November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kasih Abadi Bab 14 Persahabatan Dari Masa Lalu

Di rumah mewah namun sepi ini terlihat Rena sedang melihat foto-foto masa kecil Abadi. Rena sudah tidak bisa lagi membendung tangisanya. Air matanya mengalir deras hingga terdengar isakan pelan dari mulutnya. Entah apa penyebab keadaan Rena yang biasanya terlihat tegas kini rapuh tak berdaya.
“Maafin Mama Adi.”
Rena teringat kejadian 6 tahun lalu, yang merenggut nyawa Rendy, suaminya.
6 tahun lalu…
Suatu hari Rendy tanpa sengaja bertemu dengan Raman, teman lamanya yang sudah hilang kontak dengannya. Rendy dan Raman terlihat sangat senang mereka menanyakan kabar satu sama lain dan berbagi cerita selama mereka hilang kontak. Mereka juga mengenang kebersamaan mereka ketika mendaki gunung. Salah satu alasan mereka berteman baik adalah mendaki.
“Lu udah berapa lama nggak mendaki?” tanya Raman.
“Gue terakhir juga sama lu.” Jawab Rendy.
“Gue sempat ke Gunung Rinjani. Seperti planning kita dulu, tapi nggak seru juga kalau lu nggak ikut.”
“Lu ada foto-fotonya nggak?”
Raman menunjukkan beberapa foto yang ia ambil ketika mendaki di gunung rinjani. Dan tentu saja Rendy terlihat iri dan ingin mendaki ke gunung rinjani juga.
“Wah gila ini keren banget. Gue jadi pengen kesana Man.”
“Atau kita kesana aja? Berdua. Sekalian nostalgia.”
“Boleh juga tuh. Kita atur jadwal masing-masing dulu. Tar kalau ada yang pas langsung berangkat deh. Oh iya gue minta nomor lu dong.”
Mereka memutuskan untuk merencanakan pendakian di gunung rinjani. Mereka juga saling menukar nomor ponsel agar tidak hilang kontak lagi.
“Ini anak sama istri lu?” kata Rendy sambil memandangi foto wallpaper di ponsel Raman.
“Iya. Cantik-cantik kan?” jawab Raman. Wajahnya berseri ketika ada seseorang yang menanyakan tentang keluarga. Sesayang itulah ia dengan istri dan anak semata wayangnya.
“Lu sendiri gimana?” tanya Raman.
“Ini anak gue baru masuk SMP. Dan sebelahnya istri gue.”
“Wah anak lu udah gede juga ya. Selisih setahun doang sama anak gue.”
“Kapan-kapan kalau ada waktu kita bikin acara makan malam bareng keluarga kita yuk. Biar hubungan pertemanannya nggak berhenti di kita doang. Siapa tahu mereka bisa temenan atau jodoh?” kata Rendy sambil tertawa. Ia baru sadar hal konyol yang ia ucapkan.
“Temenan boleh kalau pacaran gue bakal mikir-mikir lagi deh.”
“Yaelah bercanda Man. Lagian anak lu juga masih kecil kan. Posesif banget sih.”
“Ya gimana gue nggak posesif anak gue satu-satunya tuh. Mana cantik banget lagi.”
Mereka mengehentikan pembicaraan karena hari sudah mulai malam. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Rendy sampai rumah tepat pukul 21.00 WIB.
“Kemana aja Mas kok baru pulang?” Tanya Rena.
“Aku tadi nggak sengaja ketemu teman lama. Keasyikan ngobrol deh. Oh iya Abadi mana?”
“Abadi belajar.”
“Dari jam berapa dia belajar?”
“Dari tadi sore Mas.”
“Rena, kamu jangan terlalu memaksa Abadi dong! Dia masih kecil Na.”
“Justru itu karena dia masih kecil kita harus membiasakan dia untuk kerja keras.”
“Kerja keras yang kamu ajarkan itu sudah melewati batas. Kamu jangan terlalu terobssi dengan nilai Abadi dong. Biarkan dia tumbuh seperti anak-anak yang lain.”
“Dia anak aku Mas, dia harus tumbuh berbeda dengan anak-anak yang lain. Dia harus jadi orang yang spesial.”
“Kamu ini kenapa sih? Apa sih yang penyebab kamu selalu terobsesi dengan nilai-nilai Abadi.”
“Keluarga kamu yang membuat aku seperti ini Mas. Bahkan sampai Abadi sebesar sekarang pun mereka tidak menganggap keberadaan aku dan Abadi. Aku juga mau membuktikan bahwa aku bukan orang miskin yang tidak punya apa-apa. Aku punya kecerdasan dalam diri aku dan Abadi harus memiliki itu juga. Aku nggak mau keluarga kita dipandang sebelah mata sama orang lain.”
“Na, yang memandang sebelah mata itu siapa? Tetangga kita? Nggak kan?”
“Siapapun itu Mas. Aku hanya mengantisipasi.” Jawab Rena dan bergegas pergi ke kamarnya. Rendy bingung sekali melihat sikap Rena yang berubah semenjak kehadiran Abadi. Ia juga sempat berpikir mungkin saja hal itu tidak terjadi jika ia tidak menikahi Rena. Namu ia segera menepis pemikiran itu. Yang terpenting sekarang adalah psikis Abadi.
Rena menyadari keegoisan dan obsesinya telah menghancurkan hidupnya dan Abadi. Rena kembali teringat ketika karakter Dave pertama kali muncul pada diri Abadi.
“Ini tahun pertama kamu di SMP dan mama mau kamu menjadi murid terbaik di sekolah kamu. Mama nggak mau tahu apapun caranya. Kamu tahu kan susah payah mama membangun citra baik di keluarga kita? Mama nggak mau nama baik keluarga kita hancur hanya karena nilai buruk kamu. Sekarang kamu masuk ke kamar dan jangan keluar sampai besok pagi. Kamu harus belajar sampai kamu paham apa yang kamu pelajari.”
Rena pun mengantar Abadi ke kamarnya dan mengunci kamar Abadi dari luar. Di dalam kamar Abadi belajar mati-matian hingga mimisan. Setelah mimisan pun ia tidak berhenti dan tetap melanjutkan belajarnya. Kemudian tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat sakit, Abadi berteriak sangat kencang. Namun mamanya tidak juga datang, tubuhnya sekarang sudah terjatuh di lantai, matanya berair. Ia menangis sendirian sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat menyakitkan. Hingga akhirnya Abadi pingsan dengan posisi tubuh yang meringkuk dan tangan yang masih memegang kepalanya. Keesokan paginya Rena menuju kamar Abadi dan membuka kunci pintu kamar Abadi. Setelah selesai Rena tidak membangunkan Abadi namun hanya mengetuk pintu kamar Abadi sebanyak tiga kali. Abadi yang mendengar ketukan itu terbangun dari tidurnya. Kondisi Abadi saat ini sangat menyedihkan, matanya sembab, mulutnya kering, dan wajahnya pucat. Bahkan masih ada sisa-sia air mata dipipinya. Abadi yang sudar tersadar dari tidurnya segera bersiap untuk berangkat sekolah. Setelah siap Abadi menemui mamanya di ruang makan.
“Kamu jangan beranggapan dengan kondisi kamu sekarang mama akan mengizinkan kamu untuk tidak ikut ujian ya. Sesakit apapun kamu ujian ini lebih penting Abadi. Sekarang cepat selesaikan sarapannya dan mama antar ke sekolah.”
Abadi menuruti semua perkataan Rena tanpa mengeluh sedikit pun. Rena mulai merasa ada yang aneh dengan anaknya namun ia tetap berpikiran positif mungkin saja Abadi sudah menyadari bahwa apa yang Rena lakukan kepada Abadi adalah yang terbaik untuk Abadi. Kini Rena mulai menyesali apa yang ia lakukan kepada Abadi. Andai saja ia cepat membawa Abadi ke psikiater mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Sekarang bahkan Rena sudah tidak bisa mengendalikan Abadi dan Dave. Dave mulai menguasai tubuh Abadi dan memiliki harapan untuk hidup dalam diri Abadi.

BACA JUGA :   Puisi : Pilih yang Mana ya?

Lagi-lagi Sedia mendapati Magenta tengah melamun di balkon rumahnya. Entah apa yang terjadi kepada Magenta. Sudah genap seminggu Magenta sering melamun sendirian.
“Bang.” Panggil Sedia.
“Abang tu ngelamun mulu. Mikirin apaan sih? Nih ya kalau gue perhatiin udah semingguan ini lho abang ngelamun terus. Ada apaan sih bang? Cerita dong.”
“Apaan sih kepo banget lu.”
“Woi lu tinggal di rumah ini nggak sendirian. Risih gue lihat lu ngemalun mulu tiap hari.”
“Kepala gue mau pecah rasanya. Masalah Abadi belum selesai sekarang kepikiran Senja juga. Apa benar Senja suka sama cowok? Apa gue tanya ke Sedia aja. Jangan deh itu anak kan mulutnya licin banget kayak oli. Yang ada malah diceritain ke Senja dan Kasih.” Batin Magenta.
“Bang.”
“Apa sih dek?”
“Cerita dong.”
“Teman lu Senja lagi suka sama cowok ya?” tanya Magenta.
“Ada angin apaan nih Bang Magen tanyain tentang Senja. Jangan-jangan si Senja ketahuan. Itu anak kan suka mendadak bego kalau di depan Bang Magen.” Batin Sedia.
“Iya.”
“Cowoknya elu bego.” Batin Sedia.
“Dek, kok gue merasa lu lagi berkata-kata kasar lewat tatapan mata lu ya.”
“Apaan sih Bang ngaco lu.”
“Tapi serius atau jangan-jangan lu.”
“Emang kenapa sama Senja? Wajar dong kalau dia suka sama cowok.”
Demi melindungi harga dirinya Magenta mengalihkan pembicaraannya.
“Kalau lu? Lagi suka sama cowok?” tanya Magenta.
Sedia yang ditanya seperti itu mendadak gugup. Yang memenuhi kepalanya saat ini justru Kala.
“Nggak.”
“Serius?”
“Gue perhatiin lu juga sering banget bengong.”
“Jangan memutar balikkan fakta Bang.”
“Dih orang gue serius. Senja pernah cerita ke gue.”
“Senja? Sedekat apa sih hubungan lu sama Senja.”
“Duh kok gue bisa kelepasan ngomongin masalah Senja sih. Mending gue kabur deh.” Batin Magenta.
“Gue tidur dulu.” Kata Magenta sambil mengelus kasar rambut adiknya dan pergi ke kamarnya.
“Abang.” Teriak Sedia.

BACA JUGA :   Pilu Wajah Penguasa

Seorang gadis sedang menatap indah bintang-bintang dari balik jendela besar di kamarnya. Ia sedang menikmati angin malam lewat jendela kamarnya. Pikirannya terbang bersama angin yang berhembus pelan, angin itu membawanya ke titik dimana ia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Abadi disekitarnya.
“Kenapa tiba-tiba gue kepikiran Abadi ya. Meskipun terasa asing, tapi Abadi yang sekarang berubah menjadi lebih baik. Dan walaupun rada canggung tapi gue suka sama perlakuan Abadi ke gue. Apa gue mulai suka sama Abadi yang sekarang?”

Bagikan Yok!