Oktober 26, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Lukisan Senja Buana

Asmaraloka sang dayita berbuih menggelora
Agah bertafakur dalam alunan sajaddah cinta
Bahkan deruan anila buana pun menyaksikannya
Namun, apalah serayu asmara yang tak baka

Ketika tiba usia yang telah senja
Satu demi satu kenangan terkikis ditelan masa
Kenangan yang kusimpan rapi, dalam buku sajak cinta
Kini menjadi usang, buram, tak berwarna

Semua menjadi sendu bahkan terlupa
Tertimbun butiran debu, semakin rapuh bahkan menua
Adorasi sukma seolah tak berharga
Menelisik tanya, bagai lukisan hayat fatamorgana

Bukankah setiap insan punya agen senja yang tak sama?
Mungkin saja kau terbenam bersama surya
Sedang aku terbalut oleh putihnya awan adiwarna
Memang gelabah senja tak bisa dipaksa
Adikara Tuhan yang alap akan asrar-Nya

Hayati (8)

Wiji Nurhayati. Dalam dunia sastra, ia sering disapa Hayati. Baginya menulis ialah Hasil refleksi hati yang ditata rapi menjadi untaian kata yang indah serta menarik. Dengan menulis segala curahan hati bisa tersampaikan, maka untuk mendapatkan ketenangan hati ia akan meluapkan segala emosinya dengan terus menulis untuk merangkai bait- bait yang indah dan bermakna.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Terhanyut di Kegelapan
%d blogger menyukai ini: