November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kasih Abadi Bab 9 Siapa Dave Sebenarnya

Di parkiran café semesta, Magenta merasa ada yang aneh dengan Abadi. Apa mungkin?
“Dave?” panggil Magenta dan Abadi menoleh kearahnya.
Abadi yang menoleh kearah Magenta menatap Magenta dengan penuh kecurigaan. Namun Magenta langsung saja menyapa seseorang di belakang Abadi.
“Apa kabar Dave?”
“Magenta? Lu nongkrong di sini juga?”
“Yoi ini mau balik. Gue duluan ya. Yuk Bad.”
Abadi pun mengikuti Magenta di belakang.


Setelah Abadi dan Magenta pulang, Kala juga berpamitan pulang.
“Gue balik dulu ya.”
“Hati-hati.” Kata Kasih.
Kini perhatian Kasih dan Sedia tertuju pada Senja yang wajahnya kembali normal setelah Magenta pulang. Bahkan sekarang ia bisa tersenyum manis mengingat perkataan Magenta sebelum pulang.
“Hahahaha.” Terdengar tawa Kasih yang sangat keras.
“Lu kenapa Kas?” Tanya Sedia heran.
“Gila udah pengen ketawa aja gue dari tadi lihat tampangnya si Senja.”
“Wkwkwkwk sama anjir. Ngakak banget gue hampir seharian tuh muka pucat pasi.”
“Apaan sih lu pada?”
“Tu muka udah kayak lagi nahan kentut.”
“Kasih stop deh. Kayak lu nggak pernah aja.”
“Gue nggak separah elu.”
“Btw Kas, lu balik duluan aja. Gue mau mampir beli sesuatu dulu.” Kata Sedia.
“Nah gue ikut Dia aja deh.” Kata Senja.
“Oke jadi gue balik sendiri nih?”
“Lu kan mau dijemput Tante Maya. Gue mau beli sesuatu dulu, tempatnya rada jauh dari sini. Takut ngerepotin gue kalo nebeng elu sama Tante Maya.”
“Senyaman kalian dah.”
Senja dan Sedia pun meninggalkan Kasih Sendirian. Sudah hampir 30 menit Kasih menunggu mamanya. Namun ia belum menemukan tanda-tanda keberadaan mamanya di sekitarnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering dan tertera nama mamanya dilayar ponsel Kasih.
“Halo Ma.”
“Kasih kamu pulang sendiri nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa kok. Mama lembur ya?”
“Nggak. Ini mama lagi kejebak macet. Kayaknya bakal lama. Kamu pulang duluan aja dari pada bosen nungguin mama.”
“Iya Mama.”
“Hati-hati ya nak.”
“Siap Ma.”
Setelah menutup telepon dari mamanya, Kasih segera beralan menuju halte busway terdekat. Namun ketika ia berjalan, ia melihat seseorang yang tidak asing baginya. Tepat diseberang Kasih berdiri saat ini terlihat Kala yang berada di bengkel sepeda motor. Kala yang menyadari tengah diperhatikan mencari seseorang tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat Kasih yang tengah memandanginya di seberang jalan. Kala pun melambaikan tangannya sambil memanggil nama Kasih. Kala juga memutuskan untuk menyeberangi jalan yang menghalangi pandangannya dari Kasih.
“Motor lu mogok?” tanya Kasih.
“Bannya bocor Kas. Lu balik sendiri?”
“Iya nih.”
“Lah si Sedia sama Senja mana? Katanya mau main ke rumah lu?”
“Mereka lagi mampir beli sesuatu katanya.”
“Nyokap lu?”
“Mama lagi kejebak macet jadi gue balik sendiri. Dari pada bosen nungguin.”
“Mau gue anter aja?”
“Nggak usah. Gue bisa balik sendiri kok.”
“Yaelah nggak apa-apa kali. Lagian mas-mas bengkelnya judes banget. Males gue, nggak ada temen ngobrol.”
“Jadi lu nganterin gue cuma modus biar nggak bosen nih.”
“Ya bisa di bilang begitu.” Kata Kala yang disambut dengan tawa riang Kasih.
Dan tawa Kasih itu pun tak luput dari perhatian Kala.
“Gue jadi pelampiasan nih ceritanya.”
“Ya nggak lah. Masak cewek secantik elu jadi pelampiasan.”
Kasih yang merasa canggung dengan ucapan Kala pun hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Untung saja busway datang, Kasih dan Kala pun berlari agar tidak ketinggalan. Dan tanpa mereka sadari sedari tadi Abadi memperhatikan interaksi Kasih dan Kala dari kejauhan. Abadi tengah menatap kosong kebersamaan Kasih dan Kala. Bahkan sekotak Americano coffee yang ada di tangan Abadi tumpah karena genggaman Abadi yang terlalu kuat. Saat melihat mereka berdua menaiki busway Abadi pun mengikuti mereka tanpa sepengetahuan Kasih dan Kala. Saat di dalam busway mata Abadi tidak pernah teralihkan untuk memandang sisi lain dari busway. Yang ia lihat hanya Kasih.
“Ini gue kenapa ngikutin meraka sih? Untungnya di gue apa? Dasar bodoh banget sih lu Bad. Lagian Kasih juga ngapain pulang bareng Kala. Tadi katanya dijemput Tante Maya. Ini kenapa jadi gue yang repot? Kenapa gue juga nggak suka lihat mereka seakrab itu? Kenapa gue sama Kasih nggak bisa sedekat itu.” Batin Abadi.
Setelah beberapa menit Kasih dan Kala pun turun dari busway. Dan tentu saja Abadi masih mengikuti mereka. Abadi menyudutkan dirinya sedikit jauh dari Kasih dan Kala agar keberadaannya tidak diketahui oleh mereka.
“Kok lu ikut turun sih?” tanya Kasih pada Kala.
“Kan mau nganterin lu pulang.”
“Yaelah gue bisa pulang sendiri Kal.”
“Nanggung udah sampe sini Kasih.”
“Lagian gue juga masih inget arah jalan pulang ke rumah gue.”
“Emang masih jauh?”
“Ya lumayan sih. Mending lu balik deh. Tu ada taksi biar cepet. Lagian ban motor lu kayaknya udah selesai dibenerin.”
“tapi Kas…” ucapan Kala pun terpotong karena Kasih sudah menghentikan taksi untuknya. Tanpa mendengarkan ucapan Kala, Kasih segera membukakan pintu taksi dan mendorong pelan Kala untuk masuk ke dalam taksi.
“Balik gih!! Sudah malem tar dicariin emak bapak lu.”
“Iya tapi kalau lu udah sampe rumah kabarin ya.”
“Iya bawel.” Jawab Kasih sambil menutup pintu taksi.
Setelah itu Kasih melanjutkan perjalanan pulangnya. Ia tidak mau kalau mamanya datang sebelum Kasih sampai rumah. Ia juga harus memasak makan malam untuk mamanya. Kasih memang sering memasak makan malam untuk mamanya. Mau bagaimana lagi Kasih tinggal berdua bersama mamanya jadi ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak merepotkan mamanya. Dan lagi-lagi Abadi mengikuti Kasih dari jauh. Ia hanya ingin melihat Kasih sampai di rumah dengan selamat.
“Kasih gue nungguin elu dari tadi. Gila gue kira lu diculik.” Teriak Sedia yang sudah menunggu Kasih cukup lama
“Siapa yang mau culik cewek secerewet Kasih Di?” Kata Senja.
“Mulut lu Senja. Depan gue doang nih ngomong kayak gini. Coba tadi pas ada Bang Magen, diem kan lu.” Sindir Kasih pada Senja.
“Ni bocah jago kandang doang Kas.”
Kasih dan Sedia pun tertawa bersama sedangkan Senja ngambek dan berjalan sendirian menuju rumah Kasih.
Abadi yang melihat tingkah Kasih dan teman-temannya hanya bisa tersenyum tipis. Entah kenapa melihat Kasih membuat hatinya menjadi tenang.

BACA JUGA :   HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN

“Dave, Kamu dari mana saja?” Tanya Rena, mamanya Abadi.
Abadi yang mendengar ucapan mamanya hanya melewati mamanya dan naik ke lantai dua. Masih di tengah-tengah anak tangga mamanya meneriakinya.
“Adi.” Teriak Rena.
Abadi pun membalik badannya dengan malas.
“Mana Dave?”
“Aku nggak tahu Ma.”
“Kamu apain dia? Kamu bilang hanya ada Dave di rumah ini.”
“Aku juga maunya gitu. Aku udah capek sama sikap Mama. Aku capek menghadapi mama yang selalu terobsesi dengan nilaiku.”
“Mama udah bilang berapa kali yang mama pikirin itu masa depan kamu Di.”
“Ma, masa depan aku yang menentukan aku. Masa depan aku milik aku.”
“Kamu anak mama jadi masa depan kamu ada di tangan mama.”
Abadi yang lelah menghadapi mamanya pun melanjutkan jalan ke kamarnya.
“Mama peringatin sama kamu ya Di, minggu depan kamu ada ujian dan mama mau Dave yang melakukan segalanya. Mama nggak mau kejadian tahun lalu terulang lagi.


Tahun lalu.
“Kamu lihat rapor kamu? Kamu kalah dari Magenta. Dan ini karena Dave nggak muncul.”
“Mama bisa berhenti ngomongin Dave.”
“Perbaiki diri kamu dulu atau kamu harus sepintar Dave kalau kamu mau mama berhenti ngomongin Dave.”
“Ma, Dave bukan siapa-siapa.”
“Kamu bilang Dave bukan siapa-siapa? Adi, Dave adalah bagian dari diri kamu. Kamu yang menghadirkan Dave di keluarga ini.”
“Ma, Adi juga nggak mau keadaannya seperti ini.” Teriak Abadi sambil melemparkan vas bunga. Dan tanpa sengaja pecahan kaca tersebut mengenai tangan Rena. Rena pun meringis kesakitan. Ia masih tidak percaya bagaimana bisa Abadi semarah itu padanya. Saat itu juga Tatapan Abadi semakin menajam. Rena merasakan angin dingin berhembus dipundaknya. Rasanya tatapan anaknya saat ini bukan milik Abadi. Siapa lagi dia?
“Mama bisa obatin sendiri kan?” tanya Abadi dengan tatapan dinginnya sambil tersenyum sinis kearah mamanya.
Abadi berjalan keluar rumah dan dengan sengaja menginjak kaki mamanya hingga sebagian kecil dari pecahan kaca masuk ke sepatunya.
“Ups sorry.” Kata Abadi kepada mamanya dan melangkah pergi.
Rena yang melihat sikap Abadi pun tanpa sadar mengeluarkan air mata. Baru kali ini ia menangis setelah kematian suaminya. Setelah kehilangan suaminya Rena berjuang mati-matian hingga bisa menempati posisi tinggi di kantornya. Ia bahkan rela meninggalkan Abadi di rumah sendirian ketika ia sedang sibuk bekerja.
“Ada apalagi dengan Adi? Tatapan mata itu bukan milik Adi. Apa mungkin Dave? Dave yang sebaik itu bahkan sudah menjadi anak yang selama ini aku idamkan justru berperilaku seperti itu? Apa ini akibat dari aku yang terlalu mengandalkan Dave?”

BACA JUGA :   Membangun Kepercayaan Pada Hubungan

Magenta saat ini sedang menatap kosong televisi yang sedang menyala. Pikirannya sedang tertuju kepada kondisi temannya, Abadi. Ia masih terkejut saat teringat kejadian di depan café tadi. Bagaimana bisa seorang Abadi menengok ketika dipanggil dengan nama Dave. Dan siapa Dave sebenarnya? Abadi Dirgantara. Tidak ada kata Dave di dalamnya.
“Woi.” Teriak Sedia dibelakang Magenta.
Magenta pun yang tidak bisa menghindar hingga ia terjungkal ke depan.
“Adeek.” Teriak Magenta sambil memeganggi pinggangnya yang kesakitan.
“Lagian kenapa sih ngelamun nggak jelas?”
“Bukan apa-apa.”
“Abang lagi mikirin cewek ya? Iya kan”
“Nggak, lu jangan ngaco deh. Oh iya temen lu tadi gimana? Sudah mendingan?”
“Tu kan? Abang lagi mikirin Senja ya?”
“Gue cuma khawatir dek.”
“Lu nggak pernah lho khawatir sama teman gue. Bahkan lu nggak peduli sama yang dilakukan temen-temen gue.”
“Gimana nggak kepikiran tiap ketemu gue pucat pasi gitu.”
“Takut kali sama lu.”
“Gue bukan hantu Di.”
“Tapi lebih menyeramkan dari pada hantu.”

Bagikan Yok!