November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kasih Abadi Bab 15 Sisi Kelam Abadi

Pagi hari yang sedikit mendung memaksa Rena untuk menyesap hangatnya secangkir kopi hangat di tangannya. Tatapannya kosong melihat pintu rumahnya yang terbuka lebar. Sudah genap 3 hari sumainya Rendy belum ditemukan. Rendy menghilang ketika sedang mendaki gunung bersama Raman, sahabatnya. Rena menyesali tindakannya yang tidak bisa mencegah Rendy pergi mendaki bersama temannya.
Malam sebelum Rendy mendaki.
“Mas kamu serius mau mendaki besok? Kamu sudah lama nggak ke gunung loh.” Kata Rena mengawali pembicaraan menjelang tidur.
“Kamu kenapa sih Na? Nggak biasanya kamu khawatir sama aku.”
“Ya karena kamu udah jarang mendaki Mas. Aku takutnya kamu kenapa-kenapa.”
“Ya ampun santai aja Na. Aku pergi nggak sendiri kok.”
“Ya tapi kalau cuaca lagi buruk kan kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri Mas.”
“Kalau itu tanpa kamu ajari aku juga tahu.”
“Jadi kamu besok fix berangkat?”
“Iya dong aku udah janji sama temanku. Kamu kenapa sih?”
“Nggak tahu kenapa perasaanku nggak enak dari kemarin Mas. Aku takut kamu kenapa-kenapa.”
“Sudah deh jangan mikir aneh-aneh. Kita tidur ya, sudah malem.”
Kata Rendy sambil mematikan lampu kamar. Mereka pun tidur bersebelahan dengan Rena yang masih memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk jika Rendy tetap pergi mendaki. Ya sesering apapun Rena dan Rendy bertengkar mereka tetap suami istri yang sudah hidup bersama bertahun-tahun. Wajar jika Rena sangat mengkhawatirkan Rendy. Dan benar saja firasat buruk Rena benar-benar terjadi. Gunung tempat Rendy dan temannya mendaki mengalami hujan deras disertai angin kencang. Dan sore harinya Rena mendapat kabar bahwa Rendy dinyatakan menghilang. Bahkan teman Rendy pun dinyatakan kritis. Pada saat itu juga yang bisa Rena lakukan hanya menangis. Tidak ada seorang pun yang bisa ia salahkan. Karena hal itu juga sifat tempramennya muncul dan ia lampiaska semuanya kepada Abadi.
Mengingat kejadian itu membuat Rena menangis lagi. Namun air matanya sudah kering, dadanya pun mulai terasa sesak. Entah apa rencana Tuhan untuknya dan Abadi. Tiba-tiba saja Rena mendengar langkah kaki dari arah pintu depan, ia pun segera berlari untuk melihat siapa yang datang. Mungkin saja suaminya yang dinyatakan telah hilang telah kembali. Namun setelah melihat siapa yang datang wajah Rena terlihat lesu. Ternyata suara langkah kaki tersebut milik anak semata wayangnya Abadi. Rena pun kembali ke posisi semula tanpa melihat Abadi sama sekali. Abadi yang melihat tingkah Rena yang semakin hari semakin meresahkan hanya bisa terdiam dan memasuki kamarnya. Saat di kamar Abadi segera mengganti seragamnya dengan pakaian rumah. ia merasakan perutnya yang lapar, Abadi pun pergi ke dapur untuk makan siang. Namun tanpa disangka ketika sampai di dapur Abadi tidak melihat makanan tersedia sedikit pun. Bahkan yang membuat Abadi semakin terkejut ia melihat sampah bekas bungkus mie instan yang berserakan di lantai dapur. Dan disamping kekacauan yang terjadi, mamanya hanya terdiam memandangi pintu rumah dengan mata kosong di ruang makan. Dengan berat hati Abadi membersihkan kekacauan yang dibuat mamanya. Tanpa terasa perlahan air matanya mulai mengair di pipinya. Ia masih tidak mengira kebahagiaan yang sempat ia dapatkan semasa kecil perlahan mulai pudar. Entah kenapa ia mulai menyalahkan Tuhan yang memberinya begitu banyak masalah disaat ia seharusnya bisa bermain bersama teman-teman barunya. Abadi juga merasa semakin sesak melihat keadaan mamanya yang memperihatinkan. Rambut yang dulunya tertata rapi kini hanya dikuncir berantakan, matanya yang awalnya berseri sekarang menjadi mata panda. Bahkan di wajah cantiknya yang dulu terlihat selalu bersemangat sekarang hanya tertinggal kesedihan saja. Abadi yang awalnya ingin makan sesuatu memutuskan untuk membawa sebuah apel dan pergi ke kamarnya. Ia sudah tidak bisa lagi melihat kondisi mamanya yang semakin parah. Setelah kepergin Abadi, Rena mendapat kabar bahwa suaminya sudah ditemukan namun nyawanya tidak bisa terselamatkan. Rena yang mendengar kabar tersebut segera mengambil tasnya dan bergegas menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Rena memaksakan diri untuk menemui suaminya. Namun dokter melarang, dokter hanya tidak ingin Rena semakin terpuruk melihat kondisi mendiang suaminya yang cukup parah. Karena tindakan Rena yang menggebu-gebu dan membuat keramaina di rumah sakit, dokter pun mengizinkan Rena menemui Rendy untuk terakhir kalinya. Rena yang tak sanggup melihat jasad suaminya tubuhnya mulai terasa lemas dan pingsan pada saat itu juga. Dokter dan beberapa suster yang mengetahui keadaan Rena segera membantunya untuk mendapatkan perawatan. Di sisi lain terlihat Abadi yang tertidur di lantai kamar tidurnya dengan sisa sisa air mata yang mengering di pipinya. Abadi terbangun ketika mendengar keributan di rumahnya. Ia memutuskan untuk mencari sumber keributan tersebut. Sampailah Abadi di ruang tamu yang penuh dengan orang-orang. Ada keluarga besar dari Papa nya dan teman-teman Papanya. Dan matanya pun terfokus kepada Papanya yang sudah terbujur kaku dengan wajah berseri namun terlihat pucat pasi. Abadi yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat segera mengucek matanya beberapa kali. Namun yang ia temukan tetap sama. Ia memberanikan diri untuk mendekati Papanya. Betapa terkejutnya Abadi melihat Papanya yang sudah tidak bernapas berada tepat di depan matanya. Dengan segala hal yang terjadi bahkan air mata Abadi pun tidak bisa lag menetes. Yang ia lakukan hanya memandangi papanya dengan tatapan dingin namun tersirat kesedihan di dalamnya. Kemudian perhatiannya teralihkan dengan pecahan vas bunga yang cukup keras. Abadi melihat neneknya atau ibu dari papanya yang tengah mengamuk dan menyalahkan mamanya untuk kematian papanya.
“Rena kamu apa kan anak saya? Kenapa anak saya bisa meninggal mendahului saya. Pasti kamu yang bertanggung jawab atas semua ini kan?” kata nenek Abadi.
Rena yang disalahkan pun hanya bisa terdiam dan menangis sesenggukan. Abadi yang melihat mamanya diperlakukan dengan tidak pantas bergegas berdiri disamping mamanya. Awalnya Abadi ingin membel mamanya dari amukan nenek, nmaun niatnya terhenti. Jika ia membela mamanya mungkin kondisinya akan lebih parah lagi.
“Saya mau Abadi tinggal bersama saya. Saya nggak mau cucu saya bernasib sama dengan anak saya.”
Abadi yang sedari tadi mecoba bersabar pun tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia meraih meja yang berada disebelahnya dan membantingnya hingga terjadilah kekacauan yang tidak bisa dihindari. Neneknya yang melihat perlakuan Abadi pun terkejut dan amarahnya semakin meluap.
“Abadi nggak mau ikut nenek.” Kata Abadi sambil menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
“Jadi seperti ini cara kamu mendidik anak kamu Rena. Tidak punya sopan santun. Oke saya juga nggak mau membuang waktu saya untuk menjaga anak yang tidak memiliki sopan santun seperti Abadi.”
Setelah pertengkaran hebat yang terjadi satu jam penuh, pemakaman Rendy berjalan dengan lancar. Yang tersisa hanya rumah yang seperti kapal pecah. Ada banyak sekali benda-benda jatuh dan pecahan kaca di lantai. Sesampainya Abadi dan Rena di rumah setelah pemakaman Rendy, mereka bergegas menuju kamarnya masih-masing tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

BACA JUGA :   Sektor Usaha yang Tetap Menghasilkan di Masa Pandemi

Dia bukan seseorang yang pernah ku sapa dengan sorot mata dingin dan membunuh
Dia menjadi seseorang dengan sorot mata hangat dan pribadi yang ceria
Sangat tidak masuk akal bagaimana bisa seseorang berubah dalam sekejap mata?
Tulis Kasih dalam buku diarynya. Ia masih tidak meyangka dengan perlakuan Abadi yang berubah drastic. Namun ia menikmati setiap proses yang membuatnya tetap berada dijangkauan terdekat Abadi.
“Kasih gue ada di depan mata lu. Dan lu asyik main buku sendiri?” kata Sedia.
“Main buku? Perkataan macam apa itu? Yang ada main HP kali.” Jawab Kasih.
“Suka-suka gue. Mulut mulut gue”
“Wah berisik banget sih lu pada. Kenapa jadi gue yang ngerjain tugas, katanya mau belajar bareng.”
Sedia dan Kasih yang mendengar ucapan Senja pun hanya saling memandang dan melanjutkan kegiatan sebelumnya.dengan Kasih yang tetap menulis di buku diarynya dan Sedia yang melihat drama kesukaannya. Senja yang menyadari perkataanya diabaikan segera mempersiapkan suaranya untuk berteriak lebih kencang.
“Woi lu pada dengerin gue nggak sih?”
Teriakan Senja kembali diabaikan oleh Sedia dan Kasih.
“Gue pulang nih.”
“Sellow sis,maaf maaf.” Kata Kasih sambil menarik tangan Senja.
Dari luar terlihat Maya membawa minuman dingin dan camilan untuk Kasih dan teman-temannya.
“Ngomongin apa sih seru banget. Sampai kedengeran ke dapur.” Kata Maya.
“Kasih nih Tante, mikirin Abadi mulu.” Kata Sedia.
“Nggak Ma, ngaco banget sih Di.”
Maya yang melihat respon lucu dari Kasih hanya bisa tersenyum.
“Ya sudah selamat belajar ya.” Kata Maya dan meninggalkan Kamar Kasih.
Setelah Maya pergi, Kasih dan Sedia mencondongkan tubuhnya kearah Senja. Senja yang melihat perlakuan aneh teman-temannya segera mendorong dahi mereka.
“Lu pada jangan nakut-nakutin gue deh.”
“Emang muka gue seram?” tanya Sedia pada Senja.
“Lebih seram dari hantu yang gue temuin.”
“Emang lu pernah lihat hantu?”
“Pernah lah. Di mimpi gue.”
“Kalau di mimpi mah semua orang juga pernah.” Kata Kasih
Senja yang ingin membalas perkataan Kasih terhenti karena bekapan tangan Sedia.
“Stooop! Lu jangan mengalihkan pembicaraan ya.” Kata Sedia.
“Setuju.” Kata Kasih.
Senja yang mendengar ucapan kedua temannya pun segera memindahkan tangan Sedia yang tadinya membekap mulutnya.
“Kalau lu bekap mulut gue. Gimana gue bisa cerita?” kata Senja
“Sekarang lu ceritain gimana bisa ada foto abang gue di HP elu.” Tanya Sedia.
“Lu nge-date ya sama Bang Magenta?” tanya Kasih yang dibalas dengan pipi merona milik Senja.
“Senja lu serius nge-date sama Abang gue?”
“Nggak Di.”
“Mulut lu bilang nggak, pipi lu tuh udah merah kayak kepiting rebus.”
“Kenapa gue mendadak sedih banget ya. Abang gue nge-date sama teman baik gue, tapi gue nggak tahu apa-apa.” Kata Sedia sambil memeluk Kasih.
“Sabar ya Di, kalau kacang lupa kulitnya ya gitu.”
“Please deh kalian jangan berlebihan. Gue sama Kak Magenta nggak sengaja ketemu. Trus yaudah ke café bareng. Itu juga fotonya di café.”
“Lu pasti ngefoto abang gue diam-diam kan. Si Abang tu paling nggak suka foto, asal lu tahu aja.”
“Iya lah, mana berani gue minta foto ke Kak Magenta. Kalau hubungan lu sama Abadi gimana Kas?” tanya Senja

Bagikan Yok!