November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen : Ternyata Kamu itu Orangnya?

Cerpen : Ternyata Kamu itu Orangnya?

Safa baru pulang dari kampus, terlihat matanya seperti mata panda, penuh kerutan dan lingkaran hitam di sekitarnya.

Sudah dua hari ia menginap di Kos temannya untuk kerja kelompok menyelesaikan tugas akhirnya. Dan selama dua hari itu ia hanya tidur tiga jam saja. Pak Raden, ayahnya Safa terkejut melihat penampilan putrinya kayak gelandangan di pinggir jalan.

“Safa, kenapa penampilan kamu kayak gini? Duh, bau banget. Cepat mandi sana!” Ayahnya tidak tahan dengan bau badan Safa yang tidak mandi berhari-hari.

Dengan ekspresi wajah ngantuknya itu ia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Setelah selesai mandi, penampilan Safa berubah drastis. Ia sangat cantik mengenakan gamis dan hijab warna hijau muda. Ayahnya begitu terpukau melihat penampilan putrinya itu.

“Nah, begini kan cantik. Safa, hari ini kamu jangan pergi ke mana-mana ya,” ayahnya melarang dia pergi karena akan ada seseorang yang datang ke rumahnya.

“Kenapa Safa tidak boleh pergi? Emangnya ada apa sih?” Safa merasa curiga dengan tingkah ayahnya yang aneh.

“Nanti ada orang yang mau ketemu sama kamu, jadi hari ini kamu jangan keluar rumah dulu ya.”

“Siapa orang itu, Ayah?”

“Sudah, jangan banyak tanya. Nanti kamu juga tahu orangnya. Sekarang, cepat kamu buat makanan yang enak untuk menyambutnya nanti.”

“Ya iya, Safa masak sekarang.”

“Terima kasih putriku yang cantik,” puji sang ayah.

Pukul 12.00 WIB, tamu itu telah sampai di rumah Safa dengan mengendarai mobil sport. Safa yang tengah berada di dapur langsung lari keluar untuk melihat siapa orang yang datang ke rumahnya.

Ternyata si pengendara mobil sport itu adalah seorang pria tampan yang mengenakan kacamata hitam, jaket kulit, celana jeans, dan sepatu fantovel hitam. Lagaknya itu kayak pria-pria tampan yang ada di tv. Biasanya seorang gadis akan terkesima jika melihat seorang pria tampan, tapi berbeda dengan Safa.

Wajahnya malah terlihat cemberut dan hanya terdiam mematung melihatnya. Bukannya menghampirinha, Safa malah kembali masuk ke dalam.

“Loh Safa, kenapa kamu masuk? Siapa yang ada di depan,” tanya ayahnya.

“Nggak tahu, ayah lihat saja sendiri. Safa mau lanjut masak,”jawab Safa ketus.

“Nih anak kenapa sih diajak ngobrol modelnya kayak mau marah-marah,” kata ayahnya kesal.

Safa lanjut masak dan tak menghiraukan perkataan ayahnya tadi.

Pria tampan yang keluar dari mobil sport tadi tiba-tiba mengetuk pintu rumah Safa.

“Assalamualaikum, punten,” salam si pria tampan

BACA JUGA :   Cerpen Segenggam Cinta Untuk Ayah Season 1

Pak Readen pun keluar dan menyapa pria tampan itu.

“Waalaikumsalam, mangga. Oh ya ampun, Safa sudah menunggumu dari tadi. Ayo, silahkan masuk, anggap saja rumah sendiri.”
Sebelum dia masuk ke dalam rumah, pria tampan itu melepas sepatunya. Pak Raden sampai bingung dibuatnya. Padahal lagaknya kayak anak kota, tapi kenapa sikapnya sopan sekali seperti anak desa. Pak Raden jadi bingung dengannya.

“Nak, tidak usah dilepas sepatunya, pakai saja tidak apa-apa,” tegur Pak Raden.

“Saya tidak mau mengotori lantai rumah bapak,” jawab pria itu dengan sopannya.

“Sudah gak apa-apa, ayo dipakai lagi. Kalau nggak kamu pakai sepatunya, bapak nggak akan izinkan kamu masuk,” Pak Raden pura-pura mengancam pria itu.

“Baiklah, jika bapak memaksa. Maaf ya, Pak?”

“Anggap saja rumah sendiri, pakai lagi sepatunya. Saya tak ke dalem dulu ya, panggil anak saya si Safa.”

“Oh iya, silahkan pak.”

Pak Raden pergi ke dapur untuk memberitahu supaya membawakan teh untuk si pria tampan.

“Safa, tolong kamu buatkan teh untuk tamu di depan ya. Nanti kalau kamu sudah selesai masak, kamu ikut nimbrung di ruang tamu ya,” pinta sang ayah

“Nggak ah, Safa nggak mau menemuinya. Ayah saja ya, yang bicara dengannya,” Safa menolak bertemu dengan pria itu karena menurutnya dia seperti bukan pria baik-baik.

“Safa, nggak boleh gitu. Pokoknya kamu harus keluar dan menemuinya. Kalau tidak, ayah akan menjual motor kesayanganmu itu. Kamu mau ke kampus jalan kaki?”

“Kebiasaan ayah, selalu mengancamku seperti itu. Aku sudah muak, kalau ayah mau menjualnya silakan, tapi Safa tetap tidak mau menemuinya. Safa tahu kenapa ayah menyuruhnya datang ke sini. Ayah mau menjodohkan Safa dengan dia kan? Maaf ayah, Safa nggak suka pria seperti itu. Kelihatannya dia pria yang sombong dan…”

Tiba- tiba Pak Raden menyela ucapan Safa dengan berteriak keras.

“Jaga ucapanmu Safa. Apa ini nilai-nilai yang ayah tanamkan kepadamu? Jangan melihat seseorang dari penampilannya. Cobalah untuk menemuinya sekali saja. Kasihan, dia jauh-jauh dari Jakarta datang ke Bandung hanya untuk bertemu denganmu.”

“Tapi, Yah?”

“Nggak ada tapi-tapi an, cepat selesaikan masakanmu ini dan setelah itu susul ayah ke ruang tamu. Lakukan seperti yang ayah suruh. Kamu mengerti,” bujuk sang ayah.

Safa sangat kesal kepada ayahnya, yang tidak mau mengerti perasaannya. Safa berpikir bahwa ayahnya sudah tak sayang lagi kepada dirinya. Begitu teganya ia mau memberikan anak perempuan semata wayangnya kepada pria yang wataknya buruk.

BACA JUGA :   Sejarah Galuh dari Masa ke Masa, darì Kerajaan Galuh Jadi Ciamis

Safa menganggap pria itu mempunyai watak buruk karena melihat penampilannya seperti arogan gitu. Safa benar-benar ogah menemuinya. Ia pun langsung memikirkan suatu cara agar bisa keluar dari rumah.

“Aku harus mencari cara untuk keluar dari sini. Tapi lewat mana ya? Pintu dapur terkunci, jendelanya juga nggak bisa dibuka. Duh, aku harus berbuat apa. Oh, ya Allah, tunjukkan jalanmu kepadaku. Aku sungguh tidak mau bertemu dengan pria itu. Sepertinya dia hanya ingin mempermainkan hidupku saja,” gumamnya dalam hati.

Doanya dalam sekejap terkabulkan, tanpa sengaja Safa menyenggol pintu dapur dan akhirnya terbuka sendiri. Padahal pintunya tengah rusak dan susah untuk dibuka. Mungkin ini rezeki anak Sholehah. Melihat pintu terbuka, Safa langsung pergi melarikan diri dari rumah.

Sementara itu, Pak Raden sibuk mengobrol dengan pria itu dan tidak mengetahui bahwa putrinya telah kabur dari rumah.
Tersadar kalau Safa belum muncul untuk membawakan teh, Pak Raden langsung masuk ke dalam dapur untuk mengecek kondisi Safa.

“Nak, sebentar ya. Saya masuk ke dalam dulu?” ijin Pak Raden kepada pria tampan itu.

“Iya pak, silakan!” ujar si pria.

Pak Raden terkejut melihat dapur dalam keadaan kosong dan pintunya yang terbuka lebar. Pak Raden sudah menduga dari awal bahwa hal ini akan terjadi.

Ia pun kembali ke ruang tamu dan memberitahu pria tampan itu kalau Safa kabur dari rumah.

“Nak, bisakah kamu bantu bapak?” wajah Pak Raden terlihat sangat cemas saat mencoba meminta bantuan kepada pria tampan itu.

“Tentu, apa yang bisa saya bantu?” Sahut pria itu.

“Nak, tolong bantu saya mencari anak saya Safa di sekitar sini. Dia kabur dari rumah lewat pintu belakang. Kamu temani bapak untuk mencarinya, ya?”

“Tentu, sekarang kita mencari dia dari mana dulu, pak? Saya tidak terlalu mengerti daerah di sini.”

“Sekarang ikut bapak ke halaman pekarangan di belakang rumah. Safa pasti belum jauh, kita cari dia di sana terlebih dahulu. Ayo, ikuti saya.”

Mereka berdua pun akhirnya pergi menuju pekarangan belakang rumah. Sudah satu jam mereka mencari, tapi Safa masih belum ditemukan. Pak Raden hampir putus asa, ia sungguh bingung tak tahu harus berbuat apa.

“Kita harus mencarinya ke mana lagi. Aku sudah tak sanggup berjalan lagi, Nak.” Kaki Pak Raden sampai pegal-pegal karena terlalu lama berjalan. Di usianya yang menginjak 50 tahun ini, fisiknya mudah lelah dan tak kuat berjalan jauh.

BACA JUGA :   Spoiler Kasih Abadi BAB 29

“Bapak duduk saja di sini. Selonjorkan kakinya pak supaya tidak keram. Biar saya yang lanjutkan pencariannya.”

“Maaf merepotkan kamu ya, Nak!”

“Nggak apa-apa pak. Bapak sudah aku anggap seperti ayah kandungku sendiri. Saya jadi malu kalau bapak bicara seperti itu. Bapak santai saja ya di sini, saya pergi dulu mencari Safa.”

Pria tampan itu sudah berjalan terlalu lama menyusuri jalanan desa. Namun, Safa masih belum ditemukan olehnya. Tiba-tiba saja, kaki pria tampan itu terpeleset dan membuatnya terperosok ke dalam lubang. Saat berada di dalam lubang itu, ia kaget melihat Safa yang pingsan.

Beberapa kali dia mencoba membangunkannya, tapi tak ada satu pun cara yang berhasil. Pria itu pun menggendong Safa di atas punggungnya. Ia mencoba keluar dari lubang itu dengan cara berpegangan pada akar rumput yang memanjang.

Seluruh tenaganya ia kerahkan agar bisa keluar dari sana. Dan syukurlah, ia berhasil keluar. Pria itu dengan cepatnya berlari membawa Safa kembali ke rumahnya. Beberapa menit kemudian, Safa tersadar dari pingsannya dan dia pun kaget karena berada di kamarnya.

“Loh, kenapa aku ada di sini. Kamu, sedang apa di dalam kamarku, apa yang sudah kamu lakukan kepadaku?” kata Safa yang marah kepada pria itu.
Mendengar suara Safa yang tiba-tiba teriak kencang, Pak Raden langsung masuk dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

“Seharusnya kamu berterima kasih kepadanya. Dia sudah menolongmu keluar dari lubang dekat sawah itu. Kalau tidak ada dia, mungkin ayah sudah kehilangan dirimu,” ungkap sang ayah.

“Maafkan aku ya, sudah berpikir yang tidak-tidak tentangmu. Ternyata kamu itu tidak seperti yang aku duga. Maaf, aku tadinya mengira dirimu itu orang yang…” mendadak Safa terdiam.

“Sombong, angkuh, dan egois?” balas si pria tampan itu sembari tersenyum.

Safa mengangguk-anggukan kepala dan tertunduk malu.

“Tidak apa-apa. Aku sudah biasa kok. Santai aja.”

“Beneran nih, kamu nggak marah?” tanya Safa yang kurang yakin.

“Iya Safa. Aku mau tanya sesuatu kepadamu?” sahut si pria.

“Apa, kamu mau tanya apa?”

“Maukah kamu menikah denganku?”

Tanpa pikir panjang, Safa menganggukan kepalanya sebagai tanda bahwa ia menerima lamaran pria tampan itu. Pak Raden kegirangan bukan main karena apa yang diinginkannya selama ini akhirnya akan segera terwujud.

Impiannya adalah bisa melihat putri tunggalnya itu menikah sebelum ajalnya datang menjemput.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/illustrations/tanda-tanya-memikirkan-pertanyaan-2318030/

Baca juga :

Cerita Cintaku : Kebohongan Berbuah Karma

indriani (123)

Bagikan Yok!