November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Kenapa Pak Guru Marah

Cerita Cintaku : Kenapa Pak Guru Marah

Bab 16 : Kenapa Engkau Marah Pak Guru?

Pagi-pagi aku sudah tiba di sekolah, suasananya masih sepi dan belum banyak murid yang datang. Dari pada di kelas sendirian, sebaiknya aku menunggu Rida dan Sofi di depan gerbang.

Aku menunggu mereka lama sekali, mungkin hampir satu jam lebih. Padahal jam sudah menunjukkan Pukul 06.30, tapi batang hidung keduanya tak muncul-muncul juga. Kakiku sampai keram karena berdiri terlalu lama.

Aku pun sedikit memutar-mutar kakiku supaya rasa keramnya sedikit berkurang. Satu per satu para siswa dan guru mulai memadati area sekolah, tapi kedua temanku itu belum datang juga.

Beberapa menit kemudian, muncul seorang anak laki-laki aneh yang menyapaku. Aku tidak tahu dia siapa, tapi rasa-rasanya dia tak asing bagiku.

“Hai, sedang apa kau sendirian?” Sapa si anak laki-laki itu

Aku heran, kenapa sikapnya sok akrab begitu kepadaku, padahal aku baru bertemu dengannya pertama kali, tapi, lagaknya kayak udah kenal lama.

“Kenapa kau melihatku seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan wajahku?” tanya si anak laki-laki itu yang terheran-heran kenapa aku memandangi dirinya dengan ekspresi wajah cemberut.

“Siapa kau? Sok akrab banget sih jadi orang. Aku belum pernah melihatmu,” jawabku ketus.

“Aku sedih kamu telah melupakan aku. Ini aku, orang yang menabrakmu waktu itu di dekat kolam ikan dan yang sudah mengembalikan mukenamu yang hilang. Masak, baru beberapa hari kita bertemu kamu sudah melupakan aku. Coba ingat-ingat lagi!”

Apa benar yang dikatakan oleh anak laki-laki itu bahwa kami berdua pernah bertemu. Aku pun mencoba mengingat kembali. Setelah sekian detik aku berpikir, akhirnya aku ingat. Makanya wajahnya tidak asing bagiku, ternyata dia adalah orang yang sudah mengembalikan mukenaku yang hilang.

“Oh kamu yang di masjid itu ya. Maaf, aku ini memang pelupa. Aku sangat susah untuk mengingat wajah seseorang jika baru sekali bertemu. Kalau kita sudah berkali-kali bertemu, baru aku akan ingat,” jawabku cuek.

“Tega sekali kamu melupakan diriku ini. Oh ya, aku mau mengatakan sesuatu kepadamu?”

“Apa yang ingin kau katakan kepadaku? Cepat, bicaralah!”

“Aku sebenarnya ingin memberitahumu bahwa aku….”

Di tengah pembicaraan kami, tiba-tiba Rida dan Sofi muncul dari dalam gerbang. Aku menunggu mereka berdua lama sekali, tahu-tahunya mereka sudah tiba di sekolah lebih dulu. Yah, sia-sia dong aku menunggu di depan gerbang kayak orang hilang, apalagi banyak orang yang melihatiku. Kedua temanku ini benar-benar membuatku kesal.

BACA JUGA :   Nikmat-Nya

Di chat whatsapp katanya masih di rumah, tapi ternyata sudah ada di sekolah. Ini pasti kerjaannya si Rida, dia suka sekali menjahili diriku.

“Indri, sedang apa kau di sini. Kamu dipanggil sama Bu Ani,” Seru Rida.

“Iya, dari tadi kami mencarimu ke mana-mana. Oh ya, siapa anak laki-laki ini? Aku baru pertama kali melihatnya di sekolah ini,” ujar Sofi.

“Oh dia orang yang sudah menemukan mukenaku yang hilang waktu itu. Hhhm, maaf ya, lain kali saja kita lanjut ngobrolnya. Aku harus segera pergi. Sampai jumpa,” karena Bu Ani mencariku, terpaksa aku harus menyudahi obrolanku dengan anak laki-laki itu. Dia kelihatannya sedikit kecewa sih, aku pergi. Tapi tidak apalah, pasti dia mengerti.

“Iya tidak apa-apa. Lain kali saja kita bicara. Sampai jumpa,” syukurlah dia tidak marah dan mengizinkanku pergi.

Aku bingung, kenapa mendadak Bu Ani mencariku ya? Ada masalah apa sehingga beliau memanggilku. Firasatku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan, tapi aku tak ambil pusing semua itu, aku akan tetap menemui Bu Ani di ruang guru.

“Kalian berdua pergi ke kelas duluan ya. Nanti aku menyusul. Oh ya Sofi, nitip buku absennya ya. Mungkin aku akan lama di sana,” Aku menyuruh Rida dan Sofi untuk pergi ke kelas duluan.

“Mana buku absennya ? Biar nanti sekalian aku absen anak-anak. Kamu, urus saja masalahmu dengan Bu Ani. Jangan khawatirkan masalah di kelas, biar aku dan Rida mengawasi anak-anak bandel itu,” kata Sofi sambil merangkul pundak Rida.

“Kenapa harus aku? Kamu aja kali, Sof. Kamu kan wakil ketua kelas, sementara aku hanya murid biasa. Enggak ah, aku tidak mau mengurusi urusan kelas,” tolak Rida.

“Ya sudah, biar Sofi aja melakukannya. Sofi memang sahabat terbaikku,” aku sedikit menyindir Rida dengan memuji Sofi di depannya.

“Kok, Cuma Sofi yang kamu anggap sahabat, lalu aku bagaimana? Apakah aku bukan sahabat terbaikmu juga, Indri?” Rida mulai cemburu.

BACA JUGA :   Buah dan Sayur

“Kamu juga sahabatku Rida, tapi Sofi adalah sahabat terbaikku karena ia bersedia membantuku.”

“Iya iya, aku akan ikut membantu Sofi. Bagaimana sekarang, apa aku bukan sahabat terbaikmu?” Rida itu memang mudah untuk dipengaruhi, dalam beberapa detik saja langsung berubah pikiran hanya dengan di sindir sedikit saja. Benar-benar polos temanku yang satu ini.

“Nah, gitu dong, baru kamu bisa menjadi sahabat terbaikku. Terima kasih ya Rida dan Sofi. Sudah ya, aku masuk dulu, keburu nanti Bu Ani marah-marah sama aku,” Tatapan tajam Bu Ani mengarah kepadaku, artinya, aku disuruh cepat-cepat masuk ke dalam ruang guru. Sebelum pergi, aku sempatkan untuk memeluk kedua sahabatku.

Melihat ekspresi wajah Bu Ani yang mengerut kayak kertas kusut, membuatku ketakutan setengah mati. Kakiku sampai gemetar saat berjalan ke arahnya, dan telapak tanganku basah karena terlalu banyak mengeluarkan keringat. Lidahku juga kelu untuk mulai berbicara. Aku takut kalau sampai salah bicara dan membuatnya marah hingga mengeluarkan si jago merah dari mulut pedasnya itu.

“Indri, kemarilah!” Bu Ani menyuruhku untuk berdiri di samping kursinya.

“Iya Bu Ani, ada apa ya ibu memanggil saya? Apa saya membuat kesalahan?” tanyaku terbata-bata.

“Iya, Pak Zaid bilang kepada Ibu bahwa kau tidak pernah fokus menyimak pelajaran di kelas. Apa benar yang dikatakan Pak Zaid, Indri?”

“Tidak Bu, saya selalu mengikuti pelajaran beliau dengan baik,” Jawabku.

“Kalau kamu memang mengikuti kelasnya dengan baik, lalu kenapa beliau sampai mengeluh kepada Ibu? Awalnya ibu tak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Zaid tentangmu. Selama dua tahun ibu menjadi wali kelasmu, ibu tahu bahwa kamu itu anak yang pandai, rajin, sopan, selalu menaati peraturan. Tapi, kenapa Pak Zaid menilai buruk dirimu ya, Indri? Apa kamu pernah membuatnya marah atau kesal?”

“Tidak pernah, Bu. Malahan saya tidak begitu akrab dengan beliau. Saya juga jarang bicara dengan Pak Zaid. Kebanyakan saya bicara dengan beliau hanya saat jam pelajarannya saja, itu pun yang saya tanyakan hanya seputar pelajaran yang tidak saya mengerti.”

“Ibu percaya denganmu, Indri. Ibu tahu kamu bukanlah anak yang suka berkata bohong. Lalu, apa mungkin Pak Zaid yang berbohong. Sudahlah, kamu masuk saja ke dalam kelas. Biar nanti masalah ini ibu yang mengurus.”

BACA JUGA :   Cerita Cintaku : Balas Dendam Pembawa Petaka

“Baik, Bu.”

Aku sangat terkejut bahwa Pak Zaid mengeluh kepada Bu Ani soal diriku. Padahal selama di dalam kelas, aku selalu mengikuti pelajarannya dengan baik.

Aku juga selalu mengumpulkan tugas dan pekerjaan rumah tepat waktu. Aku jadi bingung, apa kesalahanku kepadanya. Aku terus memikirkannya sampai aku tak sadar menabrak Pak Zaid yang tengah berdiri di depan pintu kelasku.

“Kamu itu kalau jalan pakai mata. Punya mata enggak sih kamu?” bentak Pak Zaid.

“Punya, Pak.”

“Kamu itu memang anak yang payah. Jalan saja nggak becus. Ngomong-ngomong dari mana saja kamu? Dari tadi jam pertama sudah mulai dan kamu baru masuk sekarang.”

“Maaf Pak Zaid, tadi saya dipanggil oleh Bu Ani ke ruang guru.”

“Oh, baguslah. Berarti Ani sudah memarahimu.”

“Bu Ani tidak memarahi saya, Pak. Kenapa saya harus dimarahi untuk kesalahan yang tidak saya perbuat? Saya tidak pernah menghina atau melecehkan bapak, tapi kenapa bapak mengeluh tentang saya kepada Bu Ani. Kesalahan apa yang sudah saya lakukan kepada bapak?”

“Kau tidak salah apa-apa. Saya hanya tidak suka saja kepadamu.”

“ Apa, hanya karena tidak suka pada seorang murid, bapak ingin memberikan hukuman. Guru macam apa bapak ini? Aku tidak mengerti kenapa orang seperti bapak bisa menjadi guru?” sangking kesalnya, aku sampai berani membentak Pak Zaid dengan nada tinggi.

“Berani sekali kamu bicara dengan nada tinggi pada seorang guru. Ikut saya, cepat!” Pak Zaid menarik tanganku dan menyeretku ke tengah lapangan basket.

“Sekarang, kamu berdiri di sini sampai jam pertama selesai. Kalau sampai saya lihat kamu melangkahkan kaki sedikit saja dari lapangan ini, saya akan memberikan hukuman yang berat kepadamu.”

Sebagai seorang murid yang baik, aku mengakui kesalahanku dan menerima hukuman yang diberikan oleh Pak Zaid. Namun, saat aku mau menjalankan hukuman itu, tiba-tiba ada anak laki-laki aneh menarik tanganku dan membawaku lari ke luar lapangan.

Pak Zaid terus mengejar kami, tapi akhirnya kami berhasil lolos darinya dengan bersembunyi di gudang sekolah.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/marah-pria-hoodie-tua-jenggot-2766265/

Baca bab sebelumnya :

Cerita Cintaku : Hukuman Bagi Sang Pelaku Cinta Monyet 2

indriani (123)

Bagikan Yok!