November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Puisi : Kebahagiaan dan Kesedihan Dunia

Puisi : Kebahagiaan dan Kesedihan Dunia

Saat Bahagiaku

Aku bermimpi cukup lama tentang hal ini
Saat usiaku masih sangat kecil
Aku sudah membayangkannya
Mungkin waktu itu aku tidak memahaminya
Tapi sekarang aku telah memahaminya dengan sangat jelas
Sebuah rok indah berhiaskan manik-manik nan berkilau
Sebuah kerudung putih yang terbuat dari sutera lembut
Sebuah sepatu kaca layaknya Cinderella
Dan sebuah bunga harum semerbak di mana-mana
Aku ingin mengenakan semua itu
Di hari yang aku nanti-nantikan semenjak kecil
Mungkin aku akan terlihat cantik jika mengenakannya
Semua orang pasti akan terkagum-kagum melihat diriku
Berjalan menuju singgasana bak seorang putri
Wah, itu pasti adalah saat-saat bahagia dalam hidupku
Mungkin aku akan merasa sedih karena kehilangan keluargaku
Tapi, tak mengapa….
Kesedihan hanya sebentar
Nantinya aku akan mendapatkan keluarga baru yang sayang kepadaku
Keluarga yang aku impikan selama ini
Dalam keluarga itu….
Aku bukanlah seorang putri raja lagi
Statusku sudah naik tingkat menjadi seorang permaisuri
Seseorang yang paling dihormati dalam istana nan megah itu
Tanggung jawab yang aku emban semakin berat
Banyak tugas yang harus aku kerjakan nantinya
Seluruh kehidupanku kucurahkan di dalamnya
Aku adalah tumpuan dari istana kecil itu
Jika aku goyah….
Maka, retaklah setiap hubungan yang ada di dalamnya
Aku harus menjadi sekuat baja
Jika aku kuat….
Maka istana itu akan kokoh berdiri
Memang berat menurut pandangan orang
Tapi, jika dilakukan dengan sepenuh hati
Semuanya terasa mudah bagiku
Karena aku….
Hidup demi suami dan anak-anakku

Puisi Kedua:

Akhirnya Kau Datang

Setiap malam aku selalu membayangkanmu
Wajahmu selalu hadir dalam mimpiku
Gelak tawamu terdengar jelas di telingaku
Saat engkau marah pun aku ingat
Saat kita bertengkar aku juga ingat
Semua tentang dirimu aku ingat
Sampai hal-hal kecil dari dirimu pun aku ingat
Aku bisa merasakan hadirmu disisiku
Walaupun engkau jauh dariku
Aku berharap suatu hari….
Engkau datang mengetuk pintu rumahku
Dengan membawa sekuntum bunga mawar kesukaanku
Aku selalu meminta itu darimu
Tapi engkau tak pernah paham dengan semua itu
Kau itu layaknya sebongkah batu keras di tepi sungai
Walau ada air di sekitarnya
Kau hanya diam dan tak memedulikannya
Berbagai cara telah kucoba tuk membuatmu mengerti
Namun….
Semua itu sia-sia saja
Aku hanya membuang-buang waktu
Bisakah kau singkirkan egomu itu dan melihatku sebentar
Cobalah untuk memahami apa yang tengah aku rasakan
Jujur….
Aku sangat lelah menghadapi dirimu yang angkuh itu
Aku akan menyerah dan pergi jauh darimu
Semoga kepergianku ini….
Bisa membuatmu sadar tentang kehadiranku dalam hidupmu
Aku berharap engkau tak terlambat saat itu
Aku pergi bukannya benci kepadamu
Tidak, tidak seperti itu
Aku hanya ingin pergi darimu sebentar
Tuk bertanya kepada hati kecilku
Apakah aku memang pantas untukmu atau tidak?
Selama berbulan-bulan….
Aku berdiam diri dalam ruangan kosong
Merenungkan setiap rasa yang aku rasakan kepadamu
Duduk termenung sendirian dalam gelapnya malam
Berharap kau datang tuk menjemputku
Pandanganku tak pernah lengah dari jendela pojok kamarku
Setiap saat aku sempatkan tuk memeriksa….
Apakah bel pintu berbunyi atau tidak?
Semua itu kulakukan hampir setiap hari
Dan bel pintu belum juga berbunyi
Apakah pintu hatimu masih tertutup rapat?
Aku selalu memohon pada sang pencipta
Agar engkau bersedia membuka pintu hati yang keras itu
Kini….
Setelah aku benar-benar pergi jauh darimu
Engkau baru datang dan bersimpuh menyesal di hadapanku
Bukan di depan pintu rumahku
Melainkan kau datang ke peristirahatan terakhirku

BACA JUGA :   Cerpen : Cinta, Cita dan Rasa Anak (Lanjutan Bagian 2)

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/illustrations/jantung-bulan-langit-malam-cinta-1164739/

Baca juga:

Cerita Cintaku : Perasaan yang Tak Tersampaikan

indriani (123)

Bagikan Yok!