November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sekali Saja

Hanya sekali…ya hanya sekali saja dalam kehidupan yang fana ini kita bisa merasakan sesuatu yang berbeda dan menghempaskan ego.

Sekali saja seperti nafas yang akan berhenti suatu saat. Mimpi pun akan menjadi suram ketika pelukan dunia membuat keinginan menjadi terpenjara. Lalu siapa lagi yang akan membelai perasaan gundah gulana.

Sekali saja, sekali dalam kehidupan dan sekali seperti mimpi maka dalam diam pun semuanya akan terjawab. Siapa yang akan bercerita tentang awan, tentang hujan, tentang panas, dan tentang embun di pagi hari.

Sekali saja untuk memberikan senyum pada mentari yang mungkin seringkali terlupakan. Saat pagi menawarkan banyak kesempatan dan ternyata hanya satu saja yang boleh dipilih, lalu panas mentari yang sebuah perubahan suasana yang lumrah terjadi.

Sekali saja…ya sekali saja untuk merasakan cinta yang kadang kala memberikan tragedi. Dunia terlupakan saat jiwa mengembara dalam fantasi yang tak berkesudahan, lalu kemana arah mata angin akan memberikan petunjuk.

Sekali saja mengertilah tentang apa yang harusnya tak perlu dicari tahu. Tanpa berusaha keras semua itu akan memberikan jawaban dengan, hanya saja sedikit sekali yang memiliki kesabaran untuk mau menerima semua apa adanya.

Sekali saja…ya sekali saja beranilah untuk menjadi dewasa. Masa keemasan akan menjadi cerita membanggakan namun tidak semua mampu untuk memberikan kisah tentang bagaimana bisa merebut kebanggaan itu. Dewasalah karena semua kisah punya akhir ceritanya sendiri, tanpa harus dipaksakan setiap hal akan berhenti suatu saat, suatu ketika.

Sekali saja cobalah untuk minta maaf pada hidup. Kadang yang tak terlihat punya sesuatu untuk memberikan kesedihan, tak semua terpilih untuk ada dipuncak namun setiap manusia punya kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Terlalu banyak kesalahan yang membuat hidup buruk, lalu kenapa memilih untuk memperburuk dengan kesalahan yang terus bertambah.

BACA JUGA :   BUKAN AKU

Sekali saja…ya sekali saja berbicaralah dengan suara ramah. Dalam intonasi suara yang kadang remeh memberikan kesan yang berbeda, tak banyak yang mau tahu tentang rengekan dan rintihan namun semua itu adalah sesuatu yang punya mata dalam setiap dosa yang terukir indah.

Sekali saja…lalu lupakan semua.

Ram Tadangjapi (8)

Seorang pria yang terjebak dalam kata, terpenjara rindu dalam pelukan dosa.
Silahkan interpretasi sendiri!.

Bagikan Yok!