November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kasih Abadi Bab 8 Americano atau Latte

Saat bel istirahat berbunyi Kasih segera keluar kelas dan tanpa diduga di depan kelas sudah ada yan menunggunya. Bukan Abadi tapi Kala.
“Hai Kasih.”
“Kala ngapain lu di sini?”
“Gue mau tanya sesuatu sama lu.”
Tanpa Kala dan Kasih sadari ada dua pasang mata yang menemukan keberadaan mereka. Mungkin saja dua pasang mata tersebutmulai mencurigainya.
“Senjaa.” Bisik Sedia sambil menarik lengan Senja.
“Kenapa sih Di?”
“Makanya itu buku simpen dulu.”
“Yee terserah gue lah.”
“Woi modelan kayak gini mau dapetin abang gue?”
“Gini-gini gue pinter kali.”
“Otak pinter tapi nggak bisa ngomong depan abang gue. Ditikung baru tahu rasa lu.”
“Apa gunanya gue punya temen adiknya Kak Magenta.”
“Ssst.”
“Lu kenapa sih? Ini kenapa kita ngumpet. Sudah kayak maling aja.”
“Emang mau nyolong.”
“Dosa woi.” Kata Senja sambil memukul belakang kepala Sedia.
“Sakit anjir. Mau nyolong info maksudnya. Tuh lihat ada Kala sama Kasih.”
“Lah terus? Samperin lah.”
“Senja oon banget sih lu. Ini kita mau nguping.”
“Ngapain? Mending dengar langsung.”
“Gue ada firasat kalo Kala suka sama Kasih.”
“Ya terus? Apa hubungannya sama kita.”
“Berisik lu. Diam aja, dengerin tuh mereka ngomong apa.”
Sebenarnya Kala sempat ragu untuk mendatangi Kasih. Entah kenapa Kala merasa Kasih sudah membangun tembok kokoh di antara mereka. Padahal Kala belum sempat memperlihatkan pesonanya. Kala juga merasakan tatapan yang berbeda antara Kasih dan Abadi. Tatapan mereka memancarkan kebencian dan saling membutuhkan. Tatapan yang sangat asing untuk Kala kenali.
“Lu nanti ke Café Semesta Kan?”
“Iya dong. Lu mau mampir kesana juga?”
“Pasti. Gue udah kangen banget sama puisi buatan elu.”
“Emang paling bisa ya. Btw lu nggak ke kantin?”
“Ini mau ke kantin.”
“Sendiri?”
“Berdua kalo sama lu.” Kata Kala sambil memberikan senyuman manisnya.
“Berempat aja kali ya. Sedia, Senja kuy ke kantin.”
Kala pun menyadari keberadaan Sedia dan Senja. Keberadaan Kasih memang membawa pengaruh besar untuk Kala. Bahkan Sedia dan Senja pun terabaikan olehnya.
“Kalian ngapain di situ?”
“Nyari contekannya si Senja yang jatuh.” Jawab Sedia yang dipotong Kasih.
“Ya kali Senja nyontek.”
“Kali aja khilaf. Kantin yuk.” Balas Sedia dan segera mengalihkan pembicaraan.
Mereka berempat pun menuju kantin bersama. Terlihat sepasang bola mata yang sangat penasaran siapa lagi kalau bukan Abadi. Awalnya ia juga ngin mengajak Kasih ke kantin bareng namun niatnya terkubur karena melihat Kala dan Kasih yang tampak akbrab. Ia pun semakin penasaran hubungan seperti apa yang dimiliki Kasih dan Kala.
“Bad ngapain lu di sini?” tanya Magenta
Keberadaan mereka pun menjadi pusat perhatian. Bagaimana bisa mereka yang terkenaal dingin dan tidak tertarik dengan wanita sedang berada di gedung kelas XI. Sebenarnya apa yang mereka cari.
“Kantin yuk.” Ajak Abadi yang dibalas dengan anggukan Magenta.
Sesampainya di kantin Abadi mulai mengedarkan pandanganya. Ia mulai mencari Kasih dan teman-temannya. Ketemu. Abadi pun melangkah mendekati mereka dan duduk di samping Kasih dengan otomatis menggeser tempat Kala yang awalnya duduk di sebelah Kasih. Kasih yang tidak menduga perilaku Abadi pun tersedak. Abadi yang melihat kondisi Kasih segera memberikan sekotak good day rasa vanilla latte yang ia genggam dari tadi.
“Minum.” Kata Abadi sambil menepuk pelan punggung Kasih untuk meringankan kondisi Kasih.
Kala yang melihat situasi itu pun terkejut. Bagaimana bisa tatapan Abadi kepada Kasih berubah secepat itu. Kala mengenali tatapan itu. Tatapan rasa penasaran yang menuntut untuk lebih dekat. Kala merasa memiliki saingan yang cukup berat sekarang.
Berbeda dengan Kasih yang diperhatikan banyak orang, Sedia hanya memandang satu objek saja yaitu Kala. Sedia semakin yakin cara Kala memandang Kasih sangat berbeda dengan cara Kala memandangnya. Apa Kala benar-benar menyukai Kasih? lalu perasaan aneh apa yang ia rasakan sekarang? Rasanya Dadanya sesak entah apa penyebabnya. Tiba-tiba saja tangan dingin yang menggenggam tangan kanannya membuat Sedia terkejut. Ia menoleh kearah berasalnya tangan tersebut. Dan betapa terkejutnya Sedia melihat Senja yang sudah pucat pasi. Awalnya Senja khawatir dengan kondisi temannya, namun setelah melihat ke samping Senja ia hanya bisa menghela napas. Ia melihat abangnya Magenta tengah menatap tajam kearah Senja. Sedia memahami kondisi Senja. Ia pun jika berada di posisi Senja akan merasa tidak nyaman dengan tatapan menusuk milik abangnya.
“Bang, kedip kali mau gue colok.” Kata Senja memecahkan suasana yang rumit.
“Temen lu kenapa sakit? Maagnya kambuh?”
“Elu yang bikin dia sakit.” Perkataan Sedia pun dibalas dengan genggaman Senja yang semakin erat.
“Kenapa jadi gue?”
“Ya karena lu di sini.”
Senja yang mendengar perkataan Sedia pun segera menendang kaki Sedia.
“Aaaau.”
“Kenapa dek?” Tanya Magenta khawatir. Bahkan perhatian Kala dan Abadi pun mulai teralihkan. Kini semua mata tertuju pada Sedia.
“Kaki gue ditendang semut.”
“Badak kali.” Kata Kasih hingga membuat semua orang tertawa.
“Btw Kas lu tadi bawa baju ganti kan?” Tanya Sedia mencoba mengalihkan perhatian Senja. Agar Senja tidak gugup lagi.
“Ya kali gue perform pake seragam.”
“Perform apaan?” Tanya Abadi penasaran.
“Jadi Kasih itu kerja part time di café semesta kak.” Kata Sedia
“Oh iya? Nyayi?”
“Bukan. Baca puisi ya kan Kas?” Tanya Kala yang dijawab Kasih dengan acungan jempol.
“Nanti habis pulang sekolah?” Tanya Abadi pada Kasih dan mengabaikan perktaan Kala sebelumnya.
“Iya. Mampir aja kalau sempat.”
“Tanpa lu suruh juga gue bakal mampir.”
Kasih menyadari bahwa sedari tadi Abadi masih saja memperhatikannya. Ia mulai merasa ada yang aneh. Sebenarnya apa yang terjadi pada Abadi. Bagaimana bisa seseorang berubah hanya dalam semalam. Abadi kenapa sih? Kok aneh gini? Kenapa dia berubah sebaik itu sama gue? Dan cara dia ngelihat gue jaga beda. Biasanya hanya ada kemarahan dan kebencian tapi kemarin gue juga melihat ada kehangatan dibalik tatapan Abadi. Tapi sekarang cara Abadi melihat gue sangat lembut dan penuh dengan rasa penasaran. Tatapan Abadi semakin asing. Apakah ini pertanda baik dalam hubungan gue dan Abadi?

BACA JUGA :   Membangun Kepercayaan Pada Hubungan

Kemarin aku menerima permen kiss bertuliskan “I miss you”
Dan ku jawab “I miss you too”
Entah untuk siapa aku membalasnya
Ku rasa si pemilik permen kiss mencoba merayuku
Namun aku tidak yakin
Entah apakah bisa sebongkah es besar tiba-tiba mencair dalam sekejap?
Namun faktanya itu yang saat ini ku rasa
Atau hanya aku saja yang terlalu perasa?
Dan betul saja besoknya si pemilik permen kiss berpaling dariku
Bahkan saat ia berada tepat beberapa meter di sampingku
Aku merasa ia berada di sisi lain dari bumi
Lalu tiba-tiba saja aku ingat dengan sekaleng soda dingin yang ia berikan padaku beberapa hari lalu
Aku masih tidak percaya bagaimana bisa sekaleng soda dingin menjadi hangat di tanganku
Lalu apakah karaktermu yang dingin bisa hangat dalam genggamanku?
Aneh. Kenapa Abadi nggak bereaksi apa-apa? Yang sedang gue sampaikan adalah kisah gue sama dia. Ekspresi apa itu? Apa Abadi pura-pura lupa? Tapi ekspresi di wajahnya menggambarkan kalo Abadi nggak tahu apa-apa. Ada apa ini? Kenapa gue ngerasadia bukan Abadi. Dengan segala pemikirannya yang tak berujung Kasih berjalan menuju satu meja. Di sana ada Senja, Sedia, Kala, Magenta dan tentu saja Abadi.
“Puisi lho bagus banget Kas.” Kata Kala.
“Thanks Kala.”
Tanpa sengaja mata Kasih bertemu dengan Abadi.
“Gue nggak nyangka lu punya bakat sehebat itu. Jangan-jangan yang tadi itu story lu ya?” Sanjung Abadi.
Kasih pun terkejut dengan ucapan Abadi.
“Sama mantan lu ya?” tanya Kala.
“Jangan ngaco lu! Si Kasih itu belum pernah pacaran.”
Belum sempat Kala menjawab seorang waiters mendatangi mereka dan membawa minuman pesanan Kasih. waiters itu membawa satu matcha, tiga latte dan dua americano.
“Siapa yang pesen nih?” tanya Sedia.
“Gue yang pesen.”
“Tumben-tumbenan.”
“Buru di minum atau gue suruh bayar lu.”
Sedia pun segera mengambil latte, Senja mengambil matcha kesukaannya, Kala mengambil latte kesukaannya, Magenta mengambil Americano dan Abadi mengambil latte juga. Kasih pun kembali terkejut beberapa hari lalu Abadi mengatakan ia tidak menyukai latte dan sekarang ia memilih untuk meminum latte. Abadi juga terlihat sangat menikmati minumannya.
“Kas, lu tumben pesan Americano?” Tanya Sedia
“Gue penasaran aja.”
Mereka pun melanjutkan percakapan mereka hingga pukul 17.00 WIB. Magenta pun memutuskan untuk pulang. Awalnya ia ingin mengajak Sedia untuk pulang bareng namun ditolak Sedia dengan alasan Sedia, Senja dan Kasih akan kerja kerja kelompok di rumah Kasih.
“Gue balik dulu ya.” Pamit Abadi.
“Jangan lupa minum obat. Ya kali tiap gue ketemu lu, lu sakit mulu.” Kata Magenta yang dibalas anggukan oleh Senja.
Di parkiran café semesta, Magenta merasa ada yang aneh dengan Abadi. Apa mungkin?
“Dave?” panggil Magenta dan Abadi menoleh kearahnya.

Bagikan Yok!