Oktober 19, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Balas Dendam Pembawa Petaka

Balas dendam pembawa petaka

Bab 9 : Balas Dendam Pembawa Petaka

Tidak pernah terpikir dalam benakku bahwa orang yang aku sukai akan membenci diriku. Bahkan, dia berani membentakku dan memarahiku habis-habisan di depan wanita yang paling aku benci satu sekolah.

Aku sangat heran, sebenarnya apa hebatnya wanita itu sampai Rori begitu menyukainya. Bila dibandingkan dengan diriku, dia tidak ada apa apanya. Aku jauh lebih cantik dari dia. Wajahku putih bersih dan aku idola kaum adam di sekolah ini, sementara perempuan bernama Indri itu wajahnya berjerawat, kulitnya hitam, badannya kurus kering, pokoknya penampilannya buruk sekali.

Semua pria di sekolah ini sangat menyukaiku, tapi kenapa Rori justru menyukai wanita sejelek itu.

Coba saja jika Indri tidak sekolah di sini, mungkin Rori hanya akan menyukaiku. Tapi sekarang, dia malah mengucilkan diriku. Bukan Rori saja, seluruh teman sekelas mengucilkanku.

Aku sekarang sendirian dan tidak punya teman, bahkan teman-teman satu gengku ikut menjauhi diriku juga. Aku pikir mereka semua adalah teman terbaikku, tapi aku salah.
Mereka hanya mau berteman denganku karena kepopuleranku saja. Di kala aku sedang susah begini, mereka malah pergi menjauh dariku.

“Ini semua gara-gara Indri. Karena dia, aku jadi kehilangan teman-temanku. Aku tidak terima dengan semua ini. Aku harus membalas semua perbuatannya padaku. Akan aku balas kau wanita payah.”

Aku mengunci diriku di kamar mandi sewaktu jam istirahat, ketika aku sibuk meluapkan semua emosiku, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dari luar kamar mandi.
“Tok tok tok.”

“Siapa sih? Gak tahu apa di sini lagi ada orang,” aku berteriak keras sambil menggebrak pintu dari dalam toilet.

“Hei, cepat keluar. Di sini antriannya sudah panjang. Kamu pikir ini kamar mandi punya nenekmu apa!” jawab orang itu marah.

Suara orang yang berada di luar kamar mandi itu seperti tidak asing bagiku. Untuk menjawab rasa penasaranku, aku pun membuka pintu kamar mandi perlahan. Dan ternyata yang aku dapati adalah dia.

BACA JUGA :   Sejarah Nasi Jamblang yang Melegenda, Berawal dari Sedekah untuk Para Pekerja hingga Jadi Ikon Kuliner Cirebon

“Indriiii!” teriakku keras sembari menatapnya tajam.
Kulangkahkan kakiku maju ke hadapannya, dan kemudian aku dorong dia ke lantai.

“Hei, kenapa kau mendorong temanku?” seru salah satu temannya Indri.

“Apa kau bilang, seharusnya aku yang bertanya, kenapa dia menghancurkan hidupku?” kataku dengan nada membentak.

“Sudahlah Sofi, wanita ini sepertinya tidak waras, kita cari kamar mandi yang lain saja. Aku bosan berurusan dengan dia. Ayo kita pergi,” ujar Indri kesal.

“Kamu tidak apa-apa kan? Tidak ada yang luka kan?” tanya teman satunya lagi.

“Nggak, aku nggak apa-apa kok, Rida. Cuma rokku saja yang basah. Sudah yuk, kita tinggalkan dia.”

Indri dan kedua temannya pergi meninggalkanku sendirian di kamar mandi. Tidak terima dengan sikap acuhnya itu, aku pun langsung menarik tangan kirinya.

“Lepaskan tanganku! Apa yang kamu mau dariku?” kata Indri marah.

“Aku, Aku mau balas dendam kepadamu,” aku menyalakan keran kemudian mencipratkan air ke wajahnya. Aku sangat senang bisa melakukan hal itu kepadanya.

“Hei, hentikan, aku bilang hentikan!” Indri berusaha membalasku, tapi ia tidak bisa melakukannya karena matanya kemasukan air.

Aku terus menyiramkan air ke wajahnya hingga baju olahraganya basah kuyup. Aku sangat puas, benar-benar puas. Tapi, tidak lama kemudian kakiku tiba-tiba terpeleset.

“Aduh, kakiku. Auuuuu, sakit banget. Ini semua karena kau Indri!” teriakku kesal.

“Kenapa kau jadi menyalahkan aku. Aku tidak berbuat apa-apa padamu, kau jatuh karena kecerobohanmu sendiri. Rasakan itu, senjata makan tuan. Makanya jangan suka gangguin orang. Sudah Sofi, tidak usah membantu wanita jahat ini. Sebaiknya kita segera ganti seragam keburu kelasnya Bu Ani dimulai,” ejek Indri kepadaku.

“Kamu benar Indri, untuk apa aku menolongnya. Kamu, bisa kan bangun sendiri,” salah satu temannya tadi mencoba membantuku berdiri, tapi setelah itu dia malah menjatuhkanku ke lantai lagi.

BACA JUGA :   Spoiler Kasih Abadi BAB 4

Hari ini benar-benar hari yang menyebalkan bagiku, sudah dimarahi Rori, dikucilkan semua temanku, ditambah lagi aku harus mendengar ejekan wanita jelek ini. Mungkin hari ini dia bisa bersenang-senang di atas penderitaanku, tapi lihat saja nanti, akan kubuat hari-harinya di sekolah ini bagaikan di neraka.

“Sekarang, bagaimana caranya aku kembali ke kelas?” gumamku dalam hati.

Aku mencoba melihat keluar pintu, siapa tahu ada salah satu teman sekelasku yang bersedia membantuku. Dan aku sungguh beruntung, aku melihat Rori tengah berjalan sendirian. Aku pun langsung berteriak memanggilnya.
“Roriiiiiiiiiii!”

Akhirnya dia memalingkan wajahnya kepadaku.
“Apa, kenapa kau memanggilku?” tanya Rori judes.

“Kumohon, bantu aku berdiri. Aku tidak bisa berdiri, kakiku terkilir. Kemarilah dan cepat bantu aku. Aku mohon padamu, Rori.”

“Kau sudah tidak waras menyuruhku masuk ke toilet perempuan. Yang benar saja, aku tidak mau. Itu pasti cuma akal licikmu saja kan?”

“Tidak, kakiku benar-benar sakit. Ayolah Rori, bantu aku. Di sini tidak ada yang bisa aku minta bantuan selain dirimu. Aku mohon!”

Rori pun tak bisa berkutik lagi, ia akhirnya masuk ke dalam toilet dan membantuku berdiri. Aku seperti baru ketiban durian runtuh, mimpi apaan aku semalam bisa berduaan di kamar mandi bareng Rori.

“Sudah, jalan saja ke kelas sendirian, aku harus ke perpustakaan,” seru Rori ketusnya.

“Kau tidak lihat jalanku pincang kayak gini. Antar aku sampai ke kelas dong, kalau aku jatuh nanti gimana? Kamu mau tanggung jawab?”

“Ya baiklah, dasar kau ini, merepotkan orang saja.”
Aku pikir dia akan menuntunku berjalan, eh nggak dia malah menggendongku. Walaupun wajahnya terlihat agak kesal, dia tetap menggendongku dengan hati-hati. Aku sangat menikmati momen-momen kebersamaan ini. Tapi mendadak Indri dan kedua temannya lewat di samping kami. Mereka bertiga berjalan sambil membicarakan insiden di kamar mandi tadi.

BACA JUGA :   Cerpen Harapan Untuk Waktu yang Hilang

“lihat nih Indri, gara-gara si Ira baju olahragaku jadi basah, wanita itu kenapa sih kok benci banget sama kamu?” tanya Rida kepada Indri.

“Aku sendiri juga nggak tahu, mungkin dia ngefans sama aku,” jawab Indri bercanda.

“Ya ampun Indri, tanganmu sampai memar kayak gini. Tega banget sih si Ira itu. Dia itu cantik, tapi hatinya jahat. Kita ke UKS ya?” ajak Sofi temannya.

“Nggak usah, lagian ini cuma memar sedikit, besok juga sudah sembuh.”

Mendengar percakapan Indri dan kedua temannya itu, Rori langsung menurunkanku.

“Oh, jadi tadi kamu mencelakai Indri lagi ya. Lebih baik kamu jalan saja sendiri ke kelas, tak sudi aku membantu wanita jahat sepertimu,” ujar Rori kesal.

“Rori, dengarkan penjelasanku dulu. Rori, Rori, Rori!” Dia terus berjalan dan tak menghiraukan panggilanku sama sekali.

Sesampai di kelas, Aku langsung menghampiri Rori di tempat duduknya. Belum sampai aku duduk, dia sudah memalingkan wajahnya dariku.

“Rori, Ira sepertinya mau bicara denganmu,” sahut temannya Dani.

“Biarkan saja, aku malas lihat wajahnya.”

“Memangnya, kali ini dia bikin ulah apa lagi?” tanya Dani sambil menatap sinis ke arahku.

“Seperti biasa, menindas anak yang lemah.”

“Wah Ira, kamu itu sudah dikucilkan oleh teman-temanmu tapi masih belum sadar juga. Aku kasihan sama kamu,” kata-kata Dani begitu menyakiti perasaanku, seandainya saja di kelas tidak ada Rori, mungkin wajahnya sudah aku tampar sampai babak belur.

Daripada aku terus mendengarkan celoteh mereka berdua, aku pun kembali ke tempat dudukku.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/terpeleset-secara-tidak-sengaja-ups-542551/

Baca bab sebelumnya:

Inilah Akibatnya Jika Kamu Berbuat Jahat

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: