November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Spoiler Kasih Abadi BAB 28

Di sudut café semesta terlihat Abadi yang masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari Kasih. ia semakin bingung dengan tingkah Kasih yang terlihat baik-baik saja ketika bersama teman-temannya.
 “Kok Kasih baik-baik aja sih? Kok udah nggak sedih lagi? Apa dia udah maafin gue? Segampang itu? Kenapa mendadak gue yang kesal ya lihat Kasih senang padahal harusnya dia mikirin masalah gue sama dia.”
Sedangkan di depan Abadi, terdapat pemandangan yang tidak jauh berbeda. Di sana ada Magenta yang tentu saja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Senja. Entah kenapa Magenta merasa Senja semakin menarik setelah Senja menyatakan perasaannya kemarin. Magenta bahkan bingung bagaimana caranya agar dia bisa mengembangkan hubungannya dan membuat Senja selalu berada didekatnya. Saat sedang enak-enaknya memandangi Senja, Magenta justru dikagetkan dengan geprakan meja yang bersumber dari Abadi. Bahkan Magenta kembali dikejutkan dengan wajah Abadi yang memerah penuh amarah. Magenta mengira mungkin saja Dave kembali lagi.
 “Bad, lu kenapa sih?” tanya Magenta.
 “Lu Abadi kan?” lanjut Magenta.
 “Ya kalau bukan gue siapa lagi?”
 “Kirain Dave bakal tiba-tiba muncul. Lu kenapa sih?”
 “Perasaan gue aneh banget deh.”
 “Aneh kenapa?”
 “Ya gue kesal aja ngelihat Kasih baik-baik aja. Hurusnya kan dia mikirin masalah gue sama dia. Sedih kek atau kecewa gitu sama gue.”
 “Lah bukannya lebih baik Kasih kayak gini.”
 “Iya otak gue bilang gitu tapi hati gue nggak.”
 “Jangan-jangan lu suka sama Kasih?”
 “Gue? Suka sama Kasih? nggak mungkin.”
 “Apa yang nggak mungkin? Kasih cewek baik-baik kok, cantik, tulus dan udah pasti suka sama lu.”
 “Kasih suka sama gue? Kalau dia suka sama gue harusnya kondisi dia nggak setenang sekarang dong.”
 “Bad, mungkin lu emang lihat Kasih lagi senang tapi kalau lu perhatiin sorot mata Kasih beda. Matanya sedih tapi keadaan memaksa dia untuk selalu tersenyum. Kayaknya lu udah mati rasa deh. Bahkan hal dasar kayak gitu lu nggak bisa ngerasain.”
Mendengar perkataan Magenta Abadi justru menghembuskan nafas dengan Kasar dan tersenyum sinis.
 “Kehidupan emang kayak gitu mau kita sesedih dan seterpuruk apapun lu dituntut untuk selalu bertingkah kuat. Bahkan mirisnya yang menuntut lu terlihat kuat itu diri lu sendiri bukan orang lain.”

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Selamat Hari Kanker Sedunia