November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Si Pengganggu Datang Lagi

Bab 15 : Si Pengganggu Datang Lagi

Aku masih sangat marah kepada ayahku yang menghina Indri dengan menyebutnya si anak payah. Bahkan sudah dua Minggu aku tidak berbicara dengannya. Aku sengaja mendiamkannya supaya ayah menyesal akan perbuatannya itu dan kemudian mau minta maaf kepada Indri. Tapi, ayahku hanya diam dan bersikap biasa saja, seperti tidak punya merasa bersalah. Pagi itu, ketika kami sekeluarga sarapan pagi bersama, ayahku menatapku dengan sinis.

Aku tak menghiraukan kehadirannya itu dan langsung pergi ke sekolah tanpa menghabiskan sisa sarapanku.

“Ibu, kakak, aku berangkat ke sekolah ya?” aku bangun dari tempat dudukku dan menyalami ibu serta kakakku.

“Kenapa sarapanmu belum dihabiskan Rori? Ini masih sisa banyak. Habiskan dulu, nggak baik buang-buang makanan,” sahut ibuku.

“Biarkan saja kalau dia tidak mau memakannya. Lagian dia belum tahu bagaimana susahnya mencari uang,” Sindir ayahku sembari menyantap sarapan paginya.

“Aku sudah kenyang, Bu. Aku tidak bisa makan lagi. Ibu bisa taruh sisa makananku di kulkas, nanti setelah pulang sekolah aku akan memakannya. Ya udah aku berangkat dulu,” aku melangkah pergi tanpa menyalami ayahku.

“Rori, kok kamu main pergi gitu aja, nggak pamit sama ayah?” ujar ibuku.

Aku langsung pergi begitu saja dan tak menghiraukan perkataan ibuku. Tekadku sudah bulat, aku tidak akan berbicara dengan ayahku sebelum ia mau minta maaf kepada Indri.

Jika ia belum mau minta maaf, sampai kapan pun aku akan tetap mendiamkannya. Aku melakukan semua ini bukan karena aku benci sama dia. Aku hanya ingin ayah menyadari kesalahannya yang sudah menyebut Indri anak payah.

Tapi, sepertinya sikap arogan di dalam dirinya menghentikannya untuk minta maaf. Aku tidak bisa mengendalikan hatinya. Namun, aku selalu berdoa kepada sang Maha Kuasa agar ia mau membukakan pintu hatinya yang keras bagaikan besi agar mau minta maaf.

BACA JUGA :   Merawat Mendidik Anak

Satu-satunya harapanku hanya engkau Ya Rabb, tunjukkanlah jalan kebenaran kepada ayahku. Beritahu kepadanya bahwa perbuatannya itu salah sebagai seorang guru.

Ketika aku sampai di sekolah, tiba-tiba kesedihan dalam diriku sirna seketika saat aku melihatnya berdiri di depan gerbang seorang diri.

Perasaanku mulai campur aduk tidak karuan jika sudah melihatnya. Aku pun bertanya kepada diriku, mungkinkah ini waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Aku bingung, benar-benar bingung.

“Dia sedang sendirian di sana, apakah sebaiknya aku ungkapkan perasaanku padanya sekarang. Ya, sebaiknya aku katakan saja sekarang. Ayo Rori, melangkah maju dengan perasaan penuh percaya diri. Kamu adalah pria sejati, kamu harus berani melakukannya. Ayo, let’s go,” gumamku pada diri sendiri yang mencoba menumbuhkan rasa percaya diri.

Aku pun memberanikan diri untuk menyapanya terlebih dahulu.

“Hai, sedang apa kau sendirian?” tanyaku.
Ia terdiam sambil menatap curiga kepadaku.

“Kenapa kau melihatku seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan wajahku?”

“Siapa kau? Sok akrab banget sih jadi orang. Aku belum pernah melihatmu,” aku sedih saat ia mengatakan tidak pernah bertemu denganku. Ternyata Indri sudah melupakan pertemuan kami di masjid sekolah waktu itu.

“Aku sedih kamu telah melupakan aku. Ini aku, orang yang menabrakmu waktu itu di dekat kolam ikan dan yang sudah mengembalikan mukenamu yang hilang. Masak, baru beberapa hari kita bertemu kamu sudah melupakan aku. Coba ingat-ingat lagi!”

“Oh kamu yang di masjid itu ya. Maaf, aku ini memang pelupa. Aku sangat susah untuk mengingat wajah seseorang jika baru sekali bertemu. Kalau kita sudah berkali-kali bertemu, baru aku akan ingat.”

“Tega sekali kamu melupakan diriku ini. Oh ya, aku mau mengatakan sesuatu kepadamu?”

BACA JUGA :   Bangga Menjadi Bagian Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia

“Apa yang ingin kau katakan kepadaku? Cepat, bicaralah!”

“Aku sebenarnya ingin memberitahumu bahwa aku….”

Saat aku mau mengucap kata penting itu, tiba-tiba kedua teman Indri datang menghampirinya.

“Indri, sedang apa kau di sini. Kamu dipanggil sama Bu Ani,” Sela si Rida temannya Indri.

“Iya, dari tadi kami mencarimu ke mana-mana. Oh ya, siapa anak laki-laki ini? Aku baru pertama kali melihatnya di sekolah ini,” ujar Sofi temannya Indri dan Rida.

“Oh dia orang yang sudah menemukan mukenaku yang hilang waktu itu. Hhhm, maaf ya, lain kali saja kita lanjut ngobrolnya. Aku harus segera pergi. Sampai jumpa,” ujar Indri sambil tersenyum kepadaku.

“Iya tidak apa-apa. Lain kali saja kita bicara. Sampai jumpa,” balasku.

Hilang lagi kesempatanku untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Kenapa setiap kali aku mau mengucapkan kata ‘aku menyukaimu’, pasti ada saja gangguan. Orang-orang yang mengganggu itu pasti itu-itu saja, kalau nggak Rida dan Sofi, pasti Dani temanku.

“Mereka berdua itu benar-benar menyebalkan. Aku benci mereka, sangat benci,” sangking kesalnya aku sampai menendang tong sampah yang ada di sampingku.

Tidak sengaja tong sampah yang aku tendang tadi mengenai wajah seseorang. Bukannya merasa bersalah, aku malah tertawa melihat kepala orang itu yang tertutup oleh tong sampah.

“Siapa sih yang tega melakukan ini kepadaku?” seru orang itu.

Suara orang itu seperti tidak asing bagiku dan rasa-rasanya aku pernah mendengarnya di suatu tempat.

Untuk menjawab rasa penasaranku, aku pun menghampiri orang itu dan membantu melepaskan tong sampah yang ada di kepalanya.

“Sekali lagi, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja,” kataku sembari melepaskan tong sampah dari kepala orang itu.
Dan saat tong sampah itu telah tersingkir dari kepalanya, maka terlihatlah wujud asli dari orang tersebut. Aku terkejut bukan main saat melihat wajahnya, ternyata itu adalah temanku Dani.

BACA JUGA :   Cerita Cintaku : Kenapa Pak Guru Marah

“Dani, ternyata kamu. Maafkan aku ya, aku tidak sengaja,” aku minta maaf kepada Dani sampai menyentuh kakinya.

“Apa-apaan sih Rori, sudah tidak apa. Ayo berdiri, jangan seperti itu. Aku malu. Kamu kenapa sih sampai kesal begitu? sampai-sampai tong sampah tidak bersalah kamu tendang. Aku juga lagi yang kena. Duh, nasib-nasib,” keluh Dani kepadaku.

“Aku kesal karena aku kehilangan kesempatan itu lagi, Dan.”

“Kesempatan? Oh, kamu mau menyatakan perasaanmu kepada Indri, tapi gagal lagi?”

“Iya, tadi hampir saja aku mau mengatakan ‘aku menyukaimu’. Eh, tiba-tiba temannya si Rida dan Sofi muncul. Jadi gagal, deh. Kenapa sih kalian bertiga itu selalu mengganggu saat kami tengah berduaan?”

“Kalian bertiga siapa maksudmu, Rori ? Aku nggak paham.”

“Ya ampun Dani, kamu tuh, polosnya kebangetan. Yang aku maksud itu Rida, Sofi dan kamu.”

“Kenapa aku? Kapan aku mengganggumu?”

“Waktu di lapangan basket itu apa. Padahal saat itu aku hampir berhasil, eh kamu datang dan menggagalkan semuanya.”

“Oh yang waktu itu. Ya maaf, aku kan nggak tahu, Rori. Aku janji deh sama kamu hal itu tak akan terjadi lagi.”

“Ah, sudahlah. Ayo kita masuk, nanti Pak Rahman marah, jika kita terlambat masuk.”

Aku dan Dani pun buru-buru masuk ke dalam kelas karena jam pertama akan segera dimulai.

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/photos/anak-laki-laki-telapak-tangan-anak-666803/

Baca juga Bab sebelumnya:

Cerita Cintaku : Hukuman Bagi Sang Pelaku Cinta Monyet 2

indriani (123)

Bagikan Yok!