Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Yang Bertanya, Yang Bertindak

Seperti biasa beberapa menit sebelum jam masuk kantor, Delia sudah ada di ruang kerjanya. Hari ini ada seleksi karyawan dan tugasnya sebagai pimpinan di bagian HRD menuntutnya untuk mempersiapkan dan memastikan seleksi tersebut bisa terlaksana dengan baik.

Satu persatu staffnya sudah berdatangan, setelah memastikan semua staffnya sudah datang Delia kemudian memberikan instruksi agar para staff tersebut berkumpul.

“Kita meeting singkat dulu!.”

Delia hanya memberikan arahan singkat ke para staffnya untuk bekerja secara jujur dalam menyeleksi, dia tidak mau reputasinya sebagai pimpinan HRD tercoreng karena perbuatan yang kurang elok dari salah satu anggotanya.

Tak lama kemudian para staff tersebut mulai menempati posisinya masing-masing. Sejumlah pelamar tampak mulai berdatangan, petugas keamanan mengatur para pelamar tersebut untuk antri dengan tertib serta membantu memberikan informasi jika ada persyaratan yang belum dipahami oleh para pelamar tersebut.

Dari jauh Delia mengawasi proses seleksi tersebut. Pesan singkat dari manajer personalia memintanya untuk memastikan karyawan yang lulus seleksi betul-betul mengikuti semua proses seleksi, dan tak ada jalan pintas. Meskipun ia sudah menegaskan hal tersebut saat meeting tadi, namun ia harus tetap berada disitu untuk mengawasi.

Tak terasa waktu sudah berjalan satu jam, beberapa pelamar juga sudah mengikuti proses seleksi yang dipandu oleh staff HRD. Tersisa tinggal tiga orang pelamar lagi yang menunggu giliran.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh yang membuat Delia sedikit terperangah, ia segera mencari sumber kegaduhan. Delia melihat seorang petugas keamanan memegang erat tangan seorang pelamar wanita ke belakang, dengan sigap Delia menuju ke tempat tersebut.

“Ada apa ini?.” Tanya Delia sambil menatap tajam ke arah petugas keamanan. Ia sedikit tidak respek terhadap cara petugas keamanan tersebut memegang wanita tersebut.

BACA JUGA :   Persahabatan yang Hancur

“Ini Bu Delia, wanita ini mencoba membuat ribut disini.” Kata petugas keamanan tersebut sambil tetap menekan erat tangan wanita tersebut kebelakang, Delia melihat wanita itu meringis menahan sakit.

“Lepaskan dia!.” Perintah Delia tegas.

“Tapi Bu…?.” Petugas keamanan tersebut mencoba menawar perintah itu.

“Lepaskan kataku!.” Kali ini Delia mengeluarkan suara lebih tegas.

Dengan sedikit kecewa, petugas keamanan tersebut melepaskan wanita yang sedari tadi ia bekap erat. Delia kemudian membantu wanita itu merapikan pakaiannya.

“Siapa namamu?.” Tanya Delia ke wanita itu.

“Nama saya Victoria, anda pimpinan disini?.” Tanya wanita itu ke Delia.

“Iya bisa dibilang begitu, kenapa anda membuat kegaduhan?.” Tanya Delia kembali.

“Saya tidak ada niat membuat kegaduhan, tapi saya hanya bertanya sesuatu ke staff yang menyeleksi saya. Tapi ia kemudian menuduh saya ingin mengacau.” Victoria kemudian memungut beberapa berkas yang masih berceceran di lantai.

Delia melirik ke arah staff yang berdiri disampingnya. 

“Kamu yang menyeleksi pelamar ini, kan?.” Tanya Delia penuh selidik.

“I…iyaa…Bu.” jawab staff tersebut dengan gugup.

“Pelamar ini bertanya apa ke kamu?.” Kali ini Delia mendekatkan diri lebih mengancam.

“Anu Bu…dia bertanya…kenapa dia tidak diterima?.”

“Anda bohong!.” Suara keras Victoria meraung segera memotong jawaban staff tersebut. Delia kemudian memberi kode ke Victoria untuk lebih tenang, sepertinya ada yang salah disini. Ia tak yakin staffnya tersebut berkata jujur.

“Kalau begitu Nona Victoria, coba beri tahu aku apa yang anda tanyakan tadi ke staff ini?.” Kali ini Delia langsung mengarahkan pandangannya ke Victoria.

“Saya hanya bertanya, kenapa setiap pelamar yang diseleksi di meja staff ibu ini selalu memberikan amplop setelah selesai mengikuti proses seleksi? Apakah itu sudah prosedur yang berlaku disini?.” Dengan tenang dan lancar Victoria menjelaskan apa yang ditanyakannya tadi.

BACA JUGA :   Cerpen : Pertemuan Takdir yang Aneh

Amplop? Amplop untuk apa? Tanpa menunggu lebih lama lagi, Delia langsung menuju ke arah meja staff tersebut. Wajah staffnya itu langsung memucat ketika tangan Delia langsung menyusup ke bagian tengah meja tersebut dan langsung menemukan tujuh buah amplop tebal.

“Anda saya pecat!.” Tanpa memandang lagi Delia langsung mengeluarkan keputusannya, ia kemudian mengambil daftar pelamar yang telah diseleksi dari meja tersebut.

“Semua pelamar ini harus dicoret, dan kembalikan uang mereka.” Perintah Delia dengan suara tegas.

Sebelum Delia kembali ke tempatnya semula ia kemudian memandang sejenak ke Victoria, lalu berkata.

“Terima kasih karena anda telah membantu saya mengungkapkan praktek curang yang berlangsung saat ini, tapi anda tetap harus mengikuti proses seleksi.” 

Delia kemudian mengatur ulang kembali proses seleksi yang berlangsung. Staff yang berlaku curang tadi telah dibawa keluar oleh petugas keamanan. Sementara Victoria menatap setiap gerak-gerik Delia dengan kagum, ia berharap jika ia diterima bekerja bisa ditempatkan dibagian yang dipimpin oleh Delia.

Ram Tadangjapi (8)

Seorang pria yang terjebak dalam kata, terpenjara rindu dalam pelukan dosa.
Silahkan interpretasi sendiri!.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: