Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Inilah Akibatnya Jika Kamu Berbuat Jahat

Inilah Akibatnya Jika Kamu Berbuat Jahat

Bab 8 : Inilah Akibatnya Jika Kamu Berbuat Jahat

Pagi-pagi aku sudah dikejutkan oleh pemandangan yang tak mengenakan mata. Aku melihat perempuan yang aku sukai sedang dirundung oleh teman-teman perempuan sekelasku. Yang lebih membuat hatiku tersayat lagi adalah waktu Ira mau menampar wajahnya.

Untung saja aku bisa memegang tangan Ira tepat waktu, kalau tidak wajahnya Indri akan terluka nanti. Kemarahan dalam diriku bergejolak bagaikan api yang membara, aku langsung membentak Ira dengan kerasnya.

“Hei, kenapa kau mau menamparnya? Apa kesalahannya padamu? Jawab!” Bentakku kepada Ira.

“Aku hanya…,” Ira mencoba membela dirinya, tapi aku langsung menyelanya.

“Sekarang kalian semua pergi dari sini, jangan coba-coba untuk mengganggunya lagi. Kalau nanti aku sampai lihat kejadian ini lagi, aku pastikan kalian akan dikeluarkan dari sekolah.”

Aku sengaja mengancam mereka seperti itu supaya mereka tidak akan berani mengganggu Indri lagi.

“Apa? Jangan, jangan laporkan kami Rori, kami janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon jangan laporkan kepada kepala sekolah ya?”

Aku tahu air mata kesedihannya itu palsu. Sebab, aku sangat mengenal wanita ini. Dia adalah wanita sombong, egois, tukang tipu, dan suka sekali menindas orang yang lemah. Tapi karena aku masih punya hati nurani, aku pun memberikan kesempatan kepadanya.

“Kali ini kau dan teman-temanmu aku bebaskan, sekarang pergi dari hadapanku!” kataku dengan marah.

Mereka semua akhirnya pergi dan aku pun langsung menghampiri Indri untuk mengecek keadaannya.

“Kamu tidak apa-apa kan?

Maafkan teman-temanku ya!”
Bukannya menjawabku, dia malah bersikap cuek dan pergi begitu saja. Aku berharapnya sih dia mengatakan sesuatu apa gitu karena aku sudah menyelamatkannya. Tapi apa yang aku dapat, hanya berupa tatapan mata sinis darinya.

“Bukannya terima kasih, malah pergi gitu aja. Aku tidak mengerti dengan wanita ini. Udah capek-capek beraksi kayak superhero, malah dicuekin. Sifatnya memang sama kayak ibuku. Kenapa ya semua wanita yang ada dalam hidupku sifatnya cuek semua? Mungkin ini sudah nasib hidupku, yang harus aku terima dengan lapang dada,” keluhku dalam hati.

BACA JUGA :   Motivasi Menebar Kebaikan Lewat Menulis

Saat aku hendak pergi meninggalkan gerbang, tiba-tiba aku melihat Indri berjalan ke arahku sambil tertunduk malu.

“Maaf, maafkan aku sudah bersikap cuek tadi,” Seru Indri pelan.

“Iya gak apa-apa, santai aja,” jawabku sembari tersenyum kepadanya

“Terima kasih, tadi kamu sudah menolongku. Sampai jumpa,” Dia mengatakan itu dan kemudian pergi lagi.

Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikapnya itu, tapi aku sangat senang mendapatkan ucapan terima kasih darinya. Aku bagai terbang di atas awan setelah mendengar kata itu terucap dari mulutnya. Kata-katanya itu terus terngiang-ngiang di telingaku dalam perjalanan menuju kelas, sampai-sampai aku tidak mendengar kalau ayahku sedang memanggilku dari pos satpam.

“Rori, Rori, Roriiiiiiii!” aku langsung terbangun dari lamunan karena teriakan ayahku yang kencang bak suara ayam yang sedang berkokok di pagi hari.
Aku pun berlari menuju pos satpam secepatnya.

“Iya, ada apa ayah memanggilku?” tanyaku gugup.

“Kesini kamu!” ujar ayahku dengan ekspresi wajah yang mau marah.

Aku berjalan perlahan ke arahnya sambil menundukkan kepala.

“Kamu anak ayah yang hebat. Ayah bangga sama kamu.”
Aku kira dia mau marah sama aku. Eh, nggak tahunya dia memujiku. Aku merasa heran kenapa ayahku memberikan pujian kepadaku, nggak biasanya dia seperti ini. Supaya tidak penasaran, aku memberanikan diri bertanya kepadanya.

“Tumben, ayah memujiku. Memang apa yang sudah aku perbuat sampai ayah memberikan pujian kepadaku?”

“Ayah tadi melihat semuanya dari pos satpam. Apa yang kamu lakukan itu, sungguh membuat ayah bangga. Apa jangan-jangan wanita itu ya yang kamu sukai, Rori?”

“Enggak, aku hanya menolongnya karena merasa kasihan saja. Ayah sudah berpikir terlalu jauh. Siapa juga yang suka sama Indri.”

BACA JUGA :   Cerita Cintaku : Rahasia yang Tak Bisa Dipendam

Aku keceplosan menyebut namanya di depan Ayahku. Padahal seharusnya aku ingin berpura-pura tidak mengenalnya. Aku takut kalau ayahku sampai tahu nama perempuan yang aku sukai, bisa-bisa dia akan membeberkannya di hadapan semua guru. Tapi sudah terlanjut terucap, apa boleh buat, aku hanya bisa berharap semoga dia tidak mengatakannya kepada siapa pun.

“Kalau nggak suka kenapa bisa tahu namanya. Jangan coba-coba membohongi ayah. Dari wajahmu tuh sudah kelihatan. Apa yang sedang kamu rasakan sekarang, ayah mengerti semuanya. Ayah juga pernah muda sepertimu. Sebenarnya, ayah tidak melarangmu untuk menyukai seorang perempuan. Boleh-boleh saja, karena itu sudah fitrahnya manusia. Suka boleh, tapi pacaran yang tidak boleh. Ingat ini baik-baik. Mengerti?”

“Iya ayah, aku mengerti. Tapi aku mohon, jangan sampai ayah memberi tahu hal ini kepada guru-guru yang lain ya. Dan satu lagi, ayah jangan katakan apa pun ya kepada Indri, pura-pura saja ayah tidak mengenalnya. Aku mohon ya?”

“Iya, jangan khawatir, rahasia ini hanya ada di antara kita berdua saja. Tapi kamu harus ingat nasehat ayah tadi baik-baik, mengerti anak muda?”

“Iya ayah, aku mengerti.”

“Baiklah, ayah pergi sekarang. Kamu segera masuk ke dalam kelas sana, jam pertama mau dimulai.”

Kami berdua pun pergi meninggalkan pos satpam bersama-sama. Aku sangat bersyukur telah menyukai Indri. Berkat dirinya, setelah sekian lama akhirnya aku mendapatkan pujian dari ayahku. Belum pernah aku melihat ayahku tersenyum bahagia kepadaku, baru kali ini aku bisa merasakan senyumnya itu terpancar jelas di wajahnya. Aku hanya bisa berharap, semoga Indri adalah orang yang ditakdirkan Allah untukku.

Kehadirannya membuat hubunganku dan ayahku menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Saat aku masuk ke dalam kelas, perasaan bahagia dalam hatiku seketika sirna setelah melihat wajah Ira. Dia dan teman-temannya menatapku dengan air mata buayanya. Teman baikku Dani, tiba-tiba saja datang menghampiriku dan menggebrak mejaku tanpa alasan yang jelas.

BACA JUGA :   Teks Dialog : Si Gajah yang Baik Hati

“Dani, kamu kenapa?”

“Aku kenapa? Justru kamu yang kenapa? Kenapa kamu tega membentak Ira, ditambah lagi kau mengancamnya akan mengeluarkan dia dari sekolah ini. Memangnya ini sekolah milik keluargamu apa. Jangan mentang-mentang karena ayahmu seorang guru yang paling dihormati di sekolah ini, terus kamu bisa berbuat sesuka hatimu begitu.”

“Wanita itu pasti mempengaruhi pikiranmu dengan kata-kata dustanya kan! Memang benar aku mengancamnya seperti itu, tapi aku tidak seburuk apa yang kau duga, Dani.”

“Ira tidak berkata dusta, tapi kaulah yang suka berdusta, Rori!”

“Matamu sepertinya sudah dibutakan oleh kecantikan perempuan itu, hingga kau sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Aku membentak Ira, karena dia tega melakukan perundungan di sekolah ini. Pas aku tiba di sekolah tadi, aku melihat dirinya mau menampar seorang gadis lemah yang tengah sendirian. Untungnya aku berhasil menghentikan perbuatan kejinya itu, kalau tidak, nama sekolah kita pasti sudah tercemar gara-gara dia. Kalau kalian masih tidak percaya kepadaku, tanyakan saja kepada ayahku. Dia adalah saksi dari kejadian ini.”

Dani dan anak laki-laki lainnya keluar dari kelas untuk menemui ayahku dan mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Beberapa menit kemudian mereka kembali, pandangan mata semua anak laki-laki menatap sinis kepada Ira dan teman-temannya.

“Dasar pembohong, kalian berenam itu memang jahat,” ledek Dani.

“Huh, beraninya keroyokan,” teriak salah satu anak laki-laki lainnya.

Setelah terbukti bahwa yang berbohong itu adalah Ira, sekejap sikap semua anak laki-laki di kelas langsung berubah. Yang tadinya membela, sekarang malah menjauhinya.

Bahkan sahabatku Dani yang dulunya naksir berat, sekarang malah menjadi orang nomor satu yang membenci Ira.

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/photos/melihat-tidak-ada-kejahatan-3444212/

Baca juga Bab sebelumnya:

Cerita Cintaku : Rahasia yang Tak Bisa Dipendam

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: