teman Sedia.
“Bang nih dimakan mumpung masih hangat.” Kata Sedia.
“Oke Thank you.” Magenta pun segera melahap mie instan buatan adiknya.
“Bang lu mikiran apa sih? Masih mikirin Senja.”
“Ngapain gue mikirin temen lu.”
“Lu ada masalah apaan sih? Haa? Cerita dong? Masalah apa yang bisa menarik perhatian abang gue yang super duper cuek ini.”
“Dia lu udah kenal berapa lama sama Abadi.”
“Nggak tahu persisnya sih Bang. Kan gue kenal juga dari abang.”
“Iya juga sih. Kenapa gue mendadak bego ya.”
“Bang jangan bikn gue khawatir dong.”
Mereka pun melanjutkan makan malamnya. Magenta makan malam sambil matanya tertuju pada sebuah artikel di laptopnya sedangkan Sedia makan malam sambil matanya tak lepas dari Magenta.
“Dek lu bisa berhenti lihatin gue nggak? Mau gue colok?”
“Dih kasar banget jadi abang.”
“Nah elu yang bikin risih.”
“Ya maaf salah sendiri nggak mau cerita.”
Magenta pun melanjutkan perdebatan kecilnya dengan Sedia. Karena artikel yang akan ia baca masih loading. Saat perdebatannya berhenti dan ia berniat untuk melanjutkan sesi makan malamnya, ia justru tersedak dengan artikel yang baru muncul di layar laptopnya.
“DID?” kata Magenta terputus-putus karena tersedak. Ia masih tidak percaya dengan apa yang barusaja ia baca.

Bagikan Yok!