November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Curhatan Muslimah : Terima Kasih Semuanya

Curhatan Muslimah : Terima Kasih Semuanya

Tulisan ini kupersembahkan untuk semua orang yang telah membantu diriku menemukan jalan kehidupan yang benar. Dulu sebelum hijrah, aku adalah tipe anak perempuan yang sangat egois, tak mudah bergaul, keras kepala, dan kurang bisa berkomunikasi dengan siapapun.

Pada waktu itu, aku benar-benar menutup diri dari lingkungan sekitar. Saat masih duduk di bangku sekolah saja, aku selalu menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan dan jarang sekali bermain dengan teman-teman. Pada intinya, aku waktu itu adalah tipe orang yang tertutup sekali.

Baru setelah lulus dari SMA, ada seorang teman sekolahku yang mengajakku untuk ikut acara kajian keislaman di sekitar tempat tinggalnya.

Awalnya aku tidak ingin menghadiri acara tersebut, namun karena tidak ada kegiatan apa-apa di rumah, kuputuskan untuk ikut acara kajian itu. Waktu menghadiri acara tersebut, aku heran dengan penampilan jamaahnya yang memakai pakaian gamis dengan kerudung lebar sampai paha. Bahkan, ada yang memakai penutup wajah.

Aku sangat asing dengan suasana di tempat itu dan merasa sungkan untuk masuk ke dalam masjid dikarenakan memakai celana. Aku bertanya kepada temanku apakah tidak apa-apa memakai celana?.

Kemudian ia bilang tidak apa-apa asalkan sopan. Akhirnya aku memasuki masjid dan duduk di bagian depan sendiri. Aku sangat malu,benar-benar malu. Kenapa temanku memilih tempat yang paling depan?. Saat aku bilang kepada temanku untuk duduk di belakang saja, ia malah menolak dengan alasan duduk di depan jauh lebih utama daripada duduk di belakang. Dengan terpaksa, aku duduk di depan dengan kepala tertunduk.
Saat acaranya dimulai, aku memperhatikan temanku yang serius menyimak materi yang diberikan dan mencatatnya di buku.

BACA JUGA :   Realisasi Tauhid Dalam Kehidupan

Aku pun juga mulai ikut mencatat materinya. Walaupun, aku tidak tahu apa yang harus aku tulis?. Setelah kajian selesai, temanku langsung memperkenalkanku pada teman-teman kajiannya.

Yang awalnya aku kira mereka tidak bersahabat, ternyata mereka sangat baik dan ramah. Mereka juga tidak bertanya tentang pakaian yang kukenakan waktu itu. Aku sangat senang bisa diterima oleh mereka dan bisa punya teman baru.

Setiap hari Minggu, pasti temanku itu selalu mengajakku untuk ikut kajian di masjid yang berbeda-beda, Aku pun jadinya sering menghabiskan hari Minggu di masjid bersama dengannya.

Walaupaun pertama kali aku merasa tidak nyaman mengikutinya, akhirnya aku jadi ketagihan dan pingin ikut kajian lagi. Aku mencoba memberanikan diri mengkuti kajian di tempat lain tanpa dampingan temanku tadi.

Aku mencoba mencari info kajian yang dekat dengan rumahku. Ternyata, ada kajian di Masjid Al’araf setiap hari Senin.

Aku pun menghadiri kajian di Masjid Al’araf dengan mengenakan pakaian gamis dan kerudung agak panjang sampai pinggang.

Hal ini aku lakukan karena aku kepikiran nasehat temanku. Ia mengatakan bahwa kalau aku memakai celana lekuk tubuhku akan terlihat.

Saat memasuki pelataran masjid, aku mendengar seseorang membaca tilawah Al-Quran. Aku memberanikan diri bertanya pada seorang ibu di pelataran masjid mengenai kajiannya apakah tidak jadi dilaksanakan?.

Ibu itu bilang bahwa kajiannya belum dimulai dan masih pelajaran tahsin Al-Quran. Aku serba bingung dan malu karena datang terlalu awal. Akhirnya ibu tadi mengajakku untuk ikut belajar tahsin bersama.

Pertama kali mengikuti kelas tahsin itu, aku tidak mengerti apapun yang disampaikan oleh ustadzahnya, ditambah lagi ia sedikit memakai bahasa arab. Waktu di suruh membaca Al-quran, aku gugup dan sampai berkeringat.

BACA JUGA :   Renungkanlah Nasihat Dari Orang-Orang Bijak Ini

Aku benar-benar takut dimarahi apabila salah dalam membacanya. Setelah selesai membaca, ustadzahnya hanya tersenyum dan bertanya siapa namaku?. Kupikir dia akan marah karena bacaanku yang salah, ternyata dia hanya memberi nasehat kepadaku untuk terus ikut pelajaran tahsin ini dan selalu istiqomah mempelajari Al-Quran.

Mendengar nasehatnya itu membuatku sadar, bahwa selama ini aku sudah jauh dari Tuhan yang telah menciptakan diriku ini.

Selama tiga tahun mengikuti kajian di Masjid Al’araf, aku jadi belajar banyak hal tentang Islam, Allah, Rasululullah, Al-Quran, dan disana juga aku bertemu teman-teman baru yang selalu mengingatkan diriku jika aku berbuat kesalahan. Disana aku juga belajar bagaimana bersosialisasi dan berkomunikasi yang baik sesuai syariat islam.

Selama ini aku tidak bisa mengendalikan ucapanku, aku selalu berucap tanpa pikir panjang, sehingga banyak orang yang telah kusakiti hatinya karena ucapanku itu.

Untungnya disana banyak orang-orang yang selalu setia mengajari dan menasehatiku tentang akhlakul karimah seorang muslim.

Semenjak aku bertemu dengan orang-orang yang selalu mengikatkan hatinya di masjid dan menjalin kedekatan dengan mereka, aku mengalami perubahan 180 derajat.

Yang awalnya egois, sekarang sedikit demi sedikit aku mencoba mulai bisa berbagi kepada sesama. Yang awalnya susah bergaul dengan orang, sekarang aku mulai membuka diri pada lingkungan sekitar. Yang awalnya susah diajak komunikasi, sekarang mulai lancar berkomunikasi dengan orang-orang baru.

Intinya, sifatku hampir berubah keseluruhan dan tidak lagi seperti dulu. Terimakasih teman-teman hijrahku, ustadzah, dan ustadz yang telah memberikan pengetahuan kepadaku tentang arti kehidupan yang sebenarnya.

Tiada lelah dan jenuh kalian semua selalu mengarahkan diriku pada jalan kehidupan yang Allah Subhanallahu wa ta’ala ridhoi. Sekali lagi, terimakasih semuanya!.

BACA JUGA :   Waspada! Ini 10 Masalah yang Mungkin Muncul Menjelang Pernikahan

Pernah ada seorang ustadz yang memberikan nasehat ini kepadaku, ia mengatakan bahwa jika seseorang ingin terbiasa melakukan kebaikan dan memilki sifat yang baik, maka dekatilah orang-orang baik. Dengan begitu, kita akan ikut menjadi orang baik seperti dia. Hal ini senada dengan Hadist Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang mengingatkan kita pentingnya memiliki teman yang shalih atau shalihah.

Teman tersebut dalam hadist diumpamakan seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, Berikut ini bunyi hadist-nya;

“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/photos/melangkah-pindah-mulailah-bergerak-3725148/

Baca juga :

Cerita Cintaku : Hukuman Bagi Sang Pelaku Cinta Monyet 2

indriani (123)

Bagikan Yok!