November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Penyesalan Seorang Guru

Bab 17 : Penyesalan Seorang Guru

“Kau tidak apa-apa kan?” tanya si anak laki-laki aneh.

“Iya, aku tidak apa-apa. Aku harus kembali ke kelas sekarang,” ketika aku mau pergi meninggalkannya, tiba-tiba saja anak laki-laki itu menggenggam tanganku.

“Jangan, nanti kau akan dihukum lagi,” ujarnya.

“Tidak apa-apa. Aku memang salah ya harus menerima hukumannya. Lepaskan tanganku,” kataku sembari melepaskan tanganku dari genggamannya.

“Tapi…”

“Jangan khawatir, aku tidak apa-apa. Terima kasih kau sudah menyelamatkan aku tadi.”

“Tidak, tidak akan kubiarkan kau pergi. Aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu.”

“Kenapa, kenapa kau mengkhawatirkan diriku?”

“Aku mengkhawatirkanmu karena….”

Pintu gudang tiba-tiba saja terbuka, dan Pak Zaid akhirnya menemukan kami di sana. Pak Zaid langsung menyeret kami berdua keluar dari gudang dan membawa kami ke lapangan basket.

“Ternyata kalian berdua ada di sini. Ayo, ikut saya sekarang!” bentak Pak Zaid kepada kami sambil menjewer telinga kami berdua.

“Aduh pak, sakit. Tolong lepaskan,” aku meminta Pak Zaid melepaskan tangannya dari telingaku, tapi tak digubris sama sekali olehnya.

“Biar saja, biar kalian berdua tau rasa. Hukumanmu akan bapak tambah dua kali lipat. Kali ini kalian berdua harus berdiri di bawah tiang bendera dengan posisi hormat dan kepala menghadap ke arah sang saka merah putih. Hukuman ini akan berlangsung sampai jam pelajaran keempat selesai,” tegas Pak Zaid.

Kali ini bukan hanya aku yang menerima hukuman, anak laki-laki yang menolongku tadi juga dapat hukuman sama sepertiku. Bedanya adalah, dia diizinkan memakai topi untuk menghindari panasnya matahari, sementara aku tidak.

Sudah dua jam kami berdua berdiri, kakiku sampai keram karena terlalu lama berdiri, ditambah lagi panasnya matahari menyentuh kepalaku. Lama-lama kepalaku pusing dan tidak kuat menahan panasnya sinar mentari. Penglihatanku tiba-tiba saja kabur dan kepalaku terasa pening sekali. Semua yang aku lihat seperti terbelah menjadi dua bagian.

Perlahan tapi pasti, tubuhku mulai oleng. Sepertinya aku mau pingsan. Untungnya sebelum aku terjatuh ke tanah, anak laki-laki itu memegang pundak kiriku dengan tangan kanannya.

BACA JUGA :   Curhatan Hati Perempuan : Dilema antara Dua Pilihan

“Kau baik-baik saja. Apa sebaiknya kita ke UKS saja?” ujar anak laki-laki itu yang sepertinya mengkhawatirkan diriku.

“Tidak, tidak usah. Aku masih kuat, kok,” aku tidak mau terlihat lemah di hadapannya, makanya aku pura-pura sok kuat. Padahal yang sebenarnya aku sudah tak tahan lagi menjalankan hukuman ini. Aku berharap waktu cepat berlalu dan aku bisa segera pulang.

“Kamu yakin? Lihatlah, matamu sangat pucat. Kita UKS saja, yuk!” anak laki-laki itu tetap bersikeras ingin mengantarku ke UKS.

“Aku kan sudah bilang aku baik-baik saja. Sudah sana, urus saja urusanmu sendiri. Tak usah pedulikan aku,” sangking kesalnya, aku sampai mendorong anak laki-laki itu hingga terjatuh.

Dia tidak marah atau pun kesal karena sudah aku dorong. Namun, ia malah memakaikan topinya kepadaku.

“Ya baiklah, terserah kamu. Tapi setidaknya, pakai topi ini.”

“Apa-apain sih kamu. Nih, ambil lagi. Aku nggak mau dapat belas kasihan dari orang yang tidak aku kenal,” aku melepaskan topi itu dan melemparkannya ke mukanya.

Aku sudah berlaku kasar kepadanya, tapi ia masih tetap saja bersikap sok peduli kepadaku. Ia berlari mengambil topi yang sudah aku buang dan kembali memakaikannya ke kepalaku.

“Jangan keras kepala jadi orang. Pakai saja ini untuk melindungi kepalamu.”
“Kamu tuh ya..”

Aku tidak sadar kalau kami berdua sedang diperhatikan oleh semua murid. Bahkan mereka semua meledeki kami.

“Cie cie cie, ada sepasang kekasih lagi berantem, nih ye,” kata salah seorang murid.

“Kamu nggak mau kan jadi bahan tontonan? Kalau begitu pakai topi ini dan diamlah,” bisik si anak laki-laki itu ke telingaku.

Akhirnya aku pun mengalah. Sebenarnya aku tidak suka menerima bantuan darinya, tapi daripada aku jadi bahan tontonan, terpaksa aku menerimanya.

BACA JUGA :   Kasih Sayang Seorang Ayah

“Nah, begitu jadi anak yang baik,” puji anak laki-laki itu kepadaku pelan.

“Sudah, diam kau. Aku tidak mau bicara denganmu lagi,” jawabku kesal.

Kalau dipikir-pikir lagi, anak laki-laki ini baik juga. Meskipun aku tak mengenalnya, dia bersedia membantuku. Bahkan, saat ada seorang murid melemparkan botol minuman ke arahku, dia langsung menangkisnya dan membentak murid tersebut.

“Awas!” Dia memperingatkanku bahwa ada botol yang terbang ke arahku. Aku pun langsung menghindarinya. Sedangkan si anak laki-laki itu menangkis botol tersebut dengan tangannya.

“Hei, berani sekali kamu melukai perempuan!” bentak anak laki-laki itu kepada murid yang sengaja melemparkan botol ke arahku.

Karena takut mendengar makian dari anak laki-laki itu, murid yang melempar botol tadi lari terbirit-birit.

“Kamu tidak apa-apa? Tidak ada yang luka kan?” tanya anak laki-laki itu.

“Tidak, aku tidak apa-apa,” jawabku santai.

“Berani sekali dia melemparkan ini ke arahmu,” kata anak laki-laki itu marah.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Kita lanjutkan hukumannya saja. Kalau Pak Zaid sampai tahu kita duduk, dia akan menambah hukumannya tiga kali lipat.”

“Tapi, benerkan kamu nggak apa apa?”

“Iya, berapa kali aku harus bilang, aku baik-baik saja. Lihat, tidak ada yang luka di tangan dan kakiku. Sudah sana, menjauhlah dariku.”

Akhirnya penantian yang kutunggu tiba juga. Bel berdering tiga kali, ini menunjukkan bahwa jam pelajaran keempat telah berakhir. Aku pun bisa bernafas dengan lega. Pak Zaid menghampiri kami dan mengatakan bahwa kami sudah boleh pulang.

“Kalian berdua boleh pulang sekarang,” ujar Pak Zaid.

“Terima kasih, Pak!” kataku sambil melangkahkan kakiku pergi menuju kelas untuk mengambil tasku. Tapi, tiba-tiba Pak Zaid menghentikan langkahku.

“Indri, tunggu!” panggilnya.

“Iya, ada apa, Pak.”

“Sebelum kau pergi, bapak mau minta maaf kepadamu karena tadi sudah bersikap kasar dan mencelamu. Tidak seharusnya bapak sebagai seorang guru mencela muridnya seperti itu. Bapak salah, bapak minta maaf ya,” pernyataan penyesalan dari Pak Zaid.

BACA JUGA :   Kucingku Malang, Kucingku Diburu Orang

Mendengar ucapan permohonan maaf dari Pak Zaid membuat aku shock. Tidak biasanya beliau mau minta maaf, yang aku tahu mengenai Pak Zaid adalah kalau orangnya itu tidak suka mengakui kesalahan. Tapi, kenapa mendadak beliau mau mengakui kesalahannya ya. Heran aku dengan guru yang satu ini.

“Iya pak, saya juga minta maaf ya, kalau sudah bersikap tidak sopan kepada bapak. Saya janji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.”

“Tidak usah minta maaf, Indri. Kamu sebenarnya tidak salah. Bapak yang salah. Saya sudah mencelamu hanya karena masalah sepele. Sekali lagi, saya minta maaf ya?”

“Masalah sepele, maksud bapak masalah apa?”

“Bukan apa-apa. Sudah sana, ambil tasmu, ayahmu sudah menjemputmu di gerbang.”

“Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang pak. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Aku masih penasaran, sebenarnya masalah sepele apa yang membuat Pak Zaid sampai membenciku?. Tapi, ya sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Lagian masalahnya juga udah kelar. Aku bingung sama anak laki-laki itu, padahal hukumannya udah selesai. Tapi, dia masih tak beranjak dari lapangan basket.

“Hei, kamu tidak pulang?” tanyaku ketus kepada anak laki-laki itu.

“Tidak, Indri. Dia masih ada urusan sama bapak,” sela Pak Zaid.

“Oh, maaf saya tidak tahu, Pak. Kalau begitu saya pamit pulang duluan ya. Sampai jumpa Pak Zaid.”
“Sampai jumpa, Indri.”

Ketika langkahku sudah jauh dari mereka berdua, aku pun berhenti sejenak dan kemudian membalikkan badan untuk menengok anak laki-laki itu dan Pak Zaid. Jika aku perhatikan lebih detail, wajah anak laki-laki itu sangat mirip dengan Pak Zaid.

Cara dia berjalan dan berbicara pun juga mirip. Apa mungkin anak laki-laki itu anaknya Pak Zaid. Mereka berdua kalau berbicara juga sangat akrab sekali, seperti ayah dan anak. Hhhm, aku jadi penasaran.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/rakyat-pria-menangis-sedih-pohon-2562694/

Baca juga :

Cerita Cintaku : Kenapa Pak Guru Marah

indriani (123)

Bagikan Yok!