November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen : Jika Memang Takdirnya?

Jika memang Takdirnya?

Jika Memang Takdirnya?

Kesendirian ini terasa sunyi bagiku. Gelap malam aku lalui sendirian tanpa seorang pun di sisiku. Aku merasa takut akan kesepian diri dalam waktu lama. Berharap ada seseorang datang tuk menjemputku dan membawaku ke dunia yang aku impikan selama ini.

Keseharianku hanya kuhabiskan untuk merawat rumah tua milik orang tuaku. Rumah ini selalu menemaniku dalam suka maupun duka. Setiap kebahagiaan yang aku rasakan selalu aku bagi dengan rumah ini. Mungkin bagi orang biasa dia hanya sebuah benda mati, tapi bagiku dia adalah sahabat terbaikku. Bukan hanya kebahagiaan, setiap kesedihan dalam hatiku juga aku bagi kepadanya.

Sedih rasanya jika suatu saat nanti aku harus pergi meninggalkannya.

Malam ini aku bermimpi melihat seorang pria duduk sendirian di dalam masjid sambil memangku Al-Qur’an di atas kedua kakinya yang sedang duduk bersila.

Pria itu perawakannya agak gemuk, rambut ikal, pipi tembem, dan memiliki senyuman manis di bibirnya. Dalam mimpi, aku melihatnya dibalik kelambu masjid dekat pintu masjid. Aku mendengarkan setiap ayat yang dibacakannya secara saksama.

Tiba-tiba tanpa sengaja aku menyenggol kotak amal di sebelahku. Suara kotak amal yang kujatuhkan itu sampai terdengar ke telinganya. Dia pun terkejut dan langsung menghentikan bacaan Al-Qur’annya.

“Suara apa itu?” kata pria itu heran.

Pria itu membalikkan badannya dan kemudian melihat ke arahku.

“Siapa kau? Apa yang sedang kau lakukan di situ?” tanya dia kepadaku.

Aku tak tahu harus menjawab apa. Karena gugupnya aku pun lari menjauhinya.

“Hei, tunggu, jangan pergi!” mendadak pria itu menarik tanganku dari belakang. Aku pun berhenti dan jatuh ke dalam pelukannya.

“Siapa kau, apa yang kau lakukan tadi di sana? Jawab aku!” seru pria itu penasaran.

“Lepaskan aku!” sahutku sembari melepaskan tubuhku dari pelukannya.

Setelah lepas darinya, aku langsung pergi meninggalkannya lagi. Aku berlari sangat cepat sampai tidak tahu ada mobil melintas di hadapanku.

“Aaaaaaa!!!” teriakku.

Untungnya semua itu hanya sebuah bunga tidur belaka. Aku bisa selamat di dunia mimpi, tapi bagaimana dengan dunia nyata. Aku berharap semoga mimpi itu tidak menjadi nyata. Kalau sampai hal itu terjadi kembali di dunia nyata, entah apa yang akan terjadi padaku. Apakah aku bisa lepas dari pria itu atau tidak.

BACA JUGA :   Cerita Cintaku : Berbuat Salah Demi Cinta

Dan apakah aku juga bisa selamat dari kecelakaan mobil itu atau tidak. Aku sungguh takut jika mimpi malam hari tadi menjadi nyata.

Bukan hanya sekali aku memimpikan kejadian ini, tapi sudah tiga kali atau mungkin lebih. Aku mengingat suara pria itu dengan jelas. Namun, aku tak bisa melihat wajahnya karena Allah sengaja mengaburkannya.

Sebenarnya, siapa pria itu dan apa hubungannya denganku. Aku bingung dengan semua ini Ya Allah. Rencana apa yang tengah engkau persiapkan untukku. Kumohon beritahukan kepadaku, jangan membuat diriku penasaran seperti ini.

Pagi itu di perpustakaan kampus, waktu aku tak bisa meraih buku di rak yang letaknya paling tinggi, tiba-tiba saja ada seorang pria datangb membantuku. Dia berdiri persis di belakangku.

“Biar aku yang ambilkan,” suara yang aku dengar dari pria yang membantuku itu sama dengan suaranya pria yang ada dalam mimpiku.

Saat aku membalikkan badan, dia keburu pergi dan aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi aku mengingat bentuk tangannya, ada tai lalat besar di pergelangannya.

Aku terus mengingat suara pria itu di pikiranku seminggu ini. Sepertinya ada sesuatu yang aneh tengah aku rasakan saat ini.

Perasaan yang selalu diimpikan oleh setiap wanita di dunia, yaitu jatuh cinta. Aku bertanya pada diriku, Apakah aku benar-benar jatuh cinta kepada pria yang ada dalam mimpiku itu.

Benarkah ini cinta atau sekedar nafsu saja. Aku pusing tujuh keliling memikirkannya. Kebingungan ini sampai membuatku tak fokus menerima pelajaran sampai Bu dosen memarahiku habis-habisan.

“Nana, jangan melamun! Kalau kamu tidak mau saya keluarkan dari kelas ini, maka perhatikan pelajaran dengan serius. Kamu mengerti?” gertak Bu Dosen.

“Iya Bu, maaf!”

Bayangan pria itu seperti ada di mana-mana. Sudah jutaan kali aku mencoba menghempaskannya dari pikiran dan juga hatiku, tapi tetap saja tidak berhasil. Hidupku ini sungguh aneh, aku mencintai seseorang yang belum tentu ada wujudnya di dunia nyata.

BACA JUGA :   Cerpen Tangisan Dalam Sujudku

Temanku saja sampai heran mendengarkan ceritaku ini. Dia bingung sekaligus tidak memahami apa yang aku ceritakan kepadanya.

“Kamu tadi kenapa senyum-senyum sendiri di kelas sampai Bu dosen memarahimu begitu?” tanya temanku heran.

“Aku sedang bingung, Mira. Kau tahu, selama seminggu ini aku selalu memimpikan hal yang sama.”

“Mimpi tentang apa? Coba ceritakan kepadaku.”

“Dalam mimpiku itu, aku melihat seorang pria sedang membaca Alquran di dalam masjid. Dan tanpa sengaja aku menyenggol kotak amal yang tergeletak di depan pintu masjid. Suara kotak amal yang jatuh itu sampai di didengar oleh pria itu. Dia kemudian menghentikan bacaannya dan berlari mengejarku. Namun, waktu aku mau sampai di gerbang, dia berhasil menangkapku. Tapi aku berusaha melepaskan diri darinya. Setelah aku berhasil lolos dari pria itu, tiba-tiba ada mobil lewat di depanku dan aku pun berteriak,” jelasku kepada Mira.

“Terus, apa yang terjadi selanjutnya?”

“Tidak tahu, aku langsung terbangun dari tidur.”

“Aku bingung sama ceritamu itu. Setelah kamu bermimpi kejadian itu, apakah kau mulai merasakan jatuh cinta gitu?”

“Sepertinya iya, entah aku tidak tahu, aku benar-benar bingung.”

“Sudahlah daripada mikirin pria yang nggak jelas, bagaimana kalau kamu aku kenalin sama seseorang.”

“Kamu mau ngenalin aku sama siapa?”

“Rahasia, pokonya nanti kamu datang ke cafe library dekat kampus ya jam 3 sore.”

“Baiklah, aku akan datang.”
Aku penasaran, sebenarnya Mira ingin memperkenalkan aku pada siapa. Entah mengapa hatiku merasa begitu senangnya saat mendengar kabar bahwa ada seseorang yang ingin berkenalan denganku.

Pukul tiga sore, aku sudah tiba di cafe lebih dulu. Hampir setengah jam aku menunggu mereka, tapi mereka belum muncul-muncul juga. Diriku mulai lelah menunggu sesuatu yang tidak pasti, akhirnya aku putuskan untuk pergi meninggalkan cafe. Sesaat setelah aku keluar dari pintu cafe, aku melihat Mira datang seorang diri.

BACA JUGA :   Masyarakat, Negara, dan Pandemi

“Nana, kenapa kamu keluar?” tanya Mira

“Habisnya kamu lama sih. Jadinya aku mau pulang aja.”

“Aku kan udah di sini. Masuk lagi, yuk!”

“Ngomong-ngomong kenapa kamu datangnya sendirian?”

“Oh, dia sedang memakirkan mobilnya. Bentar lagi datang kok. Yuk, kita masuk duluan. Kamu udah pesan makan tadi?”

“Belum, tadi aku hanya pesan jus aja.”

“Ya udah, kamu cari tempat duduk dulu ya. Aku akan memesankan makanan untuk kita bertiga.”

Di saat Mira sibuk order makanan, aku tengah menunggunya sendirian di balkon cafe. Pemandangan di sekitar cafe sangat indah. Mataku tak henti-hentinya memandang keindahan alam ciptaan Tuhan ini. Beberapa menit kemudian, datanglah Mira bersama temannya.

Dan ternyata teman Mira itu adalah Pria yang ada dalam mimpiku. Bentuk tubuh, suara, dan tanda di pergelangan tangannya sama persis dengan pria yang ada dalam mimpiku. Jadi, apakah ini jawaban dari salat tahajudku. Aku hanya terdiam memandangi pria itu.

“Hammad, ini temanku Nana. Dia yang akan membantumu merancang busana di film kita. Dan Nana, perkenalkan ini namanya Hammad, dia dari Arab Saudi.”

“Mira!” panggilku.

“Ada apa Nana? Kenapa kau memanggilku?”

“ Temanmu inilah yang ada dalam mimpiku.”

“Apa kau bilang, Nana?” tanya Mira kaget.

“Iya Mira, teman wanitamu ini juga hadir dalam mimpiku akhir-akhir ini,” sela Hammad.

“Oh ya ampun, jadi kalian berdua saling memimpikan satu sama lain. Wah, ini benar-benar suatu keajaiban.”

Ternyata orang yang selama ini aku dambakan itu berada dekat dengan diriku, bahkan sangat dekat.

Pria yang aku lihat dalam mimpiku itu adalah Hammad temanya Mira Sahabatku. Aku sungguh tidak percaya ini. Jika memang takdirnya aku adalah milik Hammad, tak apalah, lagian ini keputusan Allah. Apapun yang diputuskannya, pasti itu yang terbaik bagi hambanya.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/merpati-pasangan-dua-orang-pemain-50005/

Baca novel Cerita Cintaku di bawah ini :

Cerita Cintaku : Hukuman Bagi Sang Pelaku Cinta Monyet 2

indriani (123)

Bagikan Yok!