November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Hukuman Bagi Sang Pelaku Cinta Monyet 2

Hukuman Bagi Sang Pelaku Cinta Monyet 2

Bab 14 : Hukuman Bagi Sang Pelaku Cinta Monyet (Part 2)

Selesai mengikuti acara salat duha dan zikir bersama, kami para murid langsung pergi menuju kelas masing-masing karena jam pelajaran ketiga akan dimulai.

Ketika aku sedang memakai sepatu, tiba-tiba ayahku memanggil dari arah perpustakaan.

“Roriiiiiii!” Panggilnya keras.

Aku pun tergesa-gesa memakai sepatu sampai ikatan tali simpulnya berantakan. Setelah itu, aku berlari ke arahnya secepat mungkin sampai-sampai kakiku tersandung batu.

“Aduh!” kataku merintih kesakitan.

“Hati-hati Rori,” sahut Dani.

“Iya, terima kasih ya sudah diingatkan.”

“Sama-sama.”

Sesampainya di hadapan ayahku, aku melihatnya sedang berbincang serius dengan Bu Ani. Perasaanku sepertinya tidak enak, aku merasa takut jika Bu Ani mengetahui penyamaranku tadi dan kemudian melaporkan perbuatanku itu pada ayahku. Nanti ayahku bisa marah besar dan tidak segan-segan memukuli diriku.

Membayangkannya saja aku sudah takut, apa lagi sungguhan. Mumpung keduanya tidak memperhatikan kedatanganku, aku pun berjalan putar balik menuju kelas. Namun, tiba-tiba ayahku memanggilku lagi.

“Rori, mau ke mana kau? Kemari anak nakal.”

Aku menghela napas perlahan untuk menenangkan diriku yang tengah gugup. Bu Ani dan ayahku menatapku dengan tajam, aku sampai tidak berani memandang wajah keduanya. Perlahan, Aku memberanikan diri maju menghadap mereka dengan kepala tertunduk.

“Rori, cepat kemari!” teriak ayahku dengan nada tingginya.

Aku pun langsung berjalan cepat setelah mendengar teriakan ganasnya itu.

“Iya, ada apa ayah memanggilku?” tanyaku terbata-bata.

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menjewer telingaku.

“Aduh, sakit ayah. Kumohon lepaskan,” kataku sembari mencoba melepaskan tangannya dari telingaku.

“Dasar anak nakal, sedang apa kau tadi di tempat salat wanita. Bu Ani tadi melihatmu di sana. Kau menyamar memakai mukena warna hitam kan. Sekarang, jawab dengan jujur, untuk apa kau ada di sana? Bikin malu aja.”

BACA JUGA :   Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 4 Inikah Cinta

Apa yang aku takutkan terjadi. Ternyata Bu Ani melihatku tadi, mau tidak mau aku harus menjawab ayahku dengan sejujur-jujurnya.

“I i i ya, aku memang masuk ke tempat salat wanita secara diam-diam.”

“Dasar anak nakal,” api amarah dalam diri ayahku tak terbendung lagi, hingga kedua telingaku di putar dan di tarik sampai memerah.

“Pak sudah hentikan, kasihan Rori kesakitan itu. Sudah, lepaskan!” Bu Ani mencoba membujuk ayahku agar berhenti menjewerku.

Hanya karena bujukan Bu Ani kemarahan dalam diri ayahku langsung mereda. Untung saja Bu Ani membantuku, kalau tidak kedua telingaku sudah copot semuanya.

“Rori, kenapa kamu masuk ke dalam tempat salat wanita? Apa alasanmu melakukan itu?” tanya Bu Ani dengan penuh kelembutan.

“Saya tadi sedang mencari seseorang, Bu!”

“Siapa yang kamu cari, Rori?” tanya Bu Ani lagi.

“Maafkan saya, saya tidak bisa menjawabnya, Bu.”

“Eh Bu Ani, bukannya Bu Ani sekarang ada kelas bukan.

Sebaiknya ibu bergegas masuk ke dalam kelas. Biar saya sendiri yang menangani masalah ini,” sela ayahku yang ingin Bu Ani pergi.

“Oh iya saya lupa, kalau begitu saya pergi mengajar dulu ya, Pak. Tolong tangani masalah ini dengan bijak. Jangan menghukum Rori dalam keadaan emosi.”

“Ibu tenang saja, saya juga guru. Saya tahu harus memberikan hukuman apa pada anak nakal ini,” kata ayahku sembari merangkul diriku.

Setelah Bu Ani pergi, ayahku langsung menggeretku masuk ke dalam perpustakaan yang tengah kosong. Ia pun menutup jendela dan pintu serapat mungkin. Aku jadi takut dibuatnya.

Sebenarnya, hukuman apa yang tengah dipikirkan oleh ayahku untukku. Aku berharap semoga dia tidak memberi hukuman yang berat. Ruangan yang tadinya terang benderang, sekarang dipenuhi oleh kegelapan.

BACA JUGA :   Cerita Cintaku : Awal Masuk Sekolah SMP

Badanku sampai menggigil ketakutan karena menatap mata ayahku yang tajam bak seorang algojo yang siap mengeksekusi seorang terdakwa. Daripada melihat tatapan itu lebih lama, aku pun memalingkan wajahku darinya.

Ke mana pun aku mencoba mengalihkan pandanganku, ia terus saja menatapku tanpa henti. Aku sampai kewalahan menghadapi dirinya. Semakin aku mencoba lari, dia tidak akan pernah berhenti mengikutiku sampai tujuannya tercapai.

“Jangan coba-coba mengalihkan pandangan matamu. Sekarang tatap mata ayah baik-baik. Buka matamu, Rori!”

Supaya kemarahannya tidak semakin menjadi-jadi, aku pun membuka mataku perlahan.

“Kamu ke sana untuk mencari anak perempuan itu kan? Jawab!” teriak ayahku kencang.

“Iya, aku masuk ke sana untuk bertemu dengannya.”

“Apa kamu sudah lupa apa yang pernah ayah katakan kepadamu, Rori?”

“Tidak ayah, aku tidak lupa. Ayah bilang kepadaku bahwa aku boleh menyukainya, tapi tidak boleh berpacaran dengannya.”

“Lalu kenapa kau sampai melakukan hal bodoh semacam itu? Untung saja masalah ini belum tersebar ke mana-mana. Kalau sampai terdengar ke telinga guru yang lain, reputasi yang sudah ayah bangun bertahun-tahun akan hancur karena cinta monyet payahmu itu. Sekarang, ayah minta padamu, singkirkan saja perasaan tidak jelas itu.”

“Ayah dari dulu hanya mementingkan reputasi saja. Apa pernah sekali saja ayah memikirkan kebahagiaanku, pernahkah ayah melakukan itu, pernahkah? Selama ini aku tidak bisa bernafas ataupun bergerak dengan bebas sesuai apa yang aku inginkan. Nama besar ayah di sekolah ini telah mengekang diriku. Aku sudah muak dengan semua ini, aku benar-benar muak,” aku meluapkan semua amarah yang selama ini tertahan dalam batinku.

“Kamu sekarang berani membentak ayahmu, dasar anak tidak tahu diri,” kemarahan ayahku di ujung tanduk, ia pun menamparku dengan keras.

“Ayo tampar, tampar sepuas hati ayah. Kalau perlu tampar wajahku sampai babak belur. Ayah bisa menyiksaku sepuasnya, tapi ayah perlu mengingat ini. Rori putra payahmu ini tidak akan pernah mau menyingkirkan rasa cinta yang ada di dalam hatinya. Mungkin bagi ayah ini hanya sebuah cinta monyet . Tapi bagiku, ini hidupku, ini kebahagiaanku, ini cinta sejati, aku benar-benar menyukainya. Dia adalah cinta pertama dan terakhir bagiku.”
Mendengar pernyataanku itu, ayahku tertawa terpingkal-pingkal.

BACA JUGA :   Cerita Cintaku : Rahasia yang Tak Bisa Dipendam

“Cinta sejati katamu. Rori, Rori, ada-ada saja kamu. Anak kecil sepertimu mengerti apa soal cinta sejati. Daripada memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti itu lebih baik kau sibukkan dirimu untuk belajar dengan giat. Kamu itu siswa dan tugas utama seorang siswa adalah belajar, belajar, dan belajar. Ayah tidak mau melihat nilai sekolahmu jeblok hanya karena memikirkan gadis payah itu.”

“Dia tidak payah. Padahal ayah seorang guru, kenapa ayah begitu tega menghina murid ayah sendiri? Aku sangat malu mendengar kata itu terucap dari mulut seorang guru yang paling dihormati di sekolah ini. Aku benar-benar kecewa, sangat kecewa.”

Tak tahan mendengar luapan emosiku, ayahku pun balik menamparku lagi. Dia tak hanya menamparku sekali, tapi sebanyak dua kali. Tangannya saja sampai membekas di kedua pipiku. Setelah puas menghukum diriku, dia pun pergi meninggalkan perpustakaan. Sementara aku pergi ke kamar mandi untuk menenangkan diri dan membasuh air mataku.

Selama beberapa minggu, aku mendiamkan ayahku. Aku tidak mau lagi berbicara ataupun menatap wajahnya. Kata-katanya yang menghina Indri sudah menyakiti hatiku terlalu dalam. Aku tidak akan pernah memberikan maaf kepadanya sebelum dia minta maaf lebih dahulu kepadaku.

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/photos/balon-surga-cinta-biru-percintaan-892806/

Baca Bab sebelumnya :

Cerita Cintaku : Hukuman bagi Sang Pelaku Cinta Monyet

indriani (123)

Bagikan Yok!