November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Spoiler Kasih Abadi BAB 23

Entah ada angin apa hari ini Abadi terlihat sangat menawan. Bukan karena parasnya yang rupawan namun karena sikapnya yang penuh perhatian. Pagi tadi tiba – tiba saja Abadi datang. Duduk bersampingan dengan Kasih menunggu jingga datang. Hanya satu yang tak dapat ia ucapkan, rasa bahagianya yang tertahan. Hanya karena sikapnya yang selalu menawan. Pagi tadi Abadi dan Kasih menikmati fajar datang, menghembuskan nafas dengan menyebutkan nama. Bukan nama awan atau tumbuhan tapi nama mereka yang kembali dipersatukan.
“Terima kasih Tuhan setidaknya Kau beri kesempatan kami merasakan indahnya cinta dalam takdir yang sudah Kau rencanakan.” Kata Kasih dalam hati.
Dan di sinilah Kasih sekarang. Di parkiran motor menunggu sang empunya motor datang. Ya siapa lagi kalau bukan Abadi Dirgantara. Seseorang yang memiliki masa kelam namun masih bisa tertawa ditengah guncangan. Ia tak pernah tertawa sendiri, ada Kasih di sampingnya. Bukan hanya untuk menemaninya tertawa namun karena Kasih penyebab kebahagiaannya. Ia harap akan selalu seperti itu adanya.
“Kasih woy!” Abadi mengagetkanku.
Begitulah Abadi. Penuh dengan kejutan. Astaga lihatlah senyumnya semakin indah. Rasanya mataku tak ingin berpaling darinya. Hanya dia pemilik senyum terindah. Tiba – tiba saja Abadi menjentikkan jarinya di depan mataku. Ya mau tak mau lamunanku buyar bersamaan dengan bunyi jentikan itu.
“Kan ngelamun lagi?” kata Abadi menyadarkan Kasih.
“Yaelah Bad sekali – kali nggak apa – apa lah.”
“Apa lu bilang? Sekali – kali? Orang gue lihat lu ngelamun tiap hari. Dasar!” kata Abadi sambil menyentil pelan dahi Kasih.
“Iih Abadiii.” Rengek Kasih pada Abadidan hanya ditanggapi dengan cengirannya.
“Lu jadi nganterin gue part time nggak sih? Nyebelin.”
“Iya iya. Yuk.”

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Metamorfosis Belalang