Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Rahasia yang Tak Bisa Dipendam

Cerita Cintaku: Rahasia yang Tak Bisa Dipendam

Bab 7 : Rahasia yang Tak Bisa Dipendam

Bukannya jera setelah mendapat hukuman, mereka malah mengulangi kesalahan yang sama. Kali ini mereka mencegatku di depan gerbang sekolah bersama temannya yang bernama Ira. Waktu aku datang, Ira memberikan tatapan sinis kepadaku.

“Oh ini anak yang kalian ceritakan kepadaku kemarin. Iya sih, wajahnya biasa banget,” ejek Ira

Mendengar ejekan darinya, mataku melotot tajam kepadanya.

“Apa lihat-lihat!” Bentak Ira.

“Nggak kok, aku cuma kasihan saja sama kamu,” balasku dengan nada agak menyindir.

“Apa kamu bilang?” kata Ira marah.

“Iya, aku kasihan sama kamu. Apakah kamu kurang ya mendapat kasih sayang dari orang tuamu, sehingga kamu harus mengemis perhatian dariku?” sindirku kepada Ira.

“Tau apa kau tentang hidupku, berani sekali anak ini!”

Sangking kesalnya, Ira hampir saja mau melayangkan tangannya ke wajahku. Namun, tiba-tiba saja ada seorang anak laki-laki datang menghentikannya.

“Hei, kenapa kau mau menamparnya? Apa kesalahannya padamu? jawab!” teriak anak laki-laki itu kepada Ira.

“Aku hanya…,” Ira mencoba membela diri, tapi anak laki-laki itu langsung menyela perkataannya.

“Sekarang kalian semua pergi dari sini, jangan coba-coba untuk mengganggunya lagi. Kalau nanti aku sampai lihat kejadian ini lagi, aku pastikan kalian akan dikeluarkan dari sekolah,” sela anak laki-laki itu.

“Apa? Jangan, jangan laporkan kami Rori, kami janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon jangan laporkan kepada kepala sekolah ya?” Ira memohon kepada anak laki-laki itu sambil menyentuh kakinya.

“Kali ini kau dan teman-temanmu aku bebaskan, sekarang pergi dari hadapanku!”

Takut akan kemarahan anak laki-laki itu, Ira dan teman-temannya pun akhirnya pergi dari gerbang. Setelah kepergian mereka, anak laki-laki itu kemudian menghampiriku dengan ekspresi wajah sedih.

“Kamu tidak apa-apa kan? Maafkan teman-temanku ya!”
Aku memalingkan wajahku darinya dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu kata apa pun kepadanya.

BACA JUGA :   Puisi : Api Amarah yang Meluap-luap

“Eh tunggu..!” teriak anak laki-laki itu kepadaku.
Kalau dipikir-pikir lagi, perbuatanku itu sungguh tidak baik. Anak laki-laki itu sudah menolongku tadi, seharusnya aku bilang terima kasih kepadanya, bukannya malah mengacuhkannya. Aku pun membalikkan badan dan berlari menemuinya kembali.

“Maaf, maafkan aku sudah bersikap cuek tadi,” seruku kepada anak laki-laki itu.

“Iya gak apa-apa, santai aja,” sahut anak laki-laki itu dengan senyuman manisnya.

“Terima kasih, tadi kamu sudah menolongku. Sampai jumpa.”

Karena aku gugup dan tidak tahu harus berkata apa lagi, aku pun pergi meninggalkannya.
Wajah dan suara anak laki-laki itu seperti tidak asing bagiku, aku seperti pernah bertemu dengannya beberapa kali, tapi aku lupa entah di mana. Aku terus memikirkannya dalam perjalanan menuju kelas, sampai-sampai kepalaku membentur tiang karena tidak fokus melihat jalan.

“Indri, bangun, sudah siang. Kamu masih ngantuk ya sampai ada tiang di depanmu kamu cium,” ledek Rida sambil tertawa terbahak-bahak.

“Aku udah bangun. Hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu,” jawabku kesal.

“Hayo, lagi mikirin apa? Pasti kamu nglamunin cowok ya?” Rida menggodaku.

“Apaan sih, siapa yang nglamunin cowok. Aku hanya memikirkan…” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku karena Sofi tiba-tiba datang. Kalau sudah ada dia, pasti aku ketahuan bohongnya. Aku pun cepat-cepat masuk ke dalam kelas untuk menghindarinya.

“Rida, ada apa dengan Indri? Kenapa dia lari setelah melihatku?” tanya Sofi curiga.

“Nggak tahu, mungkin wajahmu membuatnya ketakutan. Makanya dia lari saat melihatmu,” ledek Rida.

“Yee, wajahmu tuh yang kayak hantu. Kalau aku kan wajahnya kayak tuan putri. Sana minggir, aku mau masuk,” ujar Sofi kepada Rida.

“Ya ampun Sofi, jalannya kan luas, lewat sebelah kanan kan bisa,” seru Rida kesalnya.

“Maaf, maaf, jangan cemberut gitu dong wajahnya. Senyum, ayo mana senyuman temanku yang manis ini, di mana senyuman itu,” Sofi mencoba menghibur Rida dengan mencubit pipi cabinya.

BACA JUGA :   Belajar Bahasa Inggris: I Know Them

Rida pun tersenyum dengan lucunya, persis seperti boneka bayi. Ketika Sofi melangkahkan kakinya ke tempat dudukku, tiba-tiba saja keringat yang ada di dalam tubuhku mengalir derasnya, tanganku mulai bergetar tak karuan, dan jantungku berdegup sangat kencang.

“Bagaimana ini, Sofi pake kemari lagi. Aku harus memalingkan wajahku darinya. Kalau dia melihat wajahku, dia pasti akan bertanya ini itu. Hah, aku malas menjawab semua pertanyaannya itu. Sebaiknya aku pura-pura tidur,” batinku.

Mendadak, tangan Sofi menepuk punggungku dan aku terkejut dibuatnya.

“Nggak kok, aku lagi nggak mikirin siapapun,” tanpa senagaja mulutku mengucapkan hal itu secara spontan.

“Memangnya kamu lagi mikirin siapa?” tanya Sofi penasaran.
Terpaksa deh aku ceritakan semuanya kepada Sofi, kalau aku jawab bohong, nanti dia tidak akan berhenti untuk menginterogasi diriku. Aku menarik tangannya untuk mengajaknya duduk di bawah meja agar tidak ada siapa pun yang mendengar percakapan kami, termasuk Rida. Sengaja aku rahasiakan ini dari Rida, kalau tidak, dia bisa membocorkannya ke semua teman-teman yang ada di kelas.

“Aku akan menceritakan sesuatu kepadamu, tapi pertama-tama kamu harus janji sama aku nggak akan memberitahukannya kepada Rida atau siapapun,” kataku bisik-bisik di telinganya Sofi.

“Iya, aku janji nggak akan kasih tahu Rida. Cepat ceritakan, jangan buat aku penasaran begini. Siapa orang yang sedang kamu pikirkan, Indri?” Sofi sudah tidak sabar untuk mendengarkan ceritaku.

“Sebenarnya aku tidak mengenal anak laki-laki itu. Tapi, pas aku diganggu oleh segerombolan anak perempuan di gerbang sekolah tadi, dia menolongku bak superhero.”

“Superhero? Maksudnya?” Sofi masih belum mengerti apa yang aku maksud.

“Begini, aku sempat mau di tampar oleh anak perempuan bernama Ira, salah satu anggota dari segerombolan anak perempuan yang menggangguku di gerbang sekolah tadi. Tapi untungnya tangannya tak jadi mengenai wajahku karena dihentikan oleh anak laki-laki itu. Setelah itu, Dia memarahi dan membentaknya habis-habisan, Ira dan teman-temannya sampai ketakutan mendengarnya,” tuturku kepada Sofi lebih terperinci.

BACA JUGA :   Imbalan dari Sang Bidadari

“Tunggu dulu, kenapa Ira dan teman-temannya mengganggumu, apa yang sudah kamu perbuat pada mereka, Indri?”

“Aku tidak berbuat apa-apa pada mereka. Aku juga tidak mengerti kenapa mereka sangat membenciku. Dari kemarin teman-temannya selalu menggangguku, kamu ingat pas jam kosong yang aku habiskan di lapangan basket waktu itu?”

“Iya aku ingat, ada apa memangnya?”

“Pada waktu itu tiba-tiba saja mereka datang menghampiriku dan kemudian mendorongku ke lantai dengan kerasnya. Mereka mencela diriku habis-habisan, dikatain sok cantik lah apa lah. Karena tak tahan mendengar celaan mereka, aku langsung menampar muka mereka satu persatu. Tapi, pas mereka mau balik menamparku, tiba-tiba Pak Zaid datang dan menghentikan pertikaian itu. Awalnya mereka mencoba mengelak dari perbuatannya itu, tapi karena Pak Zaid melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri, akhirnya mereka dihukum membersihkan toilet.”

“Aku masih heran dengan ceritamu ini, kenapa mereka berani berbuat seperti itu kepadamu, pasti ada penyebabnya kan?”

“Entahlah, aku tidak tahu. Pusing mikirin masalah itu. Sudahlah, sebaiknya dilupakan dan fokus belajar saja. Lihat, Bu Ani datang! Sofi, ingat ya, jangan cerita pada siapapun, termasuk Rida. Ini rahasia di antara kita berdua,” aku mengingatkan Sofi lagi agar ia tidak lupa terhadap janjinya.

“Tenang saja, aku nggak akan kasih tahu siapa-siapa kok. Rahasia kamu aman bersamaku,” Sofi pun bergegas menuju tempat duduknya karena jam pelajaran pertama akan segera dimulai.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/cewek-cewek-bisikan-sahabat-muda-914823/

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: