November 29, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Berbuat Salah Demi Cinta

Bab 19 : Berbuat Salah Demi Cinta

Ujian Akhir semakin dekat, sekolah mewajibkan setiap murid untuk mengikuti kelas tambahan. Yang pulangnya biasanya jam 2 siang, kini pulang sekolahnya jadi jam 4 sore. Dua Minggu ini akan menjadi hari-hari yang berat bagiku.

Tak ada waktu untuk berleha-leha lagi, aku harus giat belajar supaya lulus dengan nilai yang memuaskan. Untuk kelas tambahan ini, para murid akan ditempatkan pada kelas sesuai dengan tingkatan nilai akhir yang diperoleh dari try out. Pembagian kelasnya pun sudah terpasang di mading sekolah.

“Hai teman-teman, yuk kita lihat pengumumannya di perpustakaan. Di sana mungkin nggak terlalu ramai,” ajakku kepada dua temanku.

“Iya, kita lihat di sana aja. Rida, ayo!” panggil Sofi kepada Rida.

“Iya Sofi, aku denger kok. Nggak usah kenceng gitu manggilnya,” sahut Rida kesal.

“Udah udah kalian berdua, sukanya berantem mulu. Ayo, kita segera ke sana. Kalau nggak nanti keburu jam istirahat habis,” aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar mereka berdua tidak terus-terusan bertengkar

Aku, Rida, dan Sofi pun bergegas menuju mading yang ada di Perpustakaan. Dalam perjalanan ke perpus, aku sempat berpapasan dengan Rori. Kami berdua tak bertegur sapa dan hanya bertukar pandang satu sama lain.

Rori hanya diam dan memandangiku dengan tatapan kosong. Sementara aku bersikap cuek dan tak melihat ke arahnya. Namun, saat Rori sudah hilang dari pandanganku, aku menoleh ke belakang untuk mencarinya.

“Indri, kamu lihat apa?” tanya Sofi penasaran.

“Enggak, aku nggak lihat apa-apa. Ayo, kita masuk,” balasku.

“Iya, ayo!” jawab Sofi singkat.

Begitu sampai di depan mading, kami mulai memeriksa secara saksama lembaran-lembaran kertas yang tertempel di Mading.

Sekian lama mencari, akhirnya aku menemukan namaku di deretan kelas satu. Aku terkejut melihatnya, bagaimana bisa aku masuk dalam jajaran anak-anak pandai, padahal nilai akhir tryout ku biasa-biasa saja. Sofi dan Rida saja sampai tak percaya.

BACA JUGA :   Kasih Abadi Bab 9 Siapa Dave Sebenarnya

“Indri, bagaimana bisa kamu masuk ke kelas 1. Bukannya nilai tryoutmu di bawah 9?” ujar Rida.

“Aku sendiri juga tidak mengerti. Kok bisa aku masuk ke kelas 1,” jawabku.

“Aku ucapkan selamat ya, Indri. Udah, nggak usah dipikirin. Mungkin ini sudah rezekimu, terima saja,” kata Sofi sambil memelukku.

Yang lebih mengejutkannya lagi, aku satu kelas sama Rori. Apakah mungkin Rori yang melakukan ini semua?. Dia itu kan anaknya Pak Zaid, guru matematika paling dihormati di sekolah ini.
Bisa saja dia meminta kepada ayahnya untuk memasukkanku ke sana.

“Kalian berdua ke kelas duluan aja. Aku mau pergi ke kantin sebentar,” sebenarnya aku tidak pergi ke kantin, melainkan aku mau menemui Rori di kelasnya untuk meminta penjelasannya.

“Kenapa kamu mau kembali ke sana?” tanya Sofi penasaran.

“Aku mau beli sesuatu,” kataku sambil mengalihkan pandanganku dari Sofi.

“Sudahlah Sofi, jangan kamu investigasi terus Indri. Kasihan dia. Yuk, kita kembali ke kelas. Indri, kami duluan ya,” seru Rida.

“Iya Rida, sampai jumpa.”

Setibanya aku di kelasnya Rori, aku langsung masuk ke dalam dan menariknya keluar kelas.

“Indri, lepaskan tanganku. Kau ini kenapa?” ujar Rori yang kesal.

“Aku mau tanya sama kamu. Ini semua pasti kerjaanmu kan?” bentakku keras kepada Rori.

“Apa maksudmu, aku tidak mengerti.”

“Jangan pura-pura tidak tahu, kamu kan yang meminta pada ayahmu untuk memasukkanku ke kelas satu?”

“Oh, soal itu. Iya, aku sengaja minta ke ayah agar kamu dimasukkan ke kelas yang sama denganku.”

“Ini salah, Rori. Jangan mentang-mentang karena kau anaknya guru, kau bisa berbuat sesuka hatimu. Sekarang, aku minta padamu untuk mengeluarkan aku dari daftar kelas satu.”

BACA JUGA :   Cerpen Masa Depan Bangsa Digenggaman Kita

“Tidak bisa diubah, Indri. Ini sudah keputusan final. Lihatlah sisi positifnya, kita bisa menghabiskan waktu bersama. Kalau ada Dani dan dua temanmu, kita tak bisa leluasa mengobrol.”

“Baru tahu aku, kalau kau itu orangnya egois. Bukankah Dani sahabatmu, tapi kenapa kau memperlakukannya seperti seorang pengganggu. Aku tidak paham cara berpikirmu. Sungguh, kau tak layak mendapatkan cintaku,” ungkapku marah.

“Aku melakukan semua ini untukmu. Lagian ayah juga setuju, lalu apa masalahnya?”

“Oh ya Tuhan, apa kamu tidak berpikir tentang murid yang sudah belajar mati-matian demi mendapatkan posisi di kelas satu. Coba bayangkan, usaha mereka akan sia-sia, Rori.”

“Aku tidak peduli dengan mereka. Aku hanya peduli kepadamu.”

“Sudahlah, terserah kamu. Aku nggak ngerti lagi harus ngomong apa sama kamu,” ungkapku sambil melangkah pergi meninggalkan Rori.

“Indri, kumohon jangan marah. Indri!” Rori terus saja memanggilku, tapi aku tak menghiraukannya sama sekali. Aku sangat marah padanya karena sudah menggunakan posisi ayahnya demi kepentingannya sendiri.

Setelah menemui Rori, aku langsung menuju ruang guru untuk menemui Pak Zaid. Percuma saja bicara dengan anaknya, ia tidak mengerti sama sekali. Mungkin saja jika aku berbicara pada ayahnya, dia akan mengerti diriku.

“Maaf Pak, boleh saya bicara sebentar dengan bapak?”

“Ada apa Indri? Apa yang ingin kau bicarakan?” Pak Zaid balik bertanya kepadaku.

“Begini Pak, saya tidak mau mengikuti kelas tambahan di kelas satu. Bisakah bapak memindahkan saya di kelas tujuh.”

“Maaf, Indri. Bapak tidak bisa mengubahnya.”

“Kenapa bapak mendukung Rori berbuat salah. Ini tidak adil bagi murid yang lainnya, Pak.”

“Seharusnya kamu bersyukur karena menempati kelas itu tanpa harus bersusah payah.”
“Bapak dan Rori sama saja. Baiklah, kalau begitu saya tidak akan mengikuti kelas tambahan.”

BACA JUGA :   Kasih Abadi Bab 8 Americano atau Latte

“Jika kau tidak mengikuti kelas tambahan akan berakibat fatal pada hasil akhir nilai rapormu nanti. Kelas ini wajib diikuti oleh semua anak kelas sembilan dan akan dimasukkan dalam nilai rapor.”

Aku tidak menjawab Pak Zaid dan langsung pergi keluar. Pikiranku campur aduk, aku bingung harus mengikuti kelas tambahan atau tidak. Kalau tidak ikut, nilai rapor nantinya jelek. Rori dan ayahnya benar-benar membuatku merasa bersalah pada semua teman-teman kelasku.

Bahkan, aku sampai mendapatkan cemoohan dari anak terpintar di kelasku, yaitu Mira dan Adnan.

“Enak ya, Indri. Dapat Kelas 1. Padahal nilainya kan di bawahku,” Sindir Mira.

“Iya, percuma saja aku belajar setiap hari,” sela Adnan

“Jangan dengarkan mereka, Indri. Mereka hanya iri saja sama kamu,” ujar Sofi yang membelaku.

“Eh Sofi, diam kamu. Jangan ikut campur masalah kami,” bentak Adnan kepada Sofi.

“Enak sekali dia masuk ke kelas satu dengan mudahnya. Kamu tahu Sofi, aku belajar sampai bergadang hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus,” ungkap Mira.

“Percuma kamu jelaskan kepada Sofi, Mira. Dia tidak akan mengerti penderitaan kita. Indri kan sahabatnya Sofi, tentu saja dia akan membelanya,” ucap Adnan kesal.

“Dasar, kalian ini!” Sofi mau membalas mereka dengan melemparkan penghapus papan tulis ke mukanya, tapi untungnya aku berhasil menghentikannya.

“Jangan Sofi. Tidak usah kamu ladeni mereka berdua. Lebih baik, kita diam saja. Kalau kamu membalasnya, apa bedanya kamu sama mereka. Sudahlah, biarkan saja mereka meledekku sepuas hatinya. Kita mengalah saja.”

Dua Minggu kemudian, hari pertama kelas tambahan dimulai. Aku terpaksa mengikuti kelas tambahan bukannya aku takut nilai raporku jelek, tapi ibuku lah yang sudah memaksaku.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/illustrations/sedikit-pria-wanita-diskusi-707505/

Baca juga :

Cerita Cintaku : Kenapa Pak Guru Marah

indriani (123)

Bagikan Yok!