November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Menggeser Hari Besar Islam

MENGGESER SYIAR HARI BESAR ISLAM

Oleh : Fastaghfiru ILallah

Sejak umat Islam dalam posisi lemah, sudah sering umat Islam dalam posisi selalu dirugikan. Bahkan Trend terbaru menggeser libur sekaligus melarang perayaaan hari besar Islam. Bisalah alasan pandemi, demi keamanan masyarakat. Cuma masyarakat antah berantah tentunya. Karena sebagian besar masyarakat beragama Islam.

Kalau kita tengok kebelakang, beberapa bulan yang lalu, libur tahun baru hijriah digeser, tidak perduli lagi bahwa hal itu termasuk perbuatan tercela dan sangat buruk yang dilakukan orang musyrik. Tidak perduli lagi kalau perbuatan itu tercela dan diabadikan Allah Swt dalam surah At-Taubah ayat 37. Kini fenomena itu terulang lagi. Bulan sekarang, libur maulid nabi Muhammad SAW juga digeser, tidak perduli nilai historis yang terkandung.

Menggeser hari besar libur umat Islam sebenarnya bukan barang baru. Zaman kolonialisme Belanda masih berkuasa di Nusantara, libur pekan hari Jum’at digeser ke hari Ahad sekalian mengganti hari Ahad menjadi hari Minggu.

Libur hari raya pada hakikatnya bukan sekedar libur dan hari untuk rihlah berwisata. Libur hari raya sejatinya adalah libur dalam rangka konsentrasi dan fokus pada apa yang diperingati dalam kandungan agamanya.

Bagi umat Islam, Jum’at adalah hari untuk mempersiapkan ibadah. Libur hari Jum’at bukan semata untuk istirahat, tetapi agar lebih fokus dan khusyu’ dalam sholat Jum’at. Ketika libur dipindahkan ke hari Minggu, sholat Jum’at seakan selingan kesibukan saat bekerja.

Pergeseran hari libur Jum’at ke Minggu adalah pemindahan satu hari besar ke hari besar yang lain. Semua tahu Minggu adalah hari besar dan hari ibadah penganut agama Kristen.

Dulu hari Jum’at, kemarin bulan Muharam, sekarang geser Maulid. Tidak ada jaminan suatu saat puasa ramadhan dan hari raya Idul Fitri dan Idhul Adha tidak digeser.

BACA JUGA :   Sistem Politik Dan Ekonomi Di Masa Jahiliyah : Monarkhi Absolut

Mengeser hari raya bisa diperkirakan harinya, kita lihat nanti hari raya, puasa Ramadhan, hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, Isra Mi’raj dan peringatan Hari Besar Islam lainnya.

Sedangkan diwaktu menjelang hari raya Kristen antara lain Natal, Paskah, Kenaikan Yesus, Pantekosta dll, harinya tidak mau digeser karena akan di anggap kadrun, intoleran, radikal, anti NKRI bahkan teroris.

Makin lama deislamisasi dan Islamphobia semakin berasa. Mungkin umat Islam dipersiapkan oleh Allah untuk berubah paradigmanya, dari paradigma sekuler menjadi paradigma berdasarkan Al Quran dan Sunah.

Sehingga umat Islam akan siap menjadi aset kejayaan Islam yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Bagikan Yok!