Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Refleksi Diri: Euforia Secukupnya Saja, Jangan Berlebihan

Euforia itu sederhananya perasaan gembira yang amat sangat. Penyebabnya bisa bermacam-macam.
Lulus ujian, diterima kerja atau dapat rizki nomplok. Kalo gitu siapa yang nggak girang hatinya. Sah-sah saja. Asal jangan berlebihan. Secukupnya saja.
Nah minggu-minggu ini kan ada kabar baik. Kasus pandemi covid-19 sudah turun drastis. Angka penularannya sudah di bawah standar WHO. Boleh dong kita gembira? Boleh saja!
Kondisi ini kan berkat masyarakat mau mengkuti anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin. Tentu saja masyarakat boleh menyambutnya dengan penuh kegembiraan.
Mal-mal sudah boleh buka, konser musik dan hajatan warga juga sudah diijinkan. Anak sekolah pun sudah mulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas.
Wajah para murid tampak sumringah. Akhirnya setelah lebih satu setengah tahun rebahan di rumah. Mereka dapat bertemu kembali dengan teman-teman dan guru-gurunya. Betapa tampak riang di wajah mereka.

Tetap Terapkan Prokes
Sudah selayaknya masyarakat menyambut keberhasilan kita memerangi keganasan covid-19. Warga masyarakat begitu antusias menyambut kebijakan pelonggaran PPKM.
Mal-mal mulai didatangi pembeli. Tempat-tempat rekreasi terlihat mulai ada antrian pengunjung. Jalanan pun mulai padat
Akan tetapi masyarakat tidak boleh terlena. Bagaimana pun pandemi covid-19 tetap mengancam. Apalagi di beberapa belahan dunia ditemukan varian baru covid-19.
Covid-19 jenis Delta dan Kaffa penularannya lebih cepat dan masif. Ada varian baru ‘Mu’ yang konon katanya kebal dengan vaksin.
Jadi di samping harus terus disiplin menerapkan protokol kesehatan (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak). Vaksinsi harus tuntas. Baik dosis maupun seluruh lapisan masyarakat.
Tujuannya adalah untuk membentuk kekebalan seluruh anggota masyarakat. Jangan sampai hanya karena satu orang tidak mau vaksin. Kemudian memunculkan kasus pandemi covid-19 baru.
Sudah sepatutnya setiap anggota masyarakat untuk saling mengingatkan. Demi untuk kepentingan bersama. Jangan merasa sungkan atau perasaan tidak enak. Manakala harus mengingatkan salah seorang warga yang tidak menjalankan protokol kesehatan.
Yang masih rentan adalah kesadaran untuk menjaga jarak dan tidak melakukan kerumunan. Sudah menjadi jamak kalau sudah ngumpul. Suka lupa diri.
Jadi harus saling mengingatkan. Untuk tidak berlebihan dalam menyambut menurunnya kasus positif covid-19.
Semoga.

BACA JUGA :   Alasan Irfan Jaya Tinggalkan Persebaya dan Bela PS Sleman

Mas Sam

MasSam (61)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: