November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kasih Abadi Bab 11 Dissociative Identity Disorder

Jam dinding di kamar Kasih menunjukkan pukul 05.45 WIB. Kasih yang sudah selesai rapi dengan seragam dan tas sekolah di pundaknya, beranjak turun untuk sarapan. Namun baru saja Kasih membuka pintu ia teringat bahwa ia lupa membuka jendela kamarnya. Kasih kembali ke kamar dan membuka jendala. Betapa terkejutnya Kasih ketika ia mengedarkan pandangan di sekeliling halaman rumah dan mendapati Abadi di depan gerbang rumhanya sambil duduk di jok motornya. Merasakan ada seseorang yang mengawasinya, Abadi menengadahkan kepalanya dan melihat Kasih tengah memperhatikannya. Abadi yang menyadari hal tersebut segera melambaikan tangannya kearah Kasih sambil memberikan senyum terbaiknya. Kasih masih terkejut hingga lupa membalas lambaian tangan Abadi, ia justru berlari keluar menuju halaman depan tempat Abadi berada.
“Kasih jangan lari-lari.” Teriak Maya khawatir melihat Kasih yang berlarian menuruni anak tangga. Dan Maya lebih terkejut lagi ketika Kasih melewatinya begitu saja.
“Kasih mau kemana? Sarapan dulu!” teriak Maya lagi. Ia masih tak habis pikir sebenarnya apa yang terjadi pada Kasih. Tidak biasanya ia terburu-buru berangkat sekolah. Apalagi jam masuk sekolah masih lama. Apa hari ini ia ujian?
Kasih yang sudah berada di halaman pun segera membuka gerbang rumahnya. Dan saat ia mendapati Abadi berdiri tepat dihadapannya yang ia lakukan hanya berdiam diri.
“Serius ini Abadi? Tapi ngapain dia kesini sepagi ini? Apa gue mimpi? Atau gue halu.” Batin Kasih.
Abadi yang gemas melihat tingkah laku Kasih pun melambaian tangannya tepat didepan maka Kasih agar cewek dihadapannya tersebut tersadar dari lamunannya.
“Lu ngapain di sini? Mau nemuin siapa?” tanya Kasih setelah tersadar dari lamunannya.
“Ya mau nemuin elu lah siapa lagi?”
“Gue? Ada apa?”
“Ke sekolah bareng yuk.”
“Haa?”
Belum sempat Kasih melanjutkan ucapannya Maya datang menghampiri mereka.
“Kasih kenapa lari-lari. Abadi?”
“Selamat pagi Tante.” Sapa Abadi sambil mencium punggung tangan Maya.
“Pagi. Kamu sudah sarapan?”
“Kebetulan belum Tante.”
“Ya sudah sarapan bareng tante sama Kasih aja.”
“Mama.” Bisik Kasih pada mamanya.
Karena Maya sangat gemas dengan tingkah Kasih, ia justru mengajak Abadi masuk dan sarapan bersama ia dan Kasih. Maya masih tidak menyangka, anak yang ia besarkan seorang diri selama ini sudah beranjak remaja. Sulit rasanay menerima putrid satu-satunya sudah remaja, namun mau bagaimana lagi? Ditunda berapa lama pun fase tersebut pasti akan dialami Kasih. Karena permintaan mutlak Maya yang tidak bisa ditolak pun menjadi penyebab saat ini Abadi sedang sarapan berhadapan dengan Kasih.
“Maaf ya Abadi tante kalau pagi jarang masak. Kasih juga lebih suka sarapan sama roti selai kayak gini.”
“Nggak apa-apa kok Tante kalau Abadi mah apapun bisa dicerna.” Kata Abadi sambil memamerkan keceriaannya.
Dan lagi-lagi hal itulah yang membuat Kasih semakin bingung. Kasih semakin penasaran cowok seperti apa Abadi?
“Oh iya Abadi minta izin sekolah bareng Kasih ya Tante.”
“Diizinin nggak ya?” Jawab Maya.
“Mama jangan jail deh.” Ucap Kasih pelan. Ia tidak tahan melihat mamanya yang sedari tadi menggodanya.
“Iya boleh kok Abadi. Tapi kalau berangkat bareng kamu pulang juga sama kamu ya.”
“Oh iya ini kalian serius mau berangkat sepagi ini?”
“Iya Tante soalnya Abadi ada ujian hari ini.”
“Wah kalau gitu lain kali nggak usah jemput Kasih nggak apa-apa. Kamu fokus aja sama ujiannya.”
“Ya kalau nggak ketemu Kasih justru nggak fokus ujian Tante.”
Kasih yang mendengarkan penjelasan Abadi dan membuat pipinya merah merona pun segera mengajak Abadi berangkat sekolah. Maya yang melihat tingkah anak semata wayangnya itu hanya bisa menahan tawa.
“Abadi sama Kasih berangkat dulu ya Tante.” Kata Abadi sambil salim kepaa Maya.
“Iya hati-hati ya Bad.”
“Mama Kasih berangkat ya.” Kata Kasih sambil salim dan dibalas dengan Maya yang mencubit pipinya.
“Hati-hati nanti jantungnya copot.”
“Mama.” Teriak Kasih sambil menarik Abadi. Kasih juga berharap Abadi tidak mendengar ucapan mamanya tadi.
Ketika Kasih ingin menaiki motor sport Abadi, ia merasa kesulitan karena tubuhnya yang mungil
“Bad lu nggak ada motor yang pendekan dikit?”
“Dimana mana yang namanya motor sport kayak gini Kas.”
“Gue nggak bisa naik nih.”
“Sini pegang tangan gue.” Abadi mengulurkan tangannya untuk mempermudah Kasih.
Sesampainya di sekolah, Kasih dan Abadi menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak semua wanita yang sudah mendekati Abadi bertahun-tahun merasa terhianati. Setelah berhasil memarkirkan motornya dan membantu Kasih turun dari motor, Abadi tertawa kecil melihat Kasih yang ingin segera ke kelas sampai lupa melepas helmnya.
“Bad gue ke kelas dulu ya.”
“Eh Kasih bentar.”
“Kenapa?”
“Helmnya masak nggak dilepas.”
“Aduh mati gue, kenapa gue bertingkah sebodoh ini di depan Abadi.” Batin Kasih.
Dan lagi-lagi Kasih kebingungan karena ia tidak bisa melepas helmnya. Ia saat ini sangat risih karena semua mata hanya tertuju padanya dan Abadi. Abadi yang melihat Kasih kebingungan segera membantu Kasih. Dan karena perbuatan Abadi lah Kasih merasakan tatapan tajam dari beberapa cewek di sana.
“Haaah kenapa gue merasa bagian belakang tubuh gue panas banget ya.” Batin Kasih.
Dan saat menengok kebelakang Kasih menyadari apa yang terjadi.
“Apa bakal kayak gini hari-hari gue setelah dekat sama Abadi. Berasa puna mimpi buruk tapi ada pemanisnya.” Batin Kasih.
“Gue duluan ya Bad.”
“Kasih.” Panggil Abadi sambil menarik lengan Kasih.
“Apalagi sih Bad”
“Jantung lu jangan sampek copot ya.”
Kasih yang mendengar ucapan Abadi sangat terkejut. Jadi tadi Abadi mendengar semua ucapan Maya. Diantara banyak pasang mata menyoroti kedekatan Abadi dan Kasih Nampak sepasang mata yang mengisyaratkan kecemburuan. Ya, siapa lagi kalau bukan Kala. ternyata disaat Abadi dan Kasih memasuki gerbang sekolah disana ada Sedia dan Kala yang sedang berdebat ringan di halaman sekolah. Dan tanpa sengaja Mata Kala menangkap kebersamaan Kasih dan Abadi. Matanya pun terus saja mengikuti setiap gerak gerik Abadi dan Kasih. Bahkan tanpa ia sadari ada sepasang mata yang memandangnya dengan sedikit kekecewaan.
“Oh my god, itukan Kasih sama Abadi?” Kata Sedia yang langsung mengalihkan perhatian Kala.
“Jadi ini maksud Bang Magen”. Batin Sedia.
“Finally official juga mereka.” Lanjut Sedia dan memperhatikan raut wajah Kala.
“Cemburu? Apasih yang lu suka dari Kasih? Ish kenapa gue jadi sepeduli ini sama Kala. oke buang pikiran lu jauh-jauh Sedia.” Batin Sedia.
Saat Sedia heboh sendiri dengan lamunannya Kala justru beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Sedia. Sedia masih tak habis pikir sesuka itukah Kala pada Kasih.

BACA JUGA :   Ketika Anak Mengadukan Keluhan Tentang Pesantren

Dua jam sebelum Abadi menjemput Kasih ke rumahnya. Di kamar Magenta yang dipenuhi dengan nuansa abu-abu, Magenta tengah tertidur pulas. Tiba-tiba saja ponselnya berdering memenuhi setiap sudut kamarnya dan memaksanya untuk terbangun sejenak. Saat Magenta melihat layar ponselnya tertera nama Abadi. Tanpa berpikir panjang Magenta pun mengangkat telepon dari Abadi.
“Halo, Abadi lu kurang kerjaan bangunin gue jam segini?”
“Sorry sorry, lu tahu rumahnya Kasih dimana nggak?”
“Gila lu nelepon gue sepagi ini cuma buat tanya rumah Kasih dimana?”
“Gue mau tanya ke siapa lagi kalau bukan elu.”
Akhirnya Magenta pun menyerah berdebat dengan Abadi dan memberitahu Abadi dimana rumah Kasih. Setelah itu Magenta melanjutkan tidurnya. Baru sekitar 15 menit ia tertidur, Sedia masuk ke kamarnya dan membuat kekacauan.
“Woi bang bangun sudah pagi.”
“Apaan sih dek masih ngantuk gue.”
“Ih dibilangin bangun.”
“Gila, nggak elu nggak Abadi sama aja ya. Demen banget ganggu orang tidur.”
“Abadi, gimana bisa gangguin elu? Dia aja nggak ada di sini.”
“Parah banget tu bocah, bisa-bisanya telepon gue pagi-pagi cuma buat tanya rumah Kasih dimana.”
“Mulut lu Bang. Mandi gih, curhat mulu.”
Magenta yang tidak mau mendengarkan ocehan adiknya terus berlarut, segera memaksakan dirinya untuk mandi.
“Abadi tanya rumahnya Kasih? bukannya dia udah pernah kesana? Atau lupa kali ya. Kan cuma sekali ke sana.” Batin Sedia yang merasa aneh dengan sikap Abadi.


“Kasiiih.” Teriak Sedia hingga terdengar disetiap sudut kelas.
“Mulut lu Di sudah kayak mercon.” Jawab Kasih.
Senja yang awalnya cuek pun bertanya pada Kasih dan Sedia.
“Tadi di depan rame-rame ada apaan sih? Razia?” tanya Senja.
“Lebih parah dari razia. Pikirin dah tu apaan?” jawab Sedia.
“Ada kasus pembunuhan di sekolah kita?”
“Kebanyakan nonton film lu.” Semprot Kasih.
“Yaelah tinggal bilang aja ribet banget sih kalian.”
“Itu cewek-cewek di depan lagi patah hati masal.” Kata Sedia.
“Kok bisa?”
“Iya lah pada lihat si most wanted Abadi berangkat bareng Kasih. Lu lihat dah tu punggungnya si Kasih kebakar api cemburu dari para pengagum Abadi.”
“Mulut lu dia, minta dicabein ya.” Kata Kasih sambil membekap mulut Sedia.
“Kasih lu kok bisa berangkat bareng Abadi?” tanya Senja.
“Ya gue dijemput.”
“Kok bisa dijemput?”
“Ya mana gue tahu. Lu kenapa? Cemburu?”
“Nggak lah. Gue juga mau kali dijemput sama Kak Magenta.”
“Gila tragis banget sih kisah cinta lu.” Kata Sedia sambil tertawa mendengar curhatan Senja.
“Bacot lu Di.”
“Btw ngomong-ngomong masalah Bang Magen, lu tahu nggak artinya DID itu apaan?”
“Hubungannya apa Sedia?” tanya Kasih gegegetan.
“Sudah jawab aja dulu.”
“Yaelah tanya sama anak SD pasti pada tahu. DID itu bentuk kata lampau dari do. Lu pas pelajaran bahasa inggris kemana sih? Bolos lu?”
Sedia yang geregetan dengan jawaban Kasih pun memukul pelan bagian belakang kepala Kasih.
“Gue juga nggak bego bego amat kali Kas. Kalau itu gue tahu. Bukan DID yang itu maksud gue.”
“Berisik woi. Dia lu kenapa ribet banget sih? Kalau nggak tahu tinggal search di google, beres kan.” Kata Senja yang sudah lelah mendengarkan perdebatan teman-temannya.
“Oh iya kenapa gue nggak kepikiran ya.”
Sedia pun segera searching di google dengan menuliskan kata DID.
Haa? Dissociative Identity Disorder? Apa maksudnya nih? Kenapa gue mendadak bego ya?

Bagikan Yok!