November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Teks Dialog : Si Monyet yang Suka Boros

Teks Dialog : Si Monyet yang Suka Boros

Teks Dialog : Si Monyet yang Suka Boros

Monyet dan kedua temannya, yaitu kelinci dan tupai sedang jalan-jalan santai bersama. Namun, tiba-tiba ketiganya dikejutkan dengan adanya bazar di tepi sungai.

Karena mendengar banyak pedagang yang menjajakan barangnya dengan harga murah, monyet langsung lari menuju bazar itu.

Monyet : Lihat kawan-kawan, ada bazar yang adakan diskon besar-besaran. Yuk, kita ke sana!

Kelinci : Iya, ayo tupai. Monyet, tunggu kami!

Tupai : Sudahlah, biarkan dia duluan kelinci.

Monyet : Oh ya ampun, ayo tupai, ayo kelinci. Kenapa kalian masih diam saja di sana. Ayo, keburu barang-barangnya habis.

Kelinci dan Tupai pun berlari mengejar monyet yang sudah duluan masuk ke dalam kerumunan bazar. Pertama kali masuk ke sana, monyet langsung menghampiri stand yang menjual buah-buahan.

Monyet : Wah, pisangnya banyak sekali. Aku borong semuanya deh.

Tupai : Jangan monyet, belilah secukupnya saja.

Kelinci : Iya monyet, jangan boros-boros. Nanti kalau kamu butuh uang gimana?

Monyet : kalian berdua tak usah khawatir, aku bisa cari uang lagi. Untuk apa menyimpan uang terlalu lama? Sayang kan kalau enggak digunakan sama sekali.

Kelinci : Iya aku tahu, tapi pergunakanlah dengan bijak, monyet.

Tupai : Iya nih, kamu pikir uang akan selalu datang menghampirimu. Tidak monyet, adakalanya nanti uang akan menjauhi kita. Nah, pada saat itulah uang simpanan berguna.

Monyet : Kalian berdua jangan menceramahiku. Ini kan uang-uangku, terserah mau aku apakan, kenapa jadi kalian yang ribet, sih?

Tupai : Ya udah, terserah kamu. Pokoknya kami sudah mengingatkan dirimu.

Kelinci : Iya, terserah kamu monyet. Ayo tupai, kita ke stand bazar yang lain. Kita tinggalkan saja dia.

Monyet : Ya, pergi sana. Aku tidak butuh kalian lagi. Kalian pikir temanku Cuma kalian aja. Temanku itu banyak. Jadi, kalau aku kesusahan nanti, aku tidak perlu risau. Mereka semua pasti mau membantuku.

BACA JUGA :   Sastra:Di Puncak Gunung

Tupai : ya kalau mereka mau membantumu, kalau tidak bagaimana? Apa yang akan kamu perbuat?

Monyet : Aku yakin mereka akan membantuku, karena mereka sering aku bantu waktu masa sulitnya.

Kelinci : Sudahlah tupai, kita tinggalkan saja dia. Biarkan dia melakukan apa yang ia sukai. Nanti, kalau ada apa-apa, pasti dia akan datang kepada kita.

Monyet : Ya, pergi sana. Aku tidak membutuhkan kalian lagi. Aku tidak mau mengganggap kalian berdua sebagai temanku lagi. Pergi sana!
Kelinci dan Tupai pun meninggalkan monyet seorang diri di bazar.

Pedagang : Apa yang dikatakan teman-temanmu tadi benar. Kenapa kau malah bersikap kasar kepada mereka?

Monyet : Bapak ini kenapa sih ikut campur. Seharusnya bapak senang karena dagangan bapak saya borong semuanya.

Pedagang : Ya sudah, kamu mau beli apa?

Monyet : Semua pisang yang ada di stand bapak ini saya borong semuanya. Cepat bungkus semuanya, Pak!

Pedagang : baiklah, tunggu sebentar.

Sekian menit menunggu, akhirnya semua pisangnya selesai dibungkus oleh pedagang.

Pedagang : Ini pisangnya, total semuanya adalah satu juta rupiah.

Monyet : Oke, ini uangnya, Pak. Terima kasih ya.

Pedagang : Sama-sama.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ada gerobak pengangkut jerami yang melaju begitu cepatnya dan tak sengaja menabrak monyet yang tengah berjalan sendirian.

Akibatnya, semua pisang milik monyet jatuh ke dalam lumpur. Tapi ia tidak bersedih, ia akan membelinya lagi dengan meminjam uang dari Pak Burung Hantu.

Monyet : Pak burung hantu, ada di rumah tidak?

Burung hantu : Buka saja monyet, pintunya tidak dikunci.
Monyet pun masuk ke dalam rumah Pak Burung Hantu dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

Burung Hantu : Apa yang telah menimpamu monyet, sehingga kamu terlihat sedih seperti itu?

BACA JUGA :   Spoiler Kasih Abadi BAB 8

Monyet : Begini, tadi aku habis beli pisang untuk persediaanku selama sebulan di bazar. Tapi, tiba-tiba ada gerobak yang menabrakku dan membuat semua pisang yang aku beli tadi jatuh ke dalam lumpur. Aku kesini berniat mau meminjam uang dari Bapak untuk membeli pisang lagi.

Burung Hantu : Bukannya aku tidak mau membantumu monyet, tapi aku juga sedang butuh untuk keperluan keluargaku. Jadi, maafkan aku, aku tidak bisa membantumu.

Monyet : Baiklah, tidak apa-apa. Ya sudah, saya pamit pak burung hantu

Burung Hantu : Iya monyet, hati-hati di jalan.

Sekian rumah sudah didatangi oleh monyet, tapi tak satu pun dari semua temannya itu mau membantunya.

Kini, ia bingung harus mencari uang di mana. Kalau dia tidak membeli pisang secepat mungkin, maka ia akan melewati musim dingin dalam keadaan kekurangan makanan.

Satu-satunya harapan dia sekarang hanyalah kelinci dan tupai. Dia berharap semoga kedua temannya itu mau membantu dirinya yang sedang kesusahan ini.

Kelinci : Lihatlah tupai, monyet datang kemari.

Tupai : Memangnya kenapa kelinci, biarkan saja dia kemari.

Monyet : Teman-teman, aku mau minta maaf sama kalian atas sikap kasarku tadi. Maukah kalian memaafkanku?

Kelinci : Tentu saja kami maafkan kamu monyet, kamu kan sahabat kami.

Tupai : Iya monyet, pertengkaran dalam persahabatan itu hal yang biasa. Lupakan saja yang sudah berlalu, enggak usah diungkit-ungkit lagi.

Monyet : Terima kasih teman-teman. Kalian memang sahabat terbaikku.

Tupai : Oh ya monyet, di mana semua pisang yang kamu beli tadi?

Monyet : Tupai, semua pisangku jatuh ke lumpur. Aku tidak punya lagi persediaan makanan selama sebulan. Semua uangku sudah habis. Tadi aku mencoba pinjam ke semua temanku, tapi tak ada satu pun yang mau membantuku.

BACA JUGA :   Puisi: Penguasa Makin Berkuasa

Tupai : Pakai saja uangku ini, Monyet. Aku sedang tidak terlalu butuh.

Monyet : Ya ampun tupai, terima kasih banyak.

Tupai : Iya, tapi kamu jangan boros dalam menggunakannya.

Monyet : Iya tupai, aku janji tidak akan boros lagi.

Dari kejadian yang menimpanya itu, monyet jadi mendapatkan pelajaran berharga. Ia tidak lagi menjadi monyet yang suka boros. Sekarang, dia menjadi lebih bijak dalam menggunakan hartanya.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/monyet-satwa-margasatwa-mamalia-2500919/

Baca juga :

Cerita Cintaku : Kenapa Pak Guru Marah

indriani (123)

Bagikan Yok!